Tawassul / Istighatsah (1); Sebuah Pengantar


Kita nanti akan memasuki kajian legalitas “Tawassul / Istighatsah” yang sesuai dengan ajaran syariat Islam agar kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek Tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang ke-jumud-an dalam menentukan obyek Tawassul / Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

————————————————————————————

    Tawassul / Istighatsah (1); Sebuah Pengantar

Hakekat “Tawassul” merupakan hal yang telah menjadikan kejelasan dalam Islam. Al-Quran sebagai sumber utama agama Islam dalam sebuah ayatnya menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35). Dalam ayat tadi Allah SWT menjelaskan bahwa ketakwaan dan jihad merupakan sarana legal untuk menyampaikan manusia kepada Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan adalah; adakah sarana-sarana lain yang legal menurut syariat Islam yang mampu menghantarkan manusia menuju Allah SWT, ataukah dalam penentuan sarana-sarana tadi telah sepenuhnya diserahkan kepada manusia? Untuk menjawab secara ringkas maka dapat kita katakana bahwa; jelas sekali bahwa penentuan sarana pendekatan diri kepada Allah SWT tidak terdapat campur tangan manusia sehingga dengan ijtihad pribadinya dapat menentukan sarana-sarana apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya sarana-sarana yang telah ditentukan oleh syariat Islam –yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah as-Sohihah Rasulullah SAW- saja yang dapat menjadi penghantar manusia menuju Allah SWT. Sehingga dari sini dapat kita simpulkan bahwa, semua sarana yang tidak mendapat legalitas syariat –baik dengan dalil umum maupun khusus- maka tergolong bid’ah dan kesesatan yang nyata. Dalam kesempatan kali ini, kita akan memasuki kajian legalitas “Tawassul/Istighatsah” sesuai dengan ajaran syariat Islam, baik dari apa yang telah dijelaskan oleh al-Quran, Sunnah Rasulullah maupun prilaku para Salaf Saleh dan Ulama Salaf Ahlusunnah wal Jamaah. Sehingga kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang kejumudan dalam menentukan obyek Tawassul/Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

Jika kita melihat beberapa kamus bahasa Arab yang sering dijadikan rujukan dalam menentukan asal dan makna kata maka akan kita dapati bahwa, kata “Tawassul” mempunyai arti dari ‘darajah’ (kedudukan), atau ‘Qurbah’ (kedekatan), atau ‘washlah’ (penyampai/penghubung). Sehingga sewaktu dikatakan bahwa ‘wasala fulan ilallah wasilatan idza ‘amala ‘amalan taqarraba bihi ilaihi’ berarti ‘seseorang telah menjadikan sarana penghubung kepada Allah melalui suatu pebuatan sewaktu melakukan pebuatan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya’. (Lihat: Kitab Lisan al-‘Arab karya Ibn Mandzur jilid 11 asal kata wa-sa-la). Begitu juga berkaitan dengan asal kata ‘ghatsa’ yang berarti ‘menolong’ yang dengan memakai bentuk (wazan) ‘istaf’ala’ yang kemudian menjadi ‘istighatsah’ yang berarti ‘mencari/meminta pertolongan’. Pengertian-pengertian semacam ini pun akan kita dapati dalam berbagai kamus-kamus bahasa Arab terkemuka lainnya.

Berkaitan dengan konsep Tawassul dan Istighatsah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan beberapa kelompok. Letak perbedaannya dalam masalah penentuan obyek-obyek tawassul dan istighatsah yang dilegalkan oleh syariat Islam. Dikarenakan terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan obyek maka terjadi ikhtilah juga dalam menghukuminya. Dari perbedaan hukum tadilah akhirnya muncul ‘penyesatan’ dari kelompok yang belum dewasa dalam menerima perbedaan, merasa benar sendiri, tidak menganggap pendapat kelompok lain, bahkan menganggap kelompok lain tadi telah berbuat yang dilarang oleh Islam, bid’ah atau syirik.

