Ditulis pada MeiebTue, 06 May 2008 16:13:40 +0000upmTue, 06 May 2008 16:13:40 +000013 11, 2007 oleh Salafy
Konsep tauhid rancu tersebut ternyata dijadikan tolok ukur oleh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang mengaku paling paham konsep tauhid pasca Nabi- sebagai neraca kebenaran, keislaman dan keimanan seseorang sehingga dapat menvonis kafir bahkan musyrik setiap ulama (apalagi orang awam) yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Dia pernah menyatakan: “Derajat kesyirikan kaum kafir Quraisy tidak jauh berbeda dengan mayoritas masyarakat sekarang ini” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 120). Bid’ah dan kebiasaan buruk Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi semacam ini yang hingga saat ini ditaklidi dan dilestarikan oleh pengikut Wahabisme, tidak terkecuali di Tanah Air.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Pengkafiran Wahhaby | Tidak ada komentar »
Ditulis pada AprilebSat, 05 Apr 2008 16:02:59 +0000upmSat, 05 Apr 2008 16:02:59 +000002 11, 2007 oleh Salafy
Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab –konon Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hambal sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut disesatkan. Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar manhaj-nya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila. Kita akan melihat beberapa contoh dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Pengkafiran Wahhaby | 36 Komentar »
Ditulis pada AprilebTue, 01 Apr 2008 19:18:09 +0000upmTue, 01 Apr 2008 19:18:09 +000018 11, 2007 oleh Salafy

Kali ini, kita akan menjadikan buku karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Hambali an-Najdi yang berjudul “Ad-Durar as-Saniyah” sebagai rujukan kita. Dalam kitab tersebut, penulis menjelaskan beberapa redaksi langsung dari Ibnu Abdul Wahhab yang dengan jelas dan gamblang membuktikan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah mengkafirkan banyak dari kaum muslimin, yang tidak sepaham dengan pemikirannya.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Pengkafiran Wahhaby | 24 Komentar »
Ditulis pada MaretebSun, 16 Mar 2008 00:31:43 +0000uamSun, 16 Mar 2008 00:31:43 +000031 11, 2007 oleh Salafy
Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh sekte Wahabi, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus dalam menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahaby yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin.
Untuk mempersingkat, kita akan ambil beberapa problem yang sering mereka ungkapkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris Wahaby yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani dalam bukunya yang berjudul: “At-Tabarruk Al-Masyru’”.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 26 Komentar »
Ditulis pada FebruariebMon, 04 Feb 2008 10:34:46 +0000uamMon, 04 Feb 2008 10:34:46 +000034 11, 2007 oleh Salafy
Lebih kasihan lagi Ibnu Taimiyah, betapa tidak, pengantar jenazahnya terdiri dari orang-orang musyrik dan ahli bid’ah (versi Wahabisme). Lantas mana kaum muslim monoteis (muwahhid) yang mengantar jenazah syeikh yang konon adalah pengikut salaf saleh, penyebar tauhid, anti bid’ah dan syirik yang ajarannya kemudian dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab itu? Ataukah fatwa sesat bertabarruk itu hanya berlaku bagi selain pengikut Ibnu Taimiyah saja, sehingga bertabarruk dari jenazahnya –yang kata para ulama Wahabisme yang lantas ditaklidi oleh para pengikut awam sekte Wahabisme, “tidak memberikan manfaat ataupun madharat”- diperbolehkan, bahkan dianjurkan? Kembali pertanyaan ini dapat dimunculkan; mana konsistensi para pengikut sekte Wahabisme terhadap akidahnya?
