Tabarruk 3; Tabarruk Para Salaf Saleh dari Pribadi Rasul

Para sahabat mulia nabi yang tergolong Salaf Saleh mereka telah mengambil berkah dari Nabi dengan menyentuh tubuh (jasad) Rasul, mencium tangan beliau, meminum sisa minuman beliau, mengambil sisa air wudhu, memunguti rambut beliau, meminta berkah dari Rasul untuk bayi-bayi mereka dan lain sebagainya. Imam al-Muslim dalam kitab Shohih al-Muslim jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Saleh dalam mengambil berkah Rasul untuk anak-anak mereka. Apakah sampai sini kaum Salafy masih tetap memaksakan diri untuk mengatakan bahwa bertabaruk kepada pribadi mulia dan pemilik keutamaan sedang ia masih hidup adalah sesuatu yang masuk kategori Syirik atau Bid’ah? Mungkinkah para Salaf Saleh (sahabat Rasul) semua tadi adalah pelaku syirik dan bid’ah? Mungkinkah Rasul membiarkan bahkan meridhoi para sahabatnya melakukan syirik dan bid’ah?

——————————————-

Mengambil Berkah (Tabarruk) Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik? (Bag-3)

    (Tabarruk Para Salaf Saleh dari Pribadi Rasul)

Setelah kita mengenal konsep ‘Tabarruk’ versi al-Quran yang menyatakan bahwa sebagian nabi mengizinkan atau bahkan melakukan “pengambilan berkah” (tabarruk) dari ‘sesuatu’ selain Allah swt dan tergolong hasil ciptaan Allah, dimana tentu kaum Wahaby tidak akan pernah berani menvonis orang mulia seperti Nabi Yakqub sebagai pelaku syirik karena telah melakukan pencarian berkah dari baju Nabi Yusuf. Sekarang, giliran kita akan melanjutkan kajian kita kepada masalah; “Tabarruk dari tinjauan hadis”. Dalam penjelasan edisi ini, kita akan buktikan bawa ternyata para Salaf Saleh (Sahabat Nabi) telah melakukan perbuatan yang versi Wahaby tergolong perbuatan Syirik atau Bid’ah, mencari berkah.

Berkah dan Tabarruk dalam as-Sunnah

Penyebab kelompok Salafy mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy adalah karena ‘konon’ mereka ingin menegakkan ajaran Salaf Saleh yang selama ini tidak diindahkan lagi oleh umat Muhammad, padahal ajaran Salaf Saleh pasti benar dan harus selalu ditegakkan. Di sini, kita akan sebutkan bukti-bukti bahwa para Salaf Saleh telah melakukan ‘tabarruk’ (pencarian berkah) yang dikategorikan perbuatan syirik dan bidah oleh kelompok Salafy, yang pada hakekatnya Wahaby itu.

Agar kajian kita lebih terfokus maka kita bagi kajian hadis kita kali ini pada beberapa pembagian berikut:

- Pertama: Tabarruk para Sahabat (Salaf Saleh) terhadap Rasulullah saw, sewaktu masa hayat beliau.

- Kedua: Tabarruk para Sahabat dan para Tabi’in (Salaf Saleh) terhadap peninggalan Rasul, pasca wafat beliau.

- Ketiga: Tabarruk kaum muslimin terhadap peninggalan para pendahulu dari para nabi, sahabat Nabi, tabi’in dan para kekasih Ilahi (Waliyullah).

Untuk itu, marilah kita perhatikan hadis-hadis yang menjadi argumen kita serta mengadakan sedikit analisa dari beberapa sisinya:

I- Tabarruk para Sahabat (Salaf Saleh) terhadap Rasulullah saw, sewaktu masa hayat beliau.

Di sini kita akan menyebutkan beberapa riwayat sebagai bukti bahwa para sahabat mulia Nabi yang tergolong Salaf Saleh mereka telah mengambil berkah dari Nabi dengan menyentuh tubuh (jasad) Rasul, mencium tangan beliau, meminum sisa minuman beliau, mengambil sisa air wudhu, memunguti rambut beliau, meminta berkah dari Rasul untuk bayi-bayi mereka dan lain sebagainya.

Imam al-Muslim dalam kitab Shohih al-Muslim jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para Salaf Saleh dalam mengambil berkah Rasul untuk anak-anak mereka. Atas dasar itu, Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishobah jilid 3 halaman 638 (detailnya pada: Huruf waw, bagian pertama, bab waw kaf, tarjamah Walid bin Uqbah, nomer 9147) menjelaskan: “Setiap bayi pada masa hidup Rasulullah dihukumi sebagai pribadi yang telah melihat Rasul. Hal itu karena syarat-syarat terlaksananya kaum Anshar dalam mendatangkan anak-anak mereka kepada Rasul agar dipeluk dan diberi berkah (tabarruk) telah terpenuhi”. Hingga dikatakan: “Sewaktu Makkah ditaklukkan (fath), para penghuni Makkah pun berdatangan kepada Nabi dengan membawa anak-anak mereka supaya dapat dibelai (diusap) kepalanya oleh beliau yang lantas beliau doakan”.

a- Tabarruk para sahabat untuk para bayi mereka:

1- Dari ummu Qais: “Suatu saat beliau mendatangi Rasululah dengan membawa serta anaknya yang masih kecil, yang masih belum memakan makanan. Lantas Rasulullah meletakkanya di pangkuannya. Tiba-tiba anak itu kencing di pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air dan menyiramkannya (pada pakaian) dan tidak mencucinya”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 62 kitab al-Ghasl, Kitab Sunan an-Nasa’i jilid 1 halaman 93 bab Baul as-Shobi al-Ladhi lam Ya’kul at-Tho’am, Kitab as-Sunan at-Turmudzi jilid 1 halaman 104, Kitab as-Sunan Abu Dawud jilid 1 halaman 93 bab Baul as-Shobi Yushibus Tsaub dan Kitab as-Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 174).