Di sini, kita akan mengkalasifikasikan pendapat-pendapat tersebut menjadi tiga bagian;
A- Pertama: Pendapat Sekte Wahabisme
Dalam hal ini, kita akan menukilkan pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pelopor dan pendiri sekte Wahabisme) yang dalam kita “Kasyfus Syubuhaat” menyatakan: “Jika ada sebagian orang musyrik (muslim non-Wahaby .red) mengatakan kepadamu; “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Yunus: 62)”, atau mengatakan bahwa syafa’at adalah benar, atau mengatakan bahwa para nabi memiliki edudukan di sisi Allah, atau mengungkapkan perkataan Nabi untuk berargumen menetapkan kebatilannya (seperti Syafa’at, Tawassul/Istighatsah, Tabarruk…dst. Red) sedang kalian tidak memahaminya (tidak bisa menjawabnya) maka katakanlah: Sesungguhnya Allah dalam al-Quran menjelaskan bahwa orang-orang yang menyimpang adalah orang yang meninggalkan ayat-ayat yang jelas (muhkam) dan mengikuti yang samar (mutasyabih)”. (Lihat: Kitab Kasyfus Syubuhaat halaman 60). Di sini jelas sekali bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan ‘sesat’ (bahkan menuduh musyrik) orang-orang yang meyakini adanya syafaat, kedudukan tinggi para nabi di sisi Allah sehingga dimintai istighatsah/tawassul…dst. Bahkan di sini, Muhammad bin Abdul Wahhab mengajarkan kepada para pengikutnya “trik melarikan diri” dari diskusi tentang doktrinan sektenya dengan kelompok lain dengan cara melarikannya kepada pembagian tasyabuh dan muhkam ayat-ayat al-Quran. Termasuk trik mengajak para pengkritisi ajaran Wahabisme untuk bertobat ‘tanpa terbukti’ kesalahannya. Ternyata, akhirnya ‘trik-trik licik’ ini pun yang sering dipakai banyak para pengikut sekte Wahaby ketika terpepet dalam berargumentasi ketika membela keyakinan wahabismenya, bahkan menjadi ‘kebiasaan buruk’ mayoritas para pengikut sekte tersebut.

Contoh lain. Nashiruddin al-Bani -yang konon- adalah seorang ahli hadis dari kalangan Wahaby pun pernah menyatakan dalam salah satu karyanya yang berjudul “at-Tawassul; Ahkaamuhu wa Anwa’uhu” (Tawassul; hukum-hukum dan jenis-jenisnya) begitu juga dalam mukaddimahnya atas kitab “Syarh at-Thawiyah” (Lihat: di halaman 60 dari kitab Syarh Thahawiyah) dia mentakan bahwa; “Sesungguhnya masalah tawassul bukanlah tergolong masalah akidah”.

Dan contoh lainnya adalah apa yang dinyatakan oleh Abdullah bin Baz seorang mufti Wahaby: “Barangsiapa yang meminta (istighatsah/tawassul) kepada Nabi dan meminta syafaat darinya maka ia telah merusak keislamannya” (Lihat: Kitab Al-‘Aqidah as-Shohihah wa Nawaqidh al-Islam).

B- Kedua: Pendapat Ahlusunnah wal Jamaah (bahkan Islam secara keseluruhan).
Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah ini. Insya-Allah pada kesempatan selanjutnya akan lebih kita perjelas mengenai ungkapan-ungkapan mereka. Namu di sini kita akan memberikan contoh beberapa tokoh dari mereka saja;
1- Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas endatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)
2- As-Samhudi yang bermazhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi SAW .red) dengan meminta pertolongan berkaitan suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasul memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafaatnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan doanya. Walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala seseorang meminta; aku memohon kepadamu (wahai Rasul .red) untuk dapat menemanimu di sorga…tiada yang dikehendakinya malainkan bahwa Nabi SAW menjadi sebab dan pemberi syafaat” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374)
3- As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah melalui para nabi dan manusia saleh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37)
4- Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh mazhab Hambali pernah menyatakan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Jakfar (salah seorang cucu Rasulullah yang dianggap salah seorang Imam oleh Syiah .Red) dan aku bertawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagaimana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).

C- Ketiga: Pendapat Ibnu Taimiyah al-Harrani
Jika kita telaah beberapa karya Ibnu Taimiyah maka akan kita dapati bahwa ia telah mengalami kebingungan dalam menentukan masalah ini. Kita akan dapati bahwa terkadang ia mengingkarinya, terjadang membolehkannya, dan terkadang menjawabnya dengan membagi-baginya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat apa yang telah ditulisnya dalam salah satu kitab yang berjudul “At-Tawassul wal Wasilah” dimana ia membagi Tawassul menadi tiga kategori, ia mengatakan:
1- Tawassul dengan ketaatan Nabi dan keimanan kepadanya. Ini tergolong asal muasal Iman dan Islam. barangsiapa yang mengingkarinya berarti telah mengingkarinya (kufur) terhadap hal yang umum dan yang khusus.
2- Tawassul dengan doa dan syafa’at Nabi -dalam arti bahwa Nabi secara langsung dapat memberi syafaat dan mendengar doa- semasa hidupnya dan sehingga di akherat kelak mereka akan bertawassul kepadanya untuk mendapat syafaatnya. Barangsiapa yang mengingkari hal tersebut maka dia tergolong kafir murtad dan harus dimintai tobatnya. Jika tidak tobat maka ia harus dibunuh karena kemurtadannya.
3- Tawassul untuk mendapat syafaatnya pasca kematiannya. Sungguh ini merupakan bid’ah yang dibuat-buat. (Lihat; Kitab At-Tawassul wal Wasilah karya Ibnu Taimiyah halaman 13/20/50)
Jadi jelaslah bahwa Ibnu Taimiyahpun tergolong orang yang tidak mengingkari legalitas tawassul, walaupun dalam beberapa hal ia nampak rancu dalam menentukan sikapnya. Dari penjelasan di atas tadi membuktikan bahwa, pengkategorian bid’ah dalam tawassul versi Ibnu Taimiyah terletak pada hidup dan matinya obyek yang ditawassuli. Benarkah demikian? Kita akan buktikan -nanti- bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah itu tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Yang perlu saya perjelas dari ungkapan saya di atas berkaitan dengan pendapat kedua “Islam secara keseluruhan” melegalkan konsep dan praktik Tawassul/Istighatsah kepada Nabi dan orang-orang saleh adalah, bukan hanya Ahlusunnah wal Jamaah saja (termasuk ahli tasawwuf), bahkan kelompok Syiah pun meyakininya. Jadi Sufi dan Syiah kedua kelompok yang paling dibenci oleh kaum Wahhaby pun memiliki kesamaan –juga dalam banyak hal yang dituduhkan Wahaby terhadap Ahlusunnah- dengan kelompok Ahlusunnah. Jadi dalam masalah ini –terkhusus masalah Tawassul/Istighatsah, juga masalah-masalah lain yang dinyatakan syirik dan bid’ah oleh sekte Wahaby- ternyata kelompok Salafy gadungan itu (Wahaby) sendirian, selain karena mereka juga tidak memiliki dalil yang kuat baik bersandarkan dari al-Quran, sunnah Rasul, dan perilaku Salaf Saleh. Dengan kata yang lebih singkat dan mengena; “Dalam masalah ini Wahabisme akan berhadapan dengan Islam”. Kita akan buktikan pada pertemuan selanjutnya.