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 24 Komentar »
Ditulis pada JanuariebTue, 29 Jan 2008 13:11:27 +0000upmTue, 29 Jan 2008 13:11:27 +000011 11, 2007 oleh Salafy
Yang lebih aneh lagi, kenapa sewaktu Ibnu Taimiyah dikala mendengar bahwa Imam Ahmad berfatwa dalam membolehkan tabarruk terhadap kuburan Rasul dan bahkan beliau sendiri bertabarruk dari perasan cucian baju Imam Syafi’i, ia hanya mengatakan: “Aku heran dengan Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya”? Kenapa ia tidak mengatakan: “Imam Ahmad telah melakukan bid’ah atau syirik. Ia adalah ahli bid’ah dan musyrik yang ajarannya harus dijauhi bahkan diperangi dan darah serta hartanya halal!”.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 7 Komentar »
Ditulis pada JanuariebTue, 29 Jan 2008 10:46:50 +0000uamTue, 29 Jan 2008 10:46:50 +000046 11, 2007 oleh Salafy
Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang saleh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya. Baik tabarruk dari diri orang Saleh dan Takwa tersebut, ataupun doanya, maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak saleh dan takwa, apalagi obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi (karena dinisbahkan kepada manusia saleh dan bertakwa, kekasih Ilahi) maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita. Seperti obyek-obyek yang dianggap sakral oleh orang-orang kejawen yang ‘konon’ beragama Islam (Islam KTP). Dan teks-teks agama Islam pun akan berlepastangan dari obyek-obyek semacam itu.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 3 Komentar »
Ditulis pada JanuariebThu, 10 Jan 2008 13:19:34 +0000upmThu, 10 Jan 2008 13:19:34 +000019 11, 2007 oleh Salafy
Apakah kaum Wahaby memiliki keberanian untuk menyatakan bahwa para sahabat mulia Rasul yang telah bertabarruk (mencari berkah) terhadap kuburan Rasul lantas menjuluki mereka sebagai “para penyembah kubur” (Kuburiyuun), sebagaimana istilah ini sering diberikan kepada kaum muslimin yang suka mengambil berkah dari kubur Nabi dan para manusia kekasih Allah (Waliyullah) lainnya? Kalaulah secara esensial pengambilan berkah dari kubur adalah perbuatan syirik maka setiap pelakunya harus diberi titel musyrik, tidak peduli sahabat Rasul ataupun orang awam biasa. Jika tidak, ini sebagai bukti bahwa mereka (Wahaby) tidak konsekuen dan konsisten dengan doktrin ajaran sektenya yang masih sarat dengan kerancuan itu. Mana konsistensi mereka terhadap ajaran mereka (Wahabisme) yang mengharamkan pengambilan berkah terhadap kubur, jika mereka merasa benar sendiri? Buktikanlah wahai pengikut sekte yang mengaku paling monoteis (muwahhid)!!!
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 29 Komentar »
Ditulis pada JanuariebSun, 06 Jan 2008 16:38:20 +0000upmSun, 06 Jan 2008 16:38:20 +000038 11, 2007 oleh Salafy
Dan ternyata, sayangnya, kebiasaan buruk (sunnah sayyi’ah) itu masih terus dilestarikan oleh para pengikut setia dan orang-orang yang taklid buta terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengatasnamakan diri sebagai Salafy, bahkan mengaku sebagai Ahlusunah wal Jamaah. Jikalau sekte sempalan ini tidak mendapat dukungan dana, kekuatan militer dan perlindungan penuh dari negara kaya minyak seperti Saudi niscaya nasibnya akan sama dengan nasib sekte-sekte sempalan lainnya, binasa. Awalnya, sekte ini tidak jauh berbeda dengan sekte seperti al-Qiyadah al-Islamiyah yang baru-baru ini dinyatakan sesat oleh para ulama di Indonesia.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Pengkafiran Wahhaby | 39 Komentar »
Ditulis pada DesemberebTue, 25 Dec 2007 21:46:16 +0000upmTue, 25 Dec 2007 21:46:16 +000046 11, 2007 oleh Salafy
Jika kitab “As-Showa’iq al-Ilahiyah fi Mazhab al-Wahhabiyah” adalah merupakan surat teguran Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab terhadap adiknya (Muhammad bin Abdul Wahhab) secara langsung, namun kitab kedua beliau; “Fashlul Khitab fi Mazhab Muhammad bin Abdul Wahhab” adalah surat yang ditujukan kepada “Hasan bin ‘Idan”, salah satu sahabat dan pendukung setia nan fanatik Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahabisme). Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang keduanya berfungsi sama, mengkritisi ajaran Wahabisme, walaupun keduanya berbeda dari sisi obyek yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau tadi. Karena ada dua buku dengan dua judul yang berbeda.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 26 Komentar »
Ditulis pada DesemberebTue, 25 Dec 2007 21:39:42 +0000upmTue, 25 Dec 2007 21:39:42 +000039 11, 2007 oleh Salafy

Apakah ini merupakan satu pertanda akan berakhirnya koalisi antara ulama Wahabisme (pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, Sang pengkafir kaum muslimin) dengan keluarga besar kerajaan Arab Saudi (dari klan Saud)? Hanya para petinggi kerajaan Saudi Arabia yang dapat menekan para rohaniawan Wahhaby agar menghormati para peziarah kota Mekkah dan Madinah, dari madzhab Islam manapun mereka. Dan terus menekan ulama Wahaby itu untuk menghormati para penganut mazhab dan aliran lain, selain Wahabisme. Kita akan lihat saja nanti, sampai dimana konflik antara kerajaan Saudi Arabia dan ulama Wahabisme akan terus berlangsung. Sampai dimana pengaruh raja Abdullah? Apakah ia mampu membungkam mulut para ulama Wahhaby itu ataukah justru raja Abdullah yang harus terjungkal dari tahta kerajaannya?