Ibnu Hajar berkata: “Dari hadis ini memberikan beberapa pengertian; Penekanan akan pergaulan secara baik, rendah diri (Tawadhu’), memeluk anak bayi dan pemberian berkah dari pribadi yang memiliki kemuliaan, dan membawa anak kecil pra dan pasca kelahiran” (Lihat Kitab Fathul-Bari jilid 1 halaman 326 kitab al-Wudhu’ bab Baul as-Shobi hadis ke-223).

2- Dari Ummul Mukminin Aisyah: “Dulu, Rasulullah selalu didatangkan bayi (kepadanya) yang kemudian beliau peluk mereka untuk diberi berkah“ (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 303 kitab al-Wudhu bab 59 bab Baul as-Shibyan hadis ke-223).

3- Dari Abdurrahman bin ‘Auf, beliau berkata: “Tiada seorang yang baru melahirkan kecuali bayi itu didatangkan kepada Rasul untuk didoakan” (Lihat: Kitab al-Mustadrak as-Shohihain karya al-Hafidz al-Hakim an-Naisaburi jilid 4 halaman 479 dan Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 1 halaman 5 dalam Khutbah kitab, bagian kedua).

4- Dari Muhammad bin Abdurrahman pembantu (maula) Abi Thalhah yang berbicara tentang Muhammad bin Thalhah, beliau berkata: “Sewaktu Muhammad bin Thalhah lahir, aku membawanya kepada Rasulullah untuk dipeluk dan didoakannya. Hal itulah yang dilakukan Rasul kepada para bayi yang ada” (Lihat: Kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar jilid 5 halaman 5 pada Khutbah Kitab, bagian kedua).

b- Tabarruk sahabat dari tubuh Rasulullah saw:

“Sewaktu Rasulullah datang ke pasar, beliau melihat Zuhair berdiri untuk menjual barang. Tiba-tiba beliau datang dari arah punggungnya lantas memeluknya dari belakang hingga tangan beliau menyentuk dadanya. Kemudian Zuhair marasakan bahwa orang itu adalah Rasulullah. Lantas ia berkata: Aku lantas mengusapkan pungungku pada dadanya untuk mendapatkan berkah dari beliau” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 938 hadis ke-12237, Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 6 halaman 47 yang telah dinyatakan keshohihannya dengan menyatakan bahwa perawinya semuanya dapat dipercaya (tsiqoh) dan Kitab Sirah Dahlan jilid 2 halaman: 267).

c- Tabarruk sahabat dari rambut Rasulullah saw:

1- Dari Anas, beliau berkata: “Aku melihat Rasulullah sedang dipangkas rambutnya oleh tukang potong, sedang para sahabat mengerumuninya dan mereka tidak membiarkan sehelaipun rambut beliau jatuh melainkan di salah satu tangan mereka” (Lihat: Kitab Shahih Muslim dengan syarah Imam Nawawi jilid 15 halaman 83, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 3 halaman 591, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 7 halaman 68, Kitab as-Sirah al-Halabiyah jilid 3 halaman 303, Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah jilid 5 halaman 189 dan Kitab Musnadaat ibn Malik hadis ke-11955).

2- Dari Abdullah bin Zaid, beliau berkata: “…maka Rasulullah dipangkas rambutnya dengan mengenakan baju, lantas beliau memberikannya (rambut) kepada orang-orang (sahabat) untuk dibagi. Kemudian beliau memotong kuku yang kemudian diberikan kepada sahabatnya. Lantas ia (Abdulah bin Zaid) berkata: Kudapati hal itu diwarnai dengan pacar, yaitu; rambut beliau.” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 4 halaman 630 hadis ke-16039, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 68 dan Kitab Majma’ az-Zawa’id jilid 4 halaman 19).

3- Dari Abu Bakar, beliau berkata: “Tiada Fath (penaklukan tanpa peperangan .red) terbesar yang dilakukan Islam melainkan Fath Hudaibiyah. Akan tetapi kala itu, orang-orang banyak yang kurang memahami hubungan antara Muhammad dengan Tuhannya…Suatu hari, ketika haji wada’, aku melihat Suhail bin Amr berdiri di tempat penyembelihan (binatang kurban) dekat dengan Rasulullah bersama ontanya yang saat itu beliau menyembelih onta dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut kepalanya. Aku melihat Suhail memunguti rambut beliau yang berjatuhan. Aku melihatnya meletakkan (rambut tadi) di kelopak matanya. Aku mengingat keengganan beliau (untuk menghapus), sehingga beliau menetapkan pada hari Hudaibiyah untuk menulis kata Bismillahirrahmanirrahim” (Lihat: Kitab Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 10 halaman 472 hadis-30136).

d- Tabarruk sahabat dari keringat Rasulullah saw:

1- Dari Anas bin Malik, beliau berkata: “Ummu Salamah selalu menghamparkan tikar kulit untuk Nabi, lantas beliau tidur di atas hamparan tersebut. Sewaktu beliau tertidur, lantas ia (Ummu Salamah .red) mengambil keringat dan rambut Nabi dan diletakkan ke dalam botol dan dikumpulkan dalam tempat minyak wangi” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 7 halaman 14 kitab al-Isti’dzan).