Bersambung…

About these ads

85 Tanggapan

  1. kok masih sepi nih..
    kang sastro :
    1. bukankah pembagian tawassul yang ke-3 dari ibn taimiyyah memang benar adanya, karena para salafussalih tidak melakukannya menurut sanad yang sahih?
    2. sebetulnya apa akar masalahnya sampai ibn taimy n wahaby sampai membenci/memusuhi tasawuf ? bukankah tasawuf itu makna tazkiyatunnafs yang sekarang banyak dicari orang islam kota yang pada stress?
    3. bukankah murid ibn taimy(ibnl qoyyim) juga seorang sufi tulen melalui karya madarijussalikin?

    ————————————————————–

    Sastro Menjawab:

    1- Nanti dalam kajian legalitas Tawassul dan Istighotsah akan kita sebutkan beberapa bukti tentang diperbolehkannya bertawassul dengan ‘orang yang zahirnya mati’ seperti para nabi dan manusia saleh dari waliyullah. Dan akan kita jawab tentang peretanyaan; Benarkah para nabi dan waliyullah itu benar-benar mati dan putus hubungan dengan yang hidup, sebagaimana yang diyakini Wahaby mengadopsi dari pendapat Ibnu Taimiyah?

    2- Masalah tasawuf, sangat panjang ceritanya. Dan di blog ini -jika kita mau ngikuti urutan kajiannya- maka kajian tentang itu agak lama munculnya. Tapi yang jelas, secara ringkas, kaum Wahaby membenci Tasawuf -sebenarnya bukan hanya tasawuf, tapi juga konsep relasi taklid-ijtihad makanya mereka membenci mazhab, atau membenci teology- dengan alasan karena Tasawuf dianggap bid’ah. Apakah benar itu bid’ah? Ini yang belum kita kaji di blog ini. Sebenarnya jika konsep sunah-bid’ah sudah jelas maka kita tidak akan terjerumus ke dalam penentuan bid’ah dengan kaku. Memang bid’ah dilarang dalam Islam, dan wajib setiap muslim memerangi semua jenis bid’ah. Namun kesalahan wahaby dalam mengartikan Bid’ah inilah yang membikin mereka ‘liar’ dalam menentukan obyek bid’ah. Bid’ah hanya diartikan sebagai ‘peribadatan yang tidak dicontohkan Salaf’, itu tock…padahal bukan hanya itu.Alhasil, nanti akan kita jawab, seusau tuntas kajian tentang Syirik-Tauhid.

    3- Jika kita sudah tahu apa dan bagaimana Tasawuf dengan baik, maka orang tidak akan serta merta membencinya. Secara singkat Tasawuf adalah Islam Esoteris, disamping ada Islam eksoteris. Lha karena Wahaby itu sangat ekstrim dalam ke-eksoteris-annya maka ia lupa sehingga bahkan membenci kelompok yang cenderung esoteris. Entah mereka bodoh atau pura-pura bodoh bahwa, Islam bukan hanya mengajarkan sisi eksoteris saja, bahkan sisi esoteris juga di ajarkan oleh Islam.

  2. Begitu jelasnya manhaj campur aduk anda sehingga anda mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil dan bahkan anda tidak bisa memahami perkatan haq dari syaikhu islam Imam Ibnu Taimiyah karena hanya untuk membela hawa nafsu anda sampai – sampai sesuatu yang jelas menjadi buram dan sebaliknya yang buram seolah – olah menjadi jelas

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Sabar mas, masih pembukaan…kita lihat nanti, tunggu yach..!?