Read more »
DIarsipkan di bawah: Serba-Serbi | 46 Komentar »
Ditulis pada NopemberebSun, 25 Nov 2007 13:19:01 +0000upmSun, 25 Nov 2007 13:19:01 +000019 11, 2007 oleh Salafy
Para ulama Wahhaby sepakat bahwa kitab karyanya (risalah) yang ditulis untuk menasehati adiknya itu diharamkan untuk dicetak dan dibaca. Buku itu digolongkan sebagai buku sesat, karena ia telah mengkritisi akidah adiknya yang dianggapnya telah keluar dari kesepakatan kaum muslimin. Orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Arab Saudi, terkhusus yang mengikuti ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahhaby) akan tahu betapa bencinya para ulama Wahaby terhadap pribadi Sulaiman bin Abdul Wahhab.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 13 Komentar »
Ditulis pada NopemberebFri, 09 Nov 2007 16:42:28 +0000upmFri, 09 Nov 2007 16:42:28 +000042 11, 2007 oleh Salafy
Pertama kali pribadi yang menyebut ajaran sekte sempalan yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab dengan sebutan Wahhaby adalah saudara tua sekandungnya, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab yang selalu mencoba meluruskan pemahaman adiknya yang salah-kaprah tentang Islam dan ajaran Salaf Saleh. Sebuah surat (risalah) panjang beliau tulis untuk adiknya yang kemudian dibukukan (baca: dicetak)…
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 65 Komentar »
Ditulis pada NopemberebFri, 02 Nov 2007 17:04:17 +0000upmFri, 02 Nov 2007 17:04:17 +000004 11, 2007 oleh Salafy

Masjid dan Makam Suci Nabi
Jika apa yang dimiliki Rasul sama dengan milik kebanyakan orang, lantas kenapa dia meminta kain Rasul untuk mendapat ketentraman (isti’nas)? Dan buat apa air bekas siraman kepala Rasul itu disimpan dan bahkan dijadikan sarana permohonan kesembuhan? Jika itu semua masuk ketegori syirik, maka dari sekarang, selayaknya kaum Salafy tidak lagi mengaku sebagai penghidup ajaran dan manhaj Salaf Saleh, tetapi penghidup ajaran Khalaf Thaleh (lawan Salaf Saleh).