Ibnu Hajar dalam mensyarahi riwayat ini mengatakan: “Dengan menyebutkan rambut dalam kisah ini sangatlah mengherankan sekali. Sebagian orang menyatakan bahwa rambut beliau tersebar (terurai) ketika berjalan. Kemudian ketika aku melihat riwayat Muhammad bin Sa’ad yang masih samar. Riwayat itu memiliki sanad (jalur) yang sahih dari Tsabit bin Anas, bahwa sewaktu Nabi saw mencukur rambutnya di Mina Abu Thalhah mengambil rambut beliau dan menyerahkannya kepada Ummu Salamah. Lantas ia meletakkannya ke dalam tempat minyak wangi. Ummu Salamah berkata: Beliau datang ke (rumah)-ku dan tidur di atas hamparan milikku sehingga keringat beliau mengalir (terkumpul)” (Lihat: Kitab Fathul Bari jilid 11 halaman 59 atau Kitab Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 313).

e- Tabarruk sahabat dari air wudhu Rasulullah saw:

1- Dari Abu Juhfah, beliau berkata: “Aku mendatangi Nabi sewaktu beliau berada di Qubbah Hamra’ dari Adam. Kulihat Bilal (al-Habasyi) mengambil air wudhu Nabi. Lantas orang-orang bergegas untuk berwudhu juga. Barangsiapa yang mendapatkan sesuatu dari air wudhu tadi maka akan menggunakannya sebagai air basuhan. Namun bagi siapa yang tidak mendapatkannya maka ia akan mengambil dari basahan (sisa wudhu) yang berada di tangan temannya”.

Dalam lafad itu dikatakan: “Rasul pergi menuju Hajirah bersama kami, lantas beliau mengambil air wudhu. Kemudian orang-orang mengambili air bekas wudhu beliau untuk dijadikan bahan basuhan (dalam berwudhu)” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab shohih al-Muslim jilid 1 halaman 360, Kitab Sunan an-Nasa’i jilid 1 halaman 87, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 398 hadis ke-18269, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 395 dalam bab al-Iltiwa’ fi Hayya ‘ala as-Shalah dan Kitab ad-Dala’il an-Nubuwah karya al-Baihaqi jilid 1 halaman 183).

2- Dari Ibnu Shahab, beliau berkata: “Aku mendapat kabar dari Mahmud bin Rabi’, ia berkata: Dia adalah orang yang Rasul telah meludah pada wajahnya, saat itu ia adalah kanak-kanak di daerah mereka. Berkata Urwah, dari al-Masur dan selainnya –masing-masing saling mempercayai temannya-: Ketika Nabi melaksanakan wudhu, seakan mereka hendak saling bunuh-membunuh untuk mendapatkan air wudhu beliau” (Lihat: Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 dalam kitab wudhu bab Isti’malu Fadhli Wudhu’in Nas, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 6 halaman 594 hadis ke-23109 dan Kitab Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 246).

Ibnu Hajar dalam mensyarahi hadis tersebut menyatakan: “Apa yang dilakukan Nabi terhadap Mahmud, kalau tidak karena tujuan bersendau gurau, atau untuk memberi berkah kepadanya. Hal itu sebagaimana yang pernah beliau lakukan kepada anak-anak para Sahabat lainnya” (Lihat: Kitab Fathul Bari jilid 1 halaman 157 dalam bab Mata Yashihhu Sima’ as-Shoghir).

Sebagaimana banyak dari para perawi dan penghapal hadis yang meriwayatkan kisah kedatangan Urwah bin Mas’ud as-Tsaqofi kepada kaum Quraisy pra perjanjian damai (Suluh) di Hudaibiyah. Kala itu ia heran melihat prilaku sahabat terhadap Nabi, ia mengatakan –menjelaskan apa yang dilihatnya-; “Tiada beliau melakukan wudhu kecuali mereka (sahabat) bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada beliau meludah kecuali merekapun bersegera (untuk mengambil berkah). Tiada salembar rambutpun yang rontok kecuali mereka memungutnya”. Dalam riwayat lain disebutkan; “Demi Allah, sewaktu Rasul mengeluarkan dahak dan dahak itu mengenai telapak tangan seseorang maka orang tadi akan mengusapkannya secara rata ke seluruh bagian muka dan kulitnya. Jika beliau memerintahkan sesuatu niscaya mereka bersegera (untuk melaksanakannya). Jika beliau mengambil air wudhu maka mereka bersegera seakan-akan hendak saling membunuh memperebutkan (bekas air) wudhu beliau”. (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 66 dalam kitab al-Wudhu’ dan jilid 3 halaman 180 dalam kitab al-Washoya, Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 5 halaman 423 dalam hadis panjang nomer-18431, Kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi jilid 9 halaman 219 bab al-Muhadanah ‘ala an-Nadhar Lilmuslimin, Kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid 3 halaman 328, Kitab al-Maghozi karya al-Waqidi jilid 2 halaman 598 dan Kitab Tarikh al-Khamis jilid 2 halaman 19).