  3. guoblok banget ni orang, gak tau aja sehari-harinya si sastro katro’ ini bagaimana…bagi yg sering ngunjungi ebsite ini hati2 ama org ini

    ——————————————————

    Sastro Menjawab:

    Tolong sebarkan ke semua pengikut Wahaby mas…jangan deket2 apalagi buka blog salafyindonesia.wordpress.com nanti bisa tersesat dari jalan yang ‘salah’..eh yang nampak benar, Wahabisme….:P
    Biasanya orang kalau dilarang malah penasaran khan? Terbukti semakin banyak orang Wahhaby yang kunjung…malah gak sekali dua kali bahkan berkali-kali…ketagihan kali ya…..:P

  4. guoblok segoblok-gobloknya

    ———————————

    Sastro Menjawab:

    Kira-kira siapa yang nulis ini? Pasti pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahaby) yang merasa dirugikan…tapi apa daya, gak bisa ngejawab.

  5. Para sahabat Radhiyallahu ‘ajmain dahulu tidaklah ber-tawassul dengan zat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mereka lakukan adalah meminta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya mendo’akan mereka. Jadi, memita tolong kepada orang yang hadir (ada di tempat), masih hidup lagi mampu memberi bantuan adalah dibolehkan, namun tidak boleh meminta sesuatu yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Ini untuk orang yang masih hidup. Adapun orang yang sudah mati, tidak boleh ber-tawassul dan meminta syafaat kepadanya secara mutlak, bahkan itu merupakan salah satu di antara perantara-perantara menuju kesyirikan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya” [Saba : 22]

    —————————————————————–

    Sastro Menjawab:

    Siapapun seorang muslim tidak akan meminta kepada dzatnya sendiri karena muslim sejati selalu mengakui bahwa kekuatan hanya ada pada Allah. Hakekat tawassul adalah meminta kepada Allah melalui orang yang dianggap lebih dekat dengan Allah seperti Nabi. Namun, setelah nabi meninggal apakah diperbolehkan? Nanti akan kita jawab. Ternyata salah satu tolok ukur syirik atau tauhid versi Wahaby adalah ‘Kematian’…ini akibat kerancuan dalam mendefinisikan syirik.

    Eh anda koq malah menukil ayat yang dari awal diturunkan untuk kaum kafir yang anda akan terapkan kepada kaum muslim….? Lagi pula dalam ayat itu ada kata-kata “kamu anggap (sebagai sesembahan)“, lha di sini perbedaan substansial antara muslim dan musyrik. Yang menjadi pertanyaan saya adalah; “Kapan orang muslim yang bertawassul kepada Rasulullah mengaggap Rasul adalah sesembahan selain Allah?” ….Silahkan jawab, cek di luar, dan terapkan dengan ayat tadi!

  6. Perbuatan mendatangi penghuni kubur lalu berdoa kepadanya dan meyakini bahwa dia memiliki manfaat dan mudharat (bahaya), maka perbuatan ini adalah syirik besar. Orang yang melakukannya bisa jadi karena bodoh atau memang sudah mengetahuinya, maka dia seorang musyrik (pelaku syirik) dengan kesyirikan yang mengeluarkannya dari Islam. Adapun jika dia melakukannya karena bodoh/tidak tahu, maka harus dijelaskan kepadanya (hukum perbuatan tersebut). Jika dia kembali kepada kebenaran, maka alhamdulillah, tetapi jika tidak, maka dia dihukumi sama seperti orang yang sudah mengetahui. Dan dali tentang hal ini banyak sekali, antara lain firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dan didalam hadits qudsi.

    “Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [Hadits Riwayat Muslim]

    ————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Oh betapa bodohnya sahabat Bilal Habsyi (versi Mazzini) yang hanya karena mimpi Rasul maka ia harus jauh-jauh pergi dari Syam ke Madfinah untuk bersimpuh dan menangis di sisi pusara Rasul….(lihat artikel kami di “Tabarruk dari pusara Rasul”)

    Atau Oh betapa kurang ajarnya Mazini yang telah menyatakan seorang sahabat besar seperti Bilal sebagai orang bodoh…! Apakah layak orang seperti Mazzini mengaku pengikut ajaran Salaf Saleh sementara ia mengatakan Salah Saleh seperti Bilal adalah bodoh?