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 3 Komentar »
Ditulis pada SeptemberebWed, 12 Sep 2007 15:56:30 +0000upmWed, 12 Sep 2007 15:56:30 +000056 11, 2007 oleh Salafy

Kita bisa bayangkan, jika makam Salaf Saleh diperlakukan semacam itu oleh mereka (Salafy gadungan yang pada hakekatnya adalah Wahaby) yang kini telah berkuasa, lantas bagaimana nasib makam para Wali Sanga dan para kekasih (wali) Allah lain -baik di jawa ataupun di luar jawa- di Indonesia jika mereka berkuasa di Tanah Air? Tentu akan lebih parah dari apa yang mereka lakukan terhadap kuburan para sahabat-sahabat mulia Nabi.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Kuburan Muslim | 46 Komentar »
Ditulis pada JuliebSat, 28 Jul 2007 18:47:38 +0000upmSat, 28 Jul 2007 18:47:38 +000047 11, 2007 oleh Salafy

Seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian dalam dirinya meskipun ia tidak pernah menggembar-gemborkan pengakuan bahwa ia seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak para al-Salaf al-Shalih, dan –menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering berhenti pada taraf pengakuan belaka. Jakfar Umar Thalib (eks panglima Laskar Jihad) dalam pengakuan akan kesalahannya mengatakan: “Sayapun sempat menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bid’ah dan harus disikapi sebagai Ahlul Bid’ah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan apa yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama’ tersebut di atas tentang sikap Ahlul Bid’ah. Saya sangka Ahlul Bid’ah itu ialah semua orang yang menjalankan bid’ah secara mutlak…”
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 108 Komentar »
Ditulis pada JuliebMon, 23 Jul 2007 17:48:23 +0000upmMon, 23 Jul 2007 17:48:23 +000048 11, 2007 oleh Salafy

Sekalipun berganti-ganti nama, ada satu ciri khas yang tidak akan bisa mereka ubah: pengkafiran terhadap salah satu kelompok di dalam tubuh umat. Ciri-khas ini sebenarnya adalah konsekuensi alamiah dari kerancuan berpikir dan kesempitan pandangan mereka tentang Islam, bahkan tentang Tuhan, manusia dan alam semesta. Mengkafirkan kelompok lain adalah raison d’etat bagi ajaran mereka. Tanpa ciri ini mereka tidak akan mempunyai sensasi atau keunggulan apapun dari mazhab-mazhab lain dalam Islam. Dan cara paling mudah untuk berkuasa di tengah umat adalah menciptakan gesekan dan perpecahan di tengah umat Islam, sehingga umat akan sibuk bertikai. Pada saat itu, mereka akan dengan mudah melakukan rekrutmen, membangun jaringan, menghancurkan landasan legitimasi tradisional, merangsek ke pusat-pusat kekuasaan sosial, politik dan ekonomi.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 79 Komentar »
Ditulis pada JuliebThu, 12 Jul 2007 09:29:12 +0000uamThu, 12 Jul 2007 09:29:12 +000029 11, 2007 oleh Salafy
Salafush-shalih adalah para sahabat RA dan siapa saja yang mengikuti cara dan jalan mereka di antara para tabi’in yang mengikuti mereka pada tiga abad masa Islam yang pertama, yang telah disaksikan kebaikan mereka. Namun tidak ada satu pun nash yang membolehkan kita memutlakkan diri sendiri sebagai yang paling salafi, karena sifat-sifat kita belum teruji. Misalnya dengan membuat Yayasan Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, Ihya as-Salafi, dan Daarus-Salafi belum tentu salafi…. Oleh karenanya dimanapun kelompok Salafy muncul maka di situ pasti akan muncul pertikaian di antara kaum muslimin, akibat kekakuan ajaran mereka.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 49 Komentar »
Ditulis pada JuniebWed, 27 Jun 2007 02:36:20 +0000uamWed, 27 Jun 2007 02:36:20 +000036 11, 2007 oleh Salafy
Kita bisa bayangkan, bagaimana perlakuan kelompok yang mengaku Salafy itu terhadap kelompok muslim Ahlusunah wal Jamaah yang sedikitpun tidak terdapat corak Wahabisme dalam akidah mereka, tentu akan lebih menyakitkan lagi cara ‘pengkafiran’ mereka. Dari sini para pengikut Ahlusunah wal Jamaah di Tanah Air harus lebih waspada terhadap gerakan ‘kelompok pengkafiran’ (Jamaah Takfiriyah) tersebut.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 75 Komentar »