3- Dari Sa’ad, beliau berkata; Aku mendengar dari beberapa sahabat Rasul seperti Abu Usaid, Abu Humaid dan Abu Sahal ibn Sa’ad, mereka mengatakan: “Suatu saat, Rasulullah mendatangi sumur ‘Badho’ah’ kemudian beliau mengambil wudhu melalui ember lantas (sisanya) dikembalikan ke dalam sumur. Kemudian beliau mencuci mukanya kembali, dan meludah ke dalamnya (ember) dan meminum airnya (sumur). Dan jika terdapat orang sakit di zaman beliau maka beliau bersabda: “Mandikan dia dengan air sumur Bidho’ah”, maka ketika dimandikan, seakan simpul tali itu telah lepas (sembuh)” (Lihat: Kitab at-Thobaqoot al-Kubra jilid 1/2 halaman 184 dan Kitab Sirah Ibnu Dahlan jilid 2 halaman 225).

4- Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Ketika aku sakit yang tak kunjung sembuh, Rasulullah menjengukku. Lantas Rasulullah mengambil air wudhu, kemudian beliau siramkan sisa air wudhu beliau, kemudian sembuhlah penyakitku” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 60 / jilid 7 halaman 150 / jilid 8 halaman 185 dan jilid 9 halaman 123).

5- Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, beliau berkata: “Sewaktu Nabi berwudhu pada sebuah baskom, lantas (sisa air tadi) aku tuang ke dalam sumur milik kami” (Lihat: Kitab Kanzul Ummal jilid 12 halaman 422 hadis ke-35472).

6- Dari Abi Musa, beliau berkata: “Rasul mengambil air pada sebuah tempat. Lantas beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya. Kemudian kembali memuntahkan air itu ke dalamnya. Lantas beliau bersabda: Minumlah kalian berdua dari (air) itu. Dan sisakanlah untuk muka dan leher kalian berdua” (Lihat: Kitab Shohih al-Bukhari jilid 1 halaman 55 kitab al-Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Naas).

Ibnu Hajar berkata: “Tujuan dari semua itu –memuntahkan kembali air- adalah untuk memberikan berkah kepadanya (air)” (Lihat: Kitab Fathul Bari jilid 1 halaman 55 kitab Wudhu bab Isti’mal Fadhli Wudhuin Nas, dan atau jilid 8 halaman 37 bab Ghozwah at-Tha’if).

7- Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Aku telah meminum (air) sementara aku dalam keadaan puasa. Bersabda (Rasul): Kenapa kamu melakukan hal itu? Ia berkata: Demi untuk mendapat sisa minummu, karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya sedikitpun. Aku tidak mampu untuk menyia-menyiakannya. Ketika aku mampu melakukannya maka aku akan meminumnya” (Lihat: Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal jilid 7 halaman 575 hadis ke-26838 dan Kitab at-Thabaqot al-Kubra jilid 8 halaman 109).

Semua riwayat di atas tadi membuktikan bahwa dalam sejarah telah terbukti bahwa para sahabat mulia Rasul telah melakukan tabarruk pada masa kehidupan beliau. Sebenarnya masih banyak riwayat-riwayat lain lagi yang bisa kita sebutkan di sini. Namun untuk mempersingkat, maka kami hanya menyebutkan riwayat-riwayat tadi saja, sebagai argumen pertama, Tabarruk para sahabat mulia Rasul pada masa kehidupan Nabi. Kami tidak tahu, apakah sampai sini kaum Salafy masih tetap memaksakan diri untuk mengatakan bahwa bertabarruk dari pribadi mulia dan pemilik keutamaan sedang ia masih hidup adalah sesuatu yang masuk kategori Syirik atau Bid’ah? Mungkinkah para Salaf Saleh (sahabat Rasul) semua tadi adalah pelaku syirik dan bid’ah? Mungkinkah Rasul membiarkan bahkan meridhoi para sahabatnya melakukan syirik dan bid’ah?

Pembahasan kita selanjutnya adalah menyebutkan beberapa riwayat yang membuktikan bahwa para Salaf Saleh telah bertabarruk terhadap peninggalan Rasul, pasca wafat beliau.

[Sastro H]

Bersambung…

About these ads

20 Tanggapan

  1. mas sastro, ini saya rasa belum “ngeh”, karena yang banyak dipersoalkan kaum muslim adalah mengambil berkah dari sesuatu yang lain (misal makam nabi, atau makam wali), pasti akan lumayan ramelah

    ————————-
    Sastro Menjawab:

    Nantikan pada pembahasan selanjutnya mas…

  2. Kalau antum sakit, antum makan obat. Apakah itu artinya antum tabbaruk pada obat itu?

    Jika antum sakit lumayan parah, kemudian antum ke dokter. Lalu besoknya antuk sudah sembuh. Kemudian antum mendatangi si dokter sambil membawa makanan tuk berterima kasih. Dan meminta beberapa tips-tips kesehatan. Apakah itu artinya antum tabbaruk pada dokter itu?

    Yang biasa-biasa sajalah.

    Lalu apakah empunya blog tau illat (kisah dibalik kejadian) hadits-hadits yang disebut di atas?

    ————————-
    Sastro Menjawab

    Wah nampak sekali anda kurang memahami makna tabarruk, bagaimana anda bisa mensyiriknya pelakunya sedang tidak memahami esensinya?
    Mengikuti contoh anda…jika ada dua dokter, yang satu seorang yang sangat bertakwa dan seorang lagi orang muslim biasa…orang awam yang selain ingin kesembuhan dari Allah melalui obat yang diberikan dokter, ia pun ingin mengambil berkah dari tangan seorang yang bertakwa, akhirnya ia memlih obat yang diberikan oleh dokter yang bertakwa tadi…Dari sini anda paham, apa itu tabarruk?
    Masalah hadis, kisah-kisahnya sudah sangat jelas…yang lain menyusul, akan lebih jelas lagi….