  7. Mas Sastro,

    Saya tidak pernah mengatakan Bilal Habsyi orang bodoh. Yang mengatakan itu anda sendiri lho. Kalau tidak percaya tanya saja sama Bilal Habsyi. Itupun kalau anda bisa menghubungi dan berbicara dengan arwah beliau. Kalau saya selalu menghormati orang sholeh seperti beliau yang selalu menjaga tauhidnya dan menjauhi perbuatan syirik.ORANG YANG BERTAWASSUL DENGAN

    ——————————————————

    Sastro Menjawab:

    Bung, memang itu bukan ucapan anda secara langsung, tetapi itu hasil konklusi ungkapan mayor dan minor yang anda bikin:

    Begini asalnya:

    Anda mengatakan bahwa:

    * BERTAWASSUL DAN BERTABARRUK TERHADAP ORANG YANG TELAH MATI ADALAH BODOH (hasil ungkapan anda)

    * BILAL ALHABSYI DATANG KE PUSARA RASUL UNTUK BERTABARRUK DAN BERTAWASSUL (kesaksian sejarah yang mustahil anda pungkiri)

    Maka hasil (konklusi)-nya:

    * BILAL ADALAH ORANG YANG BODOH karena telah BERTAWASSUL DAN BERTABARRUK DARI ORANG YANG TELAH MATI. Begitu juga berkaitan denga Abu Ayyub al-Anshari yang juga salah sahabat terkemuka Rasul.

    Paham mas…? Berani anda mengatakan Bilal dan Abu Ayyub BODOH?

  8. Terima kasih yang tak habis-habisnya kepada pak Ust Sastro cs yang tak bosan-bosan menyajikan untuk kaum muslimin kebenderangan Islam terkhusus masalah-masalah yang dinodai sekte wahabi(yang mulai malu menyandang gelar itu lalu tanpa malu-malu menamai dirinya Salafi/y).
    Bagi yang otaknya jernih serta hatinya bersih, dengan membaca artikel-artikel di blog ini, jelaslah sudah bahwa wahaby=babi buta

  9. Saya tidak pernah mengatakan beliau bodoh. Itukan kesimpulan anda saja.

    Nampaknya anda suka membodoh-bodohi para sahabat.

    ————————————————————

    Sastro Menjawab:
    Kesimpulan (konklusi) dari mayor dan minor yang jelas, dari ungkapan anda sendiri dan bukti sejarah…anda tidak akan bisa lari dari kenyataan itu karena bersifat demonstratif (badihy)

    Makanya mas, saran saya, ngomong itu dipikir dulu…kalau gak, ungkapan anda itu akan menjadi bumerang buat anda sendiri. Itu kalau anda mau sedikit saja berpikir. Itupun kalau anda punya alat pikir (otak).:P

  10. why not, saya BERANI jika yang diperbuat Bilal dan Abu Ayyub tidak sesuai dengan syariat. Karena Nabi Muhammad SAW juga akan berlepas tangan apa yang diperbuat oleh sahabat / umatnya jika tidak sesuai dengan syariat yang beliau ajarkan atau contohkan.

    ————————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Lha gitu donk gentle…jadi anda tidak akan mengikuti sahabat besar seperti Bilal dan Abu Ayyub jika bertentangan dengan sunnah Rasul. Padahal, tidak ada satupun yang melarang sahabat Bilal dan Abu Ayyub karena alasan bid’ah atau syirik…berarti semua -paling tidak mayoritas- sahabat menyetujui perbuatan Abu Ayyub dan Bilal bukan? Lantas mana bukti bahwa anda Salafy (Wahaby) yang konon mau menghidupkan ajaran Rasul sesuai denga pemahaman Salaf Saleh yang dalam hal ini adalah para sahabat? Bahkan, para khulafaurrasyidiin tidak ada satupun yang melarang perbuatan semacam itu. Apakah anda berani menyatakan bahwa Khulafaurrasyidin bersekongkol dengan pembid’ah dan tukang syirik seperti Bilal dan Abu Ayyub? Lantas apakah pemahaman para pengikut Wahaby yang berkedok Salafy itu lebih baik dari para sahabat besar seperti Abu Ayyub dan Bilal yang didiamkan (tanda tidak ada larangan) oleh para sahabat lain terkhusus Khulafaurrasyidiin yang empat itu? TOLONG DIJAWAB!!!

  11. Kalau tidak bertawasul justru disesatkan syetan

  12. kepada akhi mazzini…
    tolong anda kritis dikit
    jenis-jenis tawasul yang dilarang yang anda sebutkan itu kan dalil pelarangannnya kan gak ada korelasinya sama sekali. jangan tertipu hanya karena ada hadits dan alquran.tolong perhatikan baik2.afwan bukan gurui ente.sepertinya itu dari kitab attawassul wa anwauhu ya.tidak serta merta lo buku itu bener (sory bukan merendahkan pengarangnya, tapi setiap pengarang kan bs membuat interpratasi sendiri) .sy yakin ente org terpelajar.kalo tawassul yang disyariatkan sy kira itu sudah sepakatlah.bukan kajian kang sastro di sini.
    mungkin yang mau ditekankan kang sastro tawassul setelah kematian.nah selama ini kan anda membaca buku itu dan meyakini, sekarang ikuti kajian kang sastro. mudah2an menambah wawasan.syirik itu dosa paling besar, bahkan unforgiven.tapi jangan karena ditakut2i ini sirik itu sirik lantas jadi kalang kabut.nanti kalo ditakut2i makan itu sirik jadi ikut2an gak makan ( yang ini guyonan ya). buat akhi sufi muda masa sih kalo gak tawassul disesatkan setan?(kalo gak tawasssul dengan amal salih)
    ditunngu, kang sastro jawaban2 yang membungkam.