Ditulis pada JuniebThu, 21 Jun 2007 17:10:35 +0000upmThu, 21 Jun 2007 17:10:35 +000010 11, 2007 oleh Salafy
Jika rambut Rasul seperti rambut kebanyakan orang lantas kenapa para Salaf Saleh mengharapkannya, dan bahkan menghendaki rambut itu dikubur bersamanya sewaktu meninggal dunia? Apakah itu juga tergolong perbuatan syirik? Benarkah Salaf Saleh melakukan kesyirikan? Ini yang harus dijawab oleh kaum Wahabi.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 46 Komentar »
Ditulis pada MeiebThu, 24 May 2007 10:51:52 +0000uamThu, 24 May 2007 10:51:52 +000051 11, 2007 oleh Salafy
Jika sebagian ulama Ahlusunnah telah menyatakan, akibat kebencian Ibnu Taimiyah terhadap Ali dengan ungkapan-ungkapannya yang cenderung melecehkan sahabat besar tersebut sehingga ia disebut nashibi (pembenci keluarga Nabi .red), lantas jika dikaitkan dengan tiga hadis di atas tadi yang menyatakan bahwa kebencian terhadap Ali adalah bukti kemunafikan, maka apakah layak bagi seorang munafik yang nashibi digelari ‘Syeikh al-Islam’? Ataukah pribadi semacam itu justru lebih layak jika disebut sebagai ‘Syeikh al-Munafikin’ atau ‘Syeikh an-Nawashib’ (jamak dari Nashibi)? Jawabnya, tergantung pada cara kita dalam mengambil benang merah dari konsekuensi antara ungkapan beberapa ulama Ahlusunnah dan beberapa hadis sahih yang telah disebutkan di atas tadi. Dan lebih aneh lagi, para pengikut Ibnu Taimiyah yang juga ikut-ikutan mengatasnamakan dirinya “penghidup ajaran Salaf” (Salafy/Wahaby), masih terus bersikeras untuk diakui sebagai pengikut Ahlussunah, padahal di sisi lain, mereka masih terus menjunjung tinggi ajaran dan doktrin Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas telah keluar dari kesepakatan (ijma’/konsensus) ulama Ahlussunah beserta “ajaran resmi” Ahlussunah wal Jamaah.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 101 Komentar »
Ditulis pada MeiebWed, 23 May 2007 14:03:22 +0000upmWed, 23 May 2007 14:03:22 +000003 11, 2007 oleh Salafy
Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat, dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia menyebarkan keragu-keraguan atas kekhalifahan Ali. Tentu saja, metode yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu; dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat tokoh-tokoh salaf saleh.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 34 Komentar »
Ditulis pada MeiebTue, 22 May 2007 18:56:51 +0000upmTue, 22 May 2007 18:56:51 +000056 11, 2007 oleh Salafy
Para sahabat mulia nabi yang tergolong Salaf Saleh mereka telah mengambil berkah dari Nabi dengan menyentuh tubuh (jasad) Rasul, mencium tangan beliau, meminum sisa minuman beliau, mengambil sisa air wudhu, memunguti rambut beliau, meminta berkah dari Rasul untuk bayi-bayi mereka dan lain sebagainya. Imam al-Muslim dalam kitab Shohih al-Muslim jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Saleh dalam mengambil berkah Rasul untuk anak-anak mereka. Apakah sampai sini kaum Salafy masih tetap memaksakan diri untuk mengatakan bahwa bertabaruk kepada pribadi mulia dan pemilik keutamaan sedang ia masih hidup adalah sesuatu yang masuk kategori Syirik atau Bid’ah? Mungkinkah para Salaf Saleh (sahabat Rasul) semua tadi adalah pelaku syirik dan bid’ah? Mungkinkah Rasul membiarkan bahkan meridhoi para sahabatnya melakukan syirik dan bid’ah?
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 17 Komentar »
Ditulis pada MeiebTue, 22 May 2007 13:47:28 +0000upmTue, 22 May 2007 13:47:28 +000047 11, 2007 oleh Salafy
Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa’i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: “Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada”.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 65 Komentar »