  3. sepanjang uraian diatas, yang sampean sampaikan terbatas tabaruk pada masa idup nabi. dan itu adalah benar berdasarkan hadits yang menjadi penerangnya. baik dari bekas rasulullah maupun dari bagian tubuh rasulullah. akan tetapi tabaruk selain dari rasul sepengetahuan saya tidak ada dasarnya. bahkan pada kuburnyapun tidak diperkenankan. hal itu salah satu cara nabi untuk menjauhkan umatnya dari jalan syirik dengan melarang melakukan ta’dzim berlebihan.
    kalau beribadah diatas kubur nabi saja tidak boleh, apa lagi tabaruk terhadapnya. saking pentingnya masalah ini, rasullulloh yang kala itu sudah hampir sakaratul maut, mendadak berkata “terlaknatlah kaum yahudi dan nashrani. mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid (tempat ibadah)”.
    nah betapa terangnya larangan rasul tersebut.

    kalo pengen ngerti makna tabaruk, liat dulu lisanul arab. dari penjelasan anda terhadap tabaruk, selayaknya anda berfikir dulu sebelum mengemukakan argumen. agar statemen yang dikeluarkan tidak menyimpang dan bermakna dangkal.
    kalo andamengungkapkan tabaruk seperti penjelasan diatas, saya kira kurang tepat. maka dari itu monggo buka lagi kamus dan cari makna kata tabaruk, baik dari segi bahasa, makna, dan ungkapan kebiasaan orang arab menggunakan kata tabaruk.

    —————————
    Sastro Menjawab:

    “tabaruk selain dari rasul sepengetahuan saya tidak ada dasarnya.” >>> Anda akan dapati, ternyata antar sahabat Nabi pun saling mengambil berkah.

    “beribadah diatas kubur nabi saja tidak boleh, apa lagi tabaruk terhadapnya” >>> Anda baca artikel kami tentang membangun masjid di sisi kuburan.

    “terlaknatlah kaum yahudi dan nashrani. mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid (tempat ibadah)”. >>> Makna Hadis ini telah kita analisa pada kesempatan yang lalu, dalam artikel membangun masjid di sisi kuburan. Banyak manipulasi pemaknaan hadis itu ternyata…

    Mengenai makna tabarruk, jika kita hanya melihat kamus seperti Lisanul Arab saja maka yang kita dapati hanyalah pengertian istilah itu dari sisi bahasa arabnya saja yaitu ‘ziyadah’ (tambahan). Namun pembahasan kita adalah mengenai istilah tabarruk dalam syariat Islam, bukan hanya dari sisi bahasa. Dan terbukti bahwa terlampau banyak hadis yang menguatkan diperbolehkannya bertabarruk…ini masih bersambung mas, nantikan kelanjutannya!

  4. justru makna yang ada di kamus itu bukan hanya sekedar makna lughawi, tapi juga memberikan pengertian maknawi dan adat kebiasaan orang arab dalam menggunakan kata tersebut, gimana to sampean ini. kalo yang sampean buka hanya kamus setingakt mahmud yunus, maka komentar sampean diatas ada benarnya, sebab kamus macam itu hanya menerangkan makna secara lughowi.

    jadi, buka kamus dulu deh sebelum keluarkan statement. ok/

    ———————–
    Sastro Menjawab:

    Anda nampaknya kurang memahami maksud kami…maksud kami adalah, bukan menafikan pentingnya membuka kamus yang lebih sering menjelaskan hal-hal yang bersifat perbedaan persepsi dalam pendefinisan secara linguistik, tetapi juga harus melihat ‘istilah” yang dipakai oleh orang-orang yang dibidangnya. Jadi harus dilihat definisi dari sisi bahasa dan istlah secara bersamaan, gak boleh dipisah-pisah. Dan itu sudah kami lakukan di sini.

  5. Semoga BerkahNya senantiasa dilimpahkan pada mas sastro, ya.. rabb..
    dan telah dibangun bagimu hotel bintang 7 disurga amin ya rabb..

  6. Mas Sasto saya mau numpang nanya, jangan di debat ya.. saya kan orang bodoh. Saya pengin jawaban yang terang-benderang biar bisa diterima dihati.
    (kalo pake bahasa politis ato sastra saya ndak mudeng mas)

    1. Sepeninggal Rasulullah apakah ada para sahabat yang mendatangi makam beliau untuk minta berkah di makam beliau.

    2. Apakah Rasulullah menyuruh agar sepeninggal beliau, bagi yang ingin mendapat berkah, di anjurkan mendatangi makam beliau. (ya mungkin sambil sholat atau ngaji di makam itu..?)

    Maaf lho mas Sastro, saya orang bodoh yang pengin tambah ilmu… (kalo saya ndak ngerti, ya nanti saya nanya sampean lagi, sing iklhas yo mas.?)

    ——————————-
    Sastro Menjawab:
    1- Ya, mereka mencari berkah Rasul.
    2- Rasul tidak menyuruh, tetapi yang jelas Rasul tidak pernah melarangnya.