  13. Ketika seorang fanatik dikritik, maka yang keluar bukan omongan yang argumentatif.

  14. Maaf saya bukan wahabi atau apalah namanya.
    Saya hanya hamba Allah SWT dan umat Nabi Muhammad S.A.W yang ingin berusaha melaksanakan ajaran islam sesuai syariat .

    Kalau saya kebalikannya yang bertawasul justru disesatkan syetan. Hindari hal-hal yang nyerempet perbuatan syirik. Tidak rugi khan kalau anda tidak bertawasul, apa susahnya berdoa dan memohon langsung kepada Allah swt !!! Gitu aja repot.

  15. Buat saya lebih baik “sedikit” tetapi sesuai syariat, dari pada “banyak” tetapi tidak sesuai syariat.

    ————————————————

    Sastro Menjawab:
    Kalau buat kami, kita harus meraih yang terbaik; banyak dan sesuai syariat…Islam mengajarkan yang terbaik mas…!? gak tahu kalau Wahhaby..:P

  16. emang kang sastro cs and pemuja tasawuf itu kurang kerjaan kok…

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Kerjaan saya sangat banyak sekali mas, termasuk membuka topeng dan kedok Wahabisme ini :P

  17. Membuka topeng dan kedok wahabi ? for what ?pekerjaan yang sia-sia & wasting time dan belum tentu di ridhoi Allah swt.

    Tidak ada manfaatnya mas, mereka sebenarnya
    concern terhadap saudara sesama muslim. Mereka tidak mau saudaranya “tergelincir”. Kalaupun ada yang sedikit “keras” itu hanya oknum saja tidak semuanya begitu.

    ——————————————————————–

    Sastro Menjawab:

    Ungkapan anda benar, tapi ada syaratnya, jika terbukti bahwa kaum muslimin non Wahhaby telah tergelincir….tapi hingga kini, ternyata, apa yang dinyatakan syirik ternyata bukan syirik, apa yang dinyatakan bid’ah ternyata bukan bid’ah, dan apa yang dibilang oleh kelompok Wahaby sebagai khurafat ternyata bukan khurafat….Silahkan buktikan!

    Jika kaum Wahhaby melakukan hal itu dengan alasan “menyelamatkan kaum muslimin dari syirik dan bid’ah” yang ternyata gak betul maka hati-hatilah jangan sampai kalian menjadi bagian dari ayat Allah yang berbunyi: Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS al-Kahfi: 103-104)

    Dan sewaktu mereka ditegur karena pengkafirannya terhadap kaum musimin yang menyebabkan perpecahan (Fasad), mereka akan menjawab, kami hanya ingin menyelamatkan mereka dari kesyirikan (Ishlah). Ini tanda-tanda kaum munafik yang disinggung Allah: Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS al-Baqarah: 11)

    Maka saran kami, berhati-hatilah dengan pengkafiran kalian….

  18. Tuuu denger tro,apa kata mazzini:Tidak rugi khan kalau anda tidak bertawasul, apa susahnya berdoa dan memohon langsung kepada Allah swt !!! Gitu aja repot.
    lanjutnya juga:Buat saya lebih baik “sedikit” tetapi sesuai syariat, dari pada “banyak” tetapi tidak sesuai syariat.
    jangan cari kerjaan yang aneh-aneh troo

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Ya kalau gitu jangan salahkan saya, tapi salahkan Bilal al-Habsyi atau Abu Ayyub al-Anshari yang meminta pertolongan kepada Allah melalui kuburan Rasul…atau salahkan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq yang bertawassul kepada Ibnu Abbas sewaktu minta hujan….Apakah mereka semua gak tahu bahwa Allah Maha Mendengar sehingga harus melalui orang lain? Oh jika benar ungkapan kaum Wahaby, betapa bodohnya para Sahabat -naudzubillah- dan betapa cerdasnya para pengikut Wahhaby….eh tapi ngomong2, siapa yang layak disebut pengikut Salaf Saleh ya? Khan Salaf Saleh itu adalah para Sahabat mulia Nabi yang zamannya adalah sebaik-baik zaman karena mereka hidup paling dekat dengan turunnya wahyu? Wahhaby atau Ahlusunnah?

  19. coba perhatikan doa setelah adzan yang sering tiap hari diputar oleh TV, arti wasilah kepada Rasulullah itu apa?, apa kah tidak sama dengan tawasul?

    atau doa sesudah adzannya haram?, di batalkan shahihnya oleh wahabi?

  20. SAYA JAWAB :

    Gentle ? ah saya tdk butuh disebut gentle, tidak ada artinya buat saya. Saya tidak butuh penilaian seorang manusia. Cukup Allah saja yang menilai.