Ditulis pada MeiebMon, 21 May 2007 12:43:23 +0000upmMon, 21 May 2007 12:43:23 +000043 11, 2007 oleh Salafy
Tentu sangat mudah bagi Allah untuk mengembalikan penglihatan Nabi Yakqub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi sarana Allah swt memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan doa, pensyafaatan dalam pengampunan dosa dan lain sebagainya.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 10 Komentar »
Ditulis pada MeiebFri, 18 May 2007 20:09:01 +0000upmFri, 18 May 2007 20:09:01 +000009 11, 2007 oleh Salafy

Ternyata kumpulan ulama Wahhabi itu ingin menyatukan antara fatwa tokoh-tokoh ulama mereka yang sebagian menyatakan bahwa ‘tabarruk’ merupakan perbuatan bid’ah sedang yang lain menyatakan itu merupakan perbuatan syirik, dengan menfatwakan bahwa “Pencarian berkah (tabarruk) masuk kategori bid’ah dan bagian dari bentuk syirik”. Poin inilah yang harus kita garis bawahi dan kita ingat-ingat untuk bekal pembahasan kita nantinya.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Legalitas Tabarruk | 17 Komentar »
Ditulis pada MeiebMon, 14 May 2007 03:44:48 +0000uamMon, 14 May 2007 03:44:48 +000044 11, 2007 oleh Salafy
Kenapa para IMAM dan SALAFUS SHALIH pada saat itu tidak memproklamirkan MANHAJ SALAFY. Justru yang disepakati adalah AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH (ini menjadi sumber hukum karena IJMA’/kesepakatan). Karena kesepakatan adalah (salah satu) sumber hukum Islam. Sedangkan MANHAJ SALAF belum pernah menjadi IJMA’.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 25 Komentar »
Ditulis pada AprilebSat, 21 Apr 2007 21:40:11 +0000upmSat, 21 Apr 2007 21:40:11 +000040 11, 2007 oleh Salafy
DIarsipkan di bawah: Salafy | 109 Komentar »
Ditulis pada AprilebSat, 14 Apr 2007 21:31:43 +0000upmSat, 14 Apr 2007 21:31:43 +000031 11, 2007 oleh Salafy
Dalam membedakan antara konsep tauhid dan syirik dalam prilaku masyarakat kita tidak boleh hanya melihat sisi zahir saja. Harus dibedakan antara perendahan diri, menghinakan diri dan ketaatan yang umum dilakukan oleh masyarakat (‘urf) –seperti perendahan diri (baca: penyembahan) para abdi dalem keraton Solo/Yogya terhadap sang raja- dengan perendahan diri yang masuk kategori ibadah. Sebagaimana harus dibedakan antara sujud para malaikat di hadapan dan untuk nabi Adam, atau sujud nabi Yakqub beserta keluarganya di hadapan dan untuk nabi Yusuf dengan sujudnya para kaum musyrikin di hadapan berhala-berhala (baca: tuhan-tuhan) selain Allah swt.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tauhid & Syirik | 25 Komentar »
Ditulis pada AprilebFri, 06 Apr 2007 17:11:25 +0000upmFri, 06 Apr 2007 17:11:25 +000011 11, 2007 oleh Salafy

Lihat zahir ayat-ayat di atas tadi, bukankah ini menunjukkan bahwa Bumi adalah hamparan bagaikan papan tulis ataupun tikar dan bukan berbentuk bulat? Harusnya dulu, syeikh Ustaimin lebih mendahulukan berfatwa tentang yang telah kami usulkan ketimbang yang beliau fatwakan itu. Zahir ayat-ayat di atas jelas bahwa bumi merupakan hamparan, bahkan lebih jelas dari ayat-ayat yang dikemukakan oleh Syeikh Utsaimin dalam membuktikan bahwa Bumi sebagai pusat galaxy. Tapi sudahlah itu telah berlalu. Sekarang syeikh itu sedang mempertanggungjawabkan fatwanya itu di hadapan Ilahi. Kita tunggu ulama Wahaby lain yang masih hidup mendengar saran kami ini.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Serba-Serbi | 90 Komentar »
Ditulis pada AprilebFri, 06 Apr 2007 01:43:41 +0000uamFri, 06 Apr 2007 01:43:41 +000043 11, 2007 oleh Salafy
Sewaktu kaum muslimin (ahli tauhid) melakukan penghormatan terhadap obyek-obyek tertentu seperti bersimpuh di hadapan makam mulia Rasul sebagai rasa cinta dan penghormatan, mencium mimbar Rasul untuk bertabarruk (mencari berkah), bertawassul kepada Allah melalui para nabi, rasul dan kekasih (wali) Allah dst, sementara di hati mereka tetap meyakini hanya Allah swt yang memiliki sifat ketuhanan dan tidak mengangap obyek-obyek yang dihormatinya tersebut memiliki kekhususan tiga hal di atas tadi –meyakini ketuhanan, pengaturan dan independensi obyek- maka ia tetap tergolong muslim dan sama sekali tidak dapat digolongkan sebagai pelaku syirik.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tauhid & Syirik | 11 Komentar »