  7. Pada dasarnya kita beribadah harus dengan acuan Al Qur’an dan Hadits.
    Kalau di hadits (yang shohih tentunya) ada tuntunannya, ya silahkan jalan terus. Tapi kalau tidak ada, ya segera hentikan. Kalau ada contohnya di Hadits (yang shohih) namun bertentangan dengan Al Qur’an, tentunya Al Qur’an yang harus dipakai, sedangkan Haditsnya harus ditakwilkan.
    Lha wong sudah berkali-kali dicontohkan oleh Gus Dur lho.. gitu aja kok repot…

    Nggak perlu rame lakum dinukum….ajalah…

  8. weleh weleh kebohongan apa yang akan dikeluarkan oleh Pakdhe sastro nih, WONG BODHO tanya kok jawabannya ndak lengkap, ndak tahu dasarnya ya Pakdhe?kalau yang melakukan Shohabat pasti ada perawi hadist yang akan meriwayatkan amalan mereka karena para perawi seperti Bukhori,Muslim,dll itu kan hidup jauh sesudah para Shohabat,betul tidak?

    ——————————-
    Sastro Menjawab:

    Anda mengatakan: “para perawi seperti Bukhori,Muslim,dll itu kan hidup jauh sesudah para Shohabat”, kalau begitu apakah anda meragukan kesahihan kitab sahih Bukhari dan Muslim yang diyakini keshahihannya oleh segenap pengikut Ahlusunah wal Jamaah? Jika ya, maka keahlusunahan anda layak diragukan…

  9. he..he.. menarik sekali memang pembahasan tentang terma tabaruk, syirik, kufur dan bid’ah. benar apa yang dikatakan oleh penulis bahwa kita tidak bisa menghukumi terhadapa suatu hal kalau kita tidak mengetahui esensi yang terkandung dalam sesuatu tersebut. demikian juga sering kita mng”syirik”an orang atau bahkan meng”kafir”kan namun tidak tahu apa itu definisi kafir ataupun syirik. sekedar informasi kl mau tahu apa itu syirik dan kufur silakan klik di http://masshofa.blogspot.com/2007/09/catatan-ramadhan-15.html dan juga seputar bid’ah klik disini http://masshofa.blogspot.com/2007/09/catatan-ramadhan-11.html ok mungkin itu saja dari saya kalau ada yang tidak setuju aatau kurang jelas bisa didiskusikan lebih lanjut

  10. joyolukito Says:

    September 15th, 2007 at 3:14
    weleh weleh kebohongan apa yang akan dikeluarkan oleh Pakdhe sastro nih, WONG BODHO tanya kok jawabannya ndak lengkap, ndak tahu dasarnya ya Pakdhe?kalau yang melakukan Shohabat pasti ada perawi hadist yang akan meriwayatkan amalan mereka karena para perawi seperti Bukhori,Muslim,dll itu kan hidup jauh sesudah para Shohabat,betul tidak?

    Mas joyolukito ni ki ya opo toooh?
    Sampeyan ngerti ora kapan Imam Bhukori dan Imam Lainnya hidup? kok di bilang jauh segghhh?
    Lebih adoh ngendi karo uripe syekh sampeyan sing ndek Saudi ikku?

    Imam Bukhori itu belajra dengan sanad dalam menyusun kitab hadistnya.
    Sanandnya jelas dari guru guru muhadist jaman dulu dan mereka terus berguru hingga pada para tabiit tabiin jadi sanadnya jelas.
    Lagian sebelum menusli beliau selalu sholat istikhoro dan berdoa dulu pantas atau tidakkah hadist yg dia trima dari gurunya di tulis dalam khitab shahihnya.

    Konon beliau itu juga pernah berguru pada Imam Ahmad bin hambal dan beliau ini Imam Ahmad bin Hambal berjalan 30.000 mil untuk mencari hadist dan hafal satu juta
    atsar. Beliau telah mewariskan 40.000 hadist dalam musnadnya.

    jadi masih kah kita sangsi akan ketulusan Imam terdahulu dalam menulis kitab hadist sehingga kita zaman sekarang ini tinggal “makan&minum” doang. tanpa susah susah seperti zaman mereka r.a.

    Ngaji karo guru sing bener Insya Allah ilmune barokah.

    ——————————-
    Sastro Menjawab:
    Yo jelas tho…lha wong yang di Bukhari/Muslim itu khan sanadnya jelas, bukan hadis mursal yang sanadnya terputus…makanya saya gak jawab dengan serius pak…

  11. Pembahasan tentang tabaruk yang ada dalam makalah Ente semua konteksnya adalah tabaruk kepada Rasulullah. Baik terhadap beliau sebagai pribadi sewaktu masih hidup maupun terhadap barang dan bagian tubuh Rasulullah. Dengan demikian, tabaruk dalam konteks ini disetujui oleh Rasulullah dan dibenarkan oleh para sahabat. Hal sedemikian karena figur yang diambil barakahnya jelas, yakni Rasulullah, seorang figur pribadi yang dipilih Allah untuk diutus kepada manusia dan secara pribadi beliau memiliki otoritas tasyri’. Bukankah Umar bin Khotob r.a pernah berkata di hadapan Hajar Aswad : “Kalau bukan karena mengikuti apa yang pernah dilakukan Rasulullah, niscaya aku tidak mau mancimmu wahai batu hitam”. Namun lain masalahnya jika pribadi yang diambil barakahnya adalah selain Rasulullah. Adakah contoh dari fakta sejarah yang valid, bahwa para sahabat Nabi malakukan tabaruk terhadap kepada orang yang sudah meninggal selain kepada Rasulullah ?.