    Apakah para sahabat yang melakukan tawassul dan tabarruk hanya Bilal dan Abu Ayyub (2 orang saja)? Bagaimana dengan sahabat yang lain yang berjumlah mayoritas? apakah mereka melakukannya juga? darimana anda bisa mengatakan bahwa para sahabat yang mayoritas menyetujui perbuatan Bilal dan Abu Ayyub? jangan ngarang ah ….
    kalau mereka mendiamkan perbuatan Bilal dan Abu Ayyub apakah artinya mereka SETUJU? belum tentu mas.

    Menurut saya kalau tawassul dan tabarruk ada tuntunan dan contoh dari Nabi Muhammad saw. Semua sahabat pasti akan melakukan itu !!! tidak hanya Bilal dan Abu Ayyub saja.

    ————————————————

    Sastro Menjawab:

    Lho yang ngaku mengikuti Salaf Saleh secara murni khan kalian masa gak tahu sich bahwa sahabat siapa saja yang melakukan tawassul…berarti kalian gak tahu banyak tentang kehidupan Salaf Saleh donk, gitu koq ngaku Salafy? :P

    Mas, itu hanya contoh saja dari sahabat besar dan kaliber yang melakukan tawassul terhadap Rasul pasca meninggal beliau…adapun contoh sahabat yang melakukan tawassul terhadap Rasul selama beliau masih hidup maka bisa dicontohkan sahabat besar Abu Bakar pun melakukannya…sekali lagi itu sekedar contoh…kalau mau banyak, ya harus ditulis di buku mas, bukan di web blog kayak gini….

    Bukankah kalian setuju bahwa, Salaf Saleh adalah generasi terbaik? Salah satu bentuk nyata dari kebaikan mereka adalah perbuatan mereka harus tergoloing yang terbaik, sehingga harus ditiru bukan? Dan yang terbaik adalah ajaran Islam bukan, dimana salah satunya ada konsep Amar Makruf Nahi Munkar? Kalaulah apa yang dilakukan Abu Ayyub dan Bilal itu syirik atau bid’ah (seperti ajaran sekte kalian) maka sudah selayaknya para generasi terbaik tadi (Salaf Saleh) akan melaksanakan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasul (yaitu Amar Makruf Nahi Munkar) agar dapat diteladani oleh yang lainya…membiarkan perbuatan munkar sementara dia mampu merobahnya tergolong menyetujui kemunkaran bukan?

    Taruhlah saya harus menerima logika cara berpikir anda, maka saya katakan; Kalaulah apa yang dilakukan oleh Abu Ayyub dan Bilal itu salah dan diamnya para sahabat bukan menunjukkan persetujuan perbuatan Abu Ayyub dan bilal. Tapi saya mau tanya dulu, apakah anda mengakui bahwa Bilal al-Habsyi dan Abu Ayyub al-Anshari masih tergolong sahabat Rasul (Salaf Saleh)? Kalau tidak maka anda telah keluar dari kesepakatan para sejarawan (bukti sejarah) dan para ulama dalam periwayatan hadis. NAmun jika anda mengatakan “ya, mereka masih tergolong sahabat” maka saya akan katakan, paling tidak, orang melakukan tawassul terhadap orang yang telah mati memiliki -minimalnya- contoh dari dua Sahabat yang tergolong Salaf Saleh tadi. Dan diamnya mayoritas sahabat -yang versi anda- belum tentu membuktikan kebenaran prilaku Bilal dan Abu Ayyub, sebenarnya itulah yang harus dicontoh oleh kaum Wahaby sekarang ini yang mengaku-ngaku pengikut Salaf Saleh…kalau SAlaf Saleh diam melihat prilaku Abu Ayyub dan Bilal melakukan tawassul terhadap orang yang telah mati, maka selayaknya kaum Salafy Wahaby pun melakukan hal sama…kalau gak, mana bukti bahwa para pengikut SAlafy tadi mengikuti para Sahabat mulia Rasul yang tergolong Salaf Saleh?

  21. sastro…sastro,
    boleh tanya nggak?
    bagaimana ajaran syiah menurut anda?
    bagaimana pandangan anda tentang islam liberal?
    cuma 2 pertanyaan…

    ————————————————————

    Sastro Menjawab:

    Sebagai orang Ahlusunnah maka harus dikatakan bahwa Syiah adalah kelompok Islam di luar Ahlusunnah karena memiliki pendapat2 yang berbeda dengan kesepakatan Ahlusunnah. Dia masih kategori kelompok Islam, bukan sebagaimana pendapat Wahaby yang telah mengkafirkannya…lha wong mazhab2 Ahlusunnah aja dikafirkan koq, apalagi Syiah….:P Oleh karenanya, pada pertemuan ulama2 Islam dunia dari berbagai mazhab Islam di Bogor kala itu yang diprakarsai oleh NU, ulama2 Syiah pun turut diundang…Adapun apa saja perbedaan antara Sunnah-Syiah, ya silahkan cari situs Syiah….