Ditulis pada MaretebFri, 30 Mar 2007 16:18:31 +0000upmFri, 30 Mar 2007 16:18:31 +000018 11, 2007 oleh Salafy

Kerancuan konsep keesaan tuhan (tauhid) jenis ini –tauhid uluhiyah hanya diidentikkan dengan tauhid dalam peribadatan- yang mengakibatkan kerancuan pengikut Wahaby dalam menentukan obyek syirik sehingga mereka pun akhirnya suka menuduh kaum muslimin yang bertawassul (mencari penghubung dengan Allah) dan bertabarruk (mencari berkah) sebagai bagian dari pebuatan syirik. Karena kaum Wahaby menganggap bahwa denga perbuatan itu –tawassul dan tabarruk- berarti pelakunya telah menyembah selain Allah. Disaat menyembah selain Allah berarti ia telah meyakini ketuhanannya karena tidak mungkin menyembah kepada selain yang diyakininya sebagai Tuhan.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tauhid & Syirik | 66 Komentar »
Ditulis pada MaretebMon, 26 Mar 2007 18:32:42 +0000upmMon, 26 Mar 2007 18:32:42 +000032 11, 2007 oleh Salafy
Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi
tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 76 Komentar »
Ditulis pada MaretebSun, 18 Mar 2007 15:14:26 +0000upmSun, 18 Mar 2007 15:14:26 +000014 11, 2007 oleh Salafy
Dalam karya lain Ibnu Hajar yang diberi judul “al-Fatawa al-Haditsiyah” halaman 86 menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah menuduh para ulama Ahlusunah seperti Abu Hasan as-Subki dan puteranya Tajuddin, syeikh Imam ‘Izz bin Jamaah dan para ulama Ahlusunah lain yang sezaman dengannya baik dari mazhab Syafi’iyah, Malikiyah maupun Hanafiyah sebagai pembohong dan pribadi-pribadi buruk. Oleh sebab itu, Ibnu Hajar dalam kitab tersebut mengatakan: “Dia (Ibnu Taimiyah) adalah hamba yang dihinakan, disesatkan, dibutakan dan ditulikan oleh Allah…”.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 69 Komentar »
Ditulis pada MaretebWed, 07 Mar 2007 11:06:05 +0000uamWed, 07 Mar 2007 11:06:05 +000006 11, 2007 oleh Salafy
Salah seorang guru besar dan intelektual Saudi Arabia yang benama Prof. Khalid ad-Dakhil dalam sebuah penelitian yang menggunakan keturunan keluarga Saudi dan ideologi Wahabisme sebagai obyek penelitiannya untuk menetapkan bahwa kekuasaan tanpa batas waktu dan yang berjalan secara turun temurun dari keluarga Saud itu pada awalnya memiliki tujuan politis, memisahkan diri dari kekhalifahan Usmani yang Ahlusunah.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 49 Komentar »
Ditulis pada FebruariebWed, 28 Feb 2007 14:08:04 +0000upmWed, 28 Feb 2007 14:08:04 +000008 11, 2007 oleh Salafy

Bahkan terbukti bahwa at-Tabrani dalam kitab al-Mukjam al-Kabir jilid 3 halaman 204 menyatakan bahwa di dalam masjid Khaif (di Mina dekat Makkah .red) terdapat delapan puluh makam para nabi, padahal masjid itu telah ada semenjak zaman Salaf Saleh. Lantas kenapa para Salaf Saleh tetap mempertahankan berdiri tegaknya masjid tersebut. Jika itu merupakan perbuatan syirik maka selayaknya sejak dari dulu telah dihancurkan oleh Rasulullah besrta para sahabat mulai beliau.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Kuburan Muslim | 37 Komentar »
Ditulis pada FebruariebFri, 23 Feb 2007 15:30:14 +0000upmFri, 23 Feb 2007 15:30:14 +000030 11, 2007 oleh Salafy
Bagaimana mungkin manusia pembela kelompok sesat versi Rasulullah –yaitu Khawarij- dianggap sebagai Imam para pengikut ajaran Salaf Saleh? Bahkan yang lebih aneh lagi, Ibnu Taimiyah yang memuji Khawarij semacam itu –padahal Rasul Islam mencela mereka- masih saja digelari dengan sebutan ‘Syeikh Islam’? Apakah tidak lebih baik diganti dengan ‘Syeikh Khawarij’, karena pembelaannya terhadap Khawarij dan pertentangannya dengan celaan Rasul atas Khawarij?