    Fakta sejarah menjelaskan, bahwa para sahabat hanya bertabaruk dan bertawashul kepada Rasulullah hanya ketika belau masih hidup (kecuali terhadap beberapa benda dan bagian tubuh milik belau, sekali lagi milik beliau). Setelah belau wafat tidak ada riwayat valid yang menerangkan bahwa para sahabat bertabaruk dan bertawashul kepada jasad atau kuburan beliau. Dan pada kenyataannya pada akhirnya para sahabat bertawashul kepada Abbas bin Abdul Mutholib (paman Rasulullah) ketika di Madinah terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, karena Abbas bin Abdul Mutholib saat itu masih hidup. Jadi menurut saya, konsep syirik dan bid’ah dalam masalah tabaruk dan tawashul yang dimunculkan oleh para pembaru pemikiran Islam itu bersifat “saddu dzari’ah”, demi mencegah kaum muslimin agar tidak terjerembab masuk ke dalam jurang kemusyrikan yang lebih dalam, yang pada gilirannya akan melenyapkan harkat dan martabat manusia dari derajat “ahsanu takwim”. Apakah Ente setuju bahwa hakekat tauhid adalah pembebasan manusia dari keterbelangguan terhadap “ilah-ilah” selain Allah ?. Fakta di masyarakat kita sudah membuktikan, betapa dungunya para manusia yang dengan alasan tabaruk itu akhirnya bertabaruk kepada sesuatu yang sungguh di luar akal sehat. Ente lihat sendiri bagaimana tradisi orang Jawa yang bertabaruk kepada Kyai Slamet si kebo bule milik kesultanan Surakarta dengan mengambil “tlethong”-nya dengan rebutan?. Bagaimana juga mereka berebut air setelah dipakai mencuci “Kyai Guntur Madu” gamelan milik kraton Yogyakarta ?. Bukankah Ente selaku orang Jawa juga melihat bagaimana bangsa Ente berebut “sesajen” pada acara Sekaten?. Tabaruk macam apa ini ? Opo tumon Tro ?. Dan masih banyak lagi “praktek” tabaruk di seluruh belahan dunia ini yang dilakukan oleh kaum muslimin dengan terang-terangan yang memperlihatkan “kedunguan spiritual massal” seperti contoh di atas. Semoga Ente mendapatkan pencerahan tauhid. Amin.

    ———————————-

    Sastro Menjawab:

    eh tunggu dulu mas…jangan keburu-buru…nanti akan kita buktikan bahwa para sahabat bertabarruk dengan kanjeng Nabi atau benda-benda itu pasca wafat nNabi juga, termasuk mimbar Nabi. Lihat nanti ya, jangan sampai nyesel lho…
    Lagian mas…sejak kapan kematian adalah tolok ukur kesyirikan? Maksud saya, kenapa kita boleh tabarruk dan meminta syafaat Rasul sewaktu Rasul masih hidup saja sedang dilarang sewaktu beliau sudah mati? Apakah kaum Wahaby meyakini bahwa Rasul matinya tidak dijalan Allah sehingga ayat “Jangan kalian menyangka orang yang mati dijalan Allah adalah mati, mereka hidup dan dikaruniai rizki oleh Allah” tidak mencakup Rasulullah? Ini nanti akan kita singung dalam kajian kita selanjutnya, insya-Allah.

  12. ” Fakta sejarah menjelaskan, bahwa para sahabat hanya bertabaruk dan bertawashul kepada Rasulullah hanya ketika beliau masih hidup (kecuali terhadap beberapa benda dan bagian tubuh milik belau, sekali lagi milik beliau)”. Perhatikan dengan seksama pernyataan tersebut !. Jawaban Ente di atas sudah tercakup dalam pernyataan itu. Pertanyaan saya, adakah riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat Rasulullah dan Tabi’in melakukan tabaruk di kuburan beliau ?. Ingat Mbah, apa yang dilakukan para pembaru pemikiran yang tegas dalam masalah syirik, bid’ah dan takfir itu bersifat “saddu dzari’ah” semacam “shock theraphy” bagi umat. Ente sepertinya terlalu bernafsu dengan masalah tawashul. Pantes bangsa Ente termasuk bangsa yang “tidak boleh ngliat kuburan”. Kaji ayat yang Ente kutip di atas di berbagai kitab tafsir mu’tamad, adakah pembahasan para mufassirin terhadap ayat tersebut yang menyinggung dan mengaitkannya dengan masalah tawashul kepada orang yang sudah mati, khususnya kepada Rasulullah ?. Jika ada tolong sebutkan kitab dan halamannya !.

    ————————————

    Sastro Menjawab:

    Masalah kaidah Ushul “saddu dzari’ah” yang hendak dipegangi oleh kaum Wahaby dalam masalah ini sudah kita singgung jawabannya dalam salah satu artikel kami, apakah penerapan kaidah itu oleh kaum Wahaby benar? Silahkan anda cek kembali….

  13. 1. Adakah riwayat valid yang menyatakan bahwa para sahabat Rasulullah dan Tabi’in melakukan tabaruk di kuburan beliau ?. Tolong Ente jelaskan jika Ente benar-benar ingin “membela” manhaj salafiyah seperti misi Ente.
    1. “Jangan kalian menyangka orang yang mati dijalan Allah adalah mati, mereka hidup dan dikaruniai rizki oleh Allah”. Adakah pembahasan para mufassirin terhadap ayat tersebut yang menyinggung dan mengaitkannya dengan masalah tawashul kepada orang yang sudah mati, khususnya kepada Rasulullah ?.
    3. Apa yang bisa diperbuat oleh orang yang sudah mati, termasuk para “wali” dan Nabi ? Bukankah orang mati sudah tidak dapat menolong dirinya sendiri, terlebih lagi untuk orang lain ?. Syafaat itu konteksnya adalah nanti pada kehidupan akhirat bukan dalam alam barzakh. Kaji ayat-ayat berikut : Surat Az-Zumar ayat 42 dan hadits Nabi yang menyatakan bahwa jika anak Adam mati maka terputus amalnya kecuali 3 perkara !.