    Secara ringkas, Islam Liberal adalah kelompok ‘pengikut Islam’ yang memimpikan kebebasan berpikir dan berkreasi. Mereka lebih cenderung liberal dalam berargumen rasional, berbeda jauh dengan kelompok literal seperti Wahaby yang cenderung teks book thingking….Tapi sayangnya, beberapa individu kelompok Islam Liberal sudah tidak lagi memperhatikan batasan-batasan sakralitas agama. Orang-orang Islam Liberal semacam itu, dan orang-orang Salafy Wahaby (Islam Literal) yang over teks book thingking tadi keduanya sama-sama ekstrim dan telah keluar dari garis netral yang diinginkan Islam…tapi walaupun ada juga dari mereka (baik Islam Liberal ataupun Islam Literal) yang masih memiliki potensi diperbaiki karena mereka memiliki kebersihan hati dan ketulusan.

  22. mazzini ki pie je ? kang sastro ngomong apa, ente ngomong apa.
    jawab tu, kalo para sahabat mayoritas mendiamkan (tanda bukan sebuah larangan) sayidina bilal dan sayidina abu ayub, berani ente menyatakan para sahabat bersekongkol buat bid’ah dan syirik ??
    lebi parah dari syiah, dah sahabat di bidah dan syirik, umat islam di bidah di syirik.
    ajib ajib…
    akhirnya ente malah mumet jg kan ?
    mbulet2 ?
    ya itu konsekwensi nya kalo ikut aliran sesat wahaby, rancu mbulet2, tabrakan sana tabrakan sini.
    emang susah ya jd ahlussunnah wal jamaah ?
    coba deh perhatikan konklusi dr ucapan ente dan jawaban kang sastro.
    buka mata hati, liat pake nurani, dan tanya diri sendiri “apakah aku sudah dijalan salaf shaleh, dimana ajaran akidahku sendiri menjadikan diriku rela mengatakan para sahabat terbaik nabi bidah dan syirik?? apakah memang mereka yg bidah dan syirik, ataukah aku yg selama ini berada dalam kesesatan yg nyata??”

    mudah2an semua menjadi jelas dan mudah2an Allah kasi hidayah.

  23. ya sudah kita semua umat muhammad, kok. kalo gak mana bs diskusi di sini. yang gak tawassul gak masalah. itu hak pribadi.perhatikan dalil kang sastro tentang tawasssul kalo ada yang tidak sesui dengan perilaku salaf, ya silakan tunjukkan. tetapi kalo ada, kenapa harus mengatakan bidah, sesat, syirik. yang mau tawssul ya silakan. tapi kalo melarang ya harus tunjukin mana dalil, perilaku nabi dan salafussalih. gak tawasssul sy kira gak apa2 itu bukti “pe de” berdoa langsung kepada Allah. yang tawassul juga menunjukkan sikap “Tawadhu’” bukan gak pe de. salafy bukan merk dagang kok, semua bs mencontoh salafy. tapi kalo melarang mohon tunjjukkan dalil.jangan hanya menuduh. biar enak yang baca.
    sedikit susai syariat lebih baik dari banyak tapi tak sesuai, setuju! berlaku umum. masalahnya dalam diskusi ini mana yang lebih kuat sandarannya kepada syariat, bukan hanya pengakuan. ok, silakan diskusi.

  24. Amar Makruf Nahi Munkar !!!
    Nah itu justru yang dilakukan yang anda sebut sebagai kaum wahabi terhadap orang2 yang berpaham “creative” dan “inovative” dalam menjalankan ajaran islam dan sunah Nabi.

    Berarti anda paham dong apa itu Amar Makruf Nahi Munkar ? saya pikir anda tidak paham. Syukurlah kalau anda paham.

    Yang harus anda ingat adalah manusia itu tidak sama sifat, karakter dan budayanya. Jadi setiap manusia dalam melaksanakan Amar Makruf Nahi Munkar pasti berbeda satu dengan yang lainnya tergantung oleh sifat, karakter dan budayanya masing2.

    Jadi hasilnya bisa lunak, moderat dan keras. itu manusiawi. Tapi yang paling penting dari itu semua adalah inti dari ajaran tsb. itu yang harus kita ambil.

    Sebagai ilustrasi:
    Seorang guru / pengajar ada yang galak dan keras, ada yang ramah, ada pula yang pendiam dsb.
    Terhadap guru yang galak, kita khan tidak harus lebih galak dari guru tsb. yang kita ambil khan tetap ilmunya.

    ———————————————————-

    Sastro Mengatakan:

    Anda mengatakan: “Yang harus anda ingat adalah manusia itu tidak sama sifat, karakter dan budayanya. Jadi setiap manusia dalam melaksanakan Amar Makruf Nahi Munkar pasti berbeda satu dengan yang lainnya tergantung oleh sifat, karakter dan budayanya masing2.”. Ini berarti menunjukkan anda kurang paham konsep Amar Makruf yang diinginkan Islam.

    Anda tahu tidak bahwa Amar Makruf Nahi Munkar itu adalah syariat