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 62 Komentar »
Ditulis pada FebruariebThu, 15 Feb 2007 01:44:25 +0000uamThu, 15 Feb 2007 01:44:25 +000044 11, 2007 oleh Salafy

Sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran (Takfir), walaupun dalam beberapa hal sebutan-sebutan itu memiliki kesamaan dengan kekafiran itu sendiri jika dilihat dari konsekwensi hukumnya. Oleh karena itu, kaum Wahaby juga layak dijuluki dengan sebutan Jama’ah Takfiriyah (kelompok pengkafiran).
Read more »
DIarsipkan di bawah: Salafy | 82 Komentar »
Ditulis pada FebruariebWed, 14 Feb 2007 16:02:33 +0000upmWed, 14 Feb 2007 16:02:33 +000002 11, 2007 oleh Salafy
Kerajaan Inggris membantu Wahabisme dengan uang, senjata dan keterampilan, sehingga kekuasaan Ibnu Saud menyebar ke seluruh jazirah Arab yang pada masa itu berada dalam kekhalifahan Usmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Jadi yang menggembosi kekuasaan daulah dan kekhalifahan Usmani adalah kelompok yang terkenal dengan sebutan Wahaby yang sekarang ini mengaku sebagai kelompok Salafy. Orang bisa membacanya dalam buku Hempher, ‘Confession of a British Spy’.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Tokoh | 50 Komentar »
Ditulis pada FebruariebTue, 13 Feb 2007 20:44:38 +0000upmTue, 13 Feb 2007 20:44:38 +000044 11, 2007 oleh Salafy
Kenapa para pengikut Wahaby masih berpegangan pada hadis tersebut padahal salah seorang ulama mereka yang bernama Nashiruddin al-Bani –ahli hadis Wahaby- pernah menyatakan tentang hadis pelaknatan penziarah wanita tadi dengan ungkapan: “Di antara sekian banyak hadis tidak kutemui hadis-hadis yang menguatkan hadis tadi. Sebagaimana tidak kutemui hadis-hadis lain yang dapat memberi kesaksian atas hal tersebut.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Ziarah kubur | 6 Komentar »
Ditulis pada FebruariebMon, 12 Feb 2007 22:13:05 +0000upmMon, 12 Feb 2007 22:13:05 +000013 11, 2007 oleh Salafy

Kita akan mencukupkan dengan pengakuan seorang alim dari kelompok Wahabi sendiri, Nashiruddi al-Bani dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44 dimana ia mengatakan: “Hadis ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadis ini dihukumi lemah (Dha’if), walaupun banyak dari kelompok Salafy (baca: Wahaby) menggunakan hadis ini. Bagaimanapun juga kebenaran harus diungkap dan diikuti. Salah seorang yang menyatakan bahwa hadis ini lemah adalah al-Muslim…
Read more »
DIarsipkan di bawah: Kuburan Muslim | 23 Komentar »
Ditulis pada FebruariebMon, 12 Feb 2007 14:46:25 +0000upmMon, 12 Feb 2007 14:46:25 +000046 11, 2007 oleh Salafy
Kita kembali akan mengecek kebenaran klaim Ibnu Taimiyah dan kelompok Wahaby yang mengaku sebagai orang-orang yang ingin menghidupkan ajaran Salaf Saleh. Dalam masalah ziarah kubur ternyata para sahabat yang termasuk jajaran utama Salaf Saleh telah melakukannya. Dalam kitab Mustadrak alas shahihain karya al-Hakim an-Naisaburi jilid 1 halaman 532 hadis ke-1392 dinyatakan dari Ibnu Abi Malikah bahwa suatu hari ia pernah mendapati ummul mukminin Aisyah memasuki tempat pemakaman…
Read more »
DIarsipkan di bawah: Ziarah kubur | 88 Komentar »
Ditulis pada FebruariebSat, 10 Feb 2007 08:44:47 +0000uamSat, 10 Feb 2007 08:44:47 +000044 11, 2007 oleh Salafy

Kelompok Salafy yang selama ini ada, selain tidak sesuai dengan keyakinan mayoritas muslim Indonesia yang Ahlusunah wal Jamaah, juga telah mengalami arabisasi yang sangat kental dan tidak sesuai dengan budaya lokal Indonesia. Indonesia memerlukan Islam Muhammad yang fleksibel dan menjunjung tinggi etika, bukan Islam Arab apalagi dengan corak Wahabisme yang kaku dan urakan.
Read more »
DIarsipkan di bawah: Me | Comments Off