    —————————

    Sastro Menjawab:
    Sabar mas…masalah tabarruk masih berlanjut dalam tiga kali tulisan lagi. Jawaban dari pertanyaan anda akan terjawab nanti.
    Masalah Syafaat akan kita bahas setelah kita selesaikan artikel tentang Tabarruk.

  14. Ternyata Ente bukan “teman” diskusi yang baik. Dari awal Ane mengikuti diskusi ini, jawaban Ente selalu “ngalor ngidul” dan tidak relevan dengan pertanyaan-pertanyaan yang Ane ajukan. Akhirnya Ane berkesimpulan, ternyata Ente bukan “teman” yang menarik untuk berdiskusi !.

    —————————————–

    Sastro Menjawab:
    Apakah diskusi yang baik adalah dengan menanyakan yang tidak sesuai dengan topik kajiannya, alias ngalor ngidul? Anda tahu, yang anda tanyakan itu tentang apa, dan artikel yang anda tanggapi itu tentang apa? Kalau tidak ada pembahasan yang terarah, apakah itu diskusi yang baik? Silahkan anda belajar dulu tentang etika dan tata cara disuksi ilmiah yang baik mas, sebelum menegur orang tentang cara diskusi yang baik….

  15. Dengan blog ini, bukankah Ente memposisikan diri sebagai “nara sumber” ?. Pertanyaan-pertanyaan yang Ane ajukan semua relevan dengan topik kajian Ente. Misalnya tentang tabaruk, tawasul, bid’ah dan lain-lain. Tapi kenyataannya sebagai “nara sumber” jawaban Ente justru tidak relevan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Ini pertanda bahwa Ente sebenarnya belum siap untuk menjadi “nara sumber” !.

    —————————————-

    Sastro Menjawab:
    Masalah tabarruk ya, tapi kapan kami menulis artikel tentang tawassul, bid’ah dan lain-lain? Adapun pertanyaan anda yang berkaitan dengan tabarruk itu, telah kami jawab dan akan terus terjawab dengan postingan-postingan baru kami. Silahkan lihat di bagian lain dari kajian tabarruk. Jangan hanya mencukupkan pada bagian ini saja, karena kajiannya bersambung dan berantai mas…masalah tawassul, bid’ah dan lain-lain secara khusus nanti ada gilirannya. OK? Tunggu saja saatnya.
    O ya mas, kami telah merapihkan rubrik-rubrik artikel kami, silahkan dicek lagi….yang tentang tabarruk. Pertanyaan anda yang pertama telah terjawab di bagian ke-6 dari kajian tabarruk…akan ada kajian ke7, 8 dan mungkin hingga 9.
    Adapun tentang kehidupan pasca kematian para nabi/rasul dan para kekasih Allah (waliyullah) akan kita bahas nanti setelah kajian tabarruk selesai dan masuk kategori Tauhid-Syirik; “Benarkah kematian Tolok Ukur Tauhid-Syirik?” dan atau “Adakah Kematian Para Kekasih Ilahi Akhir dari Segalanya?”.

  16. wah2,,ternyata org salafy itu ska marah2 y?.g bs tahan emosi.
    serem nich jdny sm org salafy.

  17. Salut sama kang Sastro adem…,banget nanggepin orang marah

  18. Ass,Mas Sastro..saya jadi bingung,Mas pernah menjawab pertanyaan seseorang klo Usamah bin laden itu fahamnya faham Wahaby,semantara Mas pernah memaparkan kalau Amerika itu teman mesranya Arab yang notabene Wahaby.Kalo emang bener Usamah bin laden itu Wahaby,kenapa Usamah bin laden pernah mempermalukan Amerika dengan menghancurkan gedung WTC lewat bom bunuh diri anak buahnya.Saya takutkan kontradiksi ini akan menimbulkan keraguan fans Mas Sastro tentang kebenaran artikel Mas sendiri mengenai sejarah berdirinya Arab saudi..Mohon jawabannya ya Mas..?Salam buat keluarga Mas disana..Terimakasih,wassalam..

    —————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Gak bertentangan sama sekali mas…
    Dulu, al-Qaidah (juga Taleban) adalah anak didik CIA…..bahkan dia yg membidani kelahirannya, dengan dukungan dana Saudi.
    Namun, setelah besar, anak itu ternyata durhakan kepada ayah angkatnya. Itu prediksi pertama. Ada prediksi lain, anak itu ternyata pintar bermain sandiwara dengan bapak angkatnya, untuk menguatkan bapak angkatnya. Anda lihat, dimanapun USA bercokol maka al-Qaedah juga muncul di situ. Al-Qaedah adalah Mukadimah untuk kedatangan USA. Lihat kasus Irak, dulu di Afghan, sekarang di Pakistan juga…entah bentar lagi di mana lagi? Apalagi beberapa saat yg lalu ternyata USA mau rembug dengan Taleban, begitu juga Inggris yg secara sembunyi2 telah membuka hubungan dengan Taleban, padahal katanya Inggris dan USA punya musuh bersama yg namanya teroris yang terwujud dalam al-Qaedah dan Taleban…lha mulai kesingkap lah topengnya, walau masih sedikit.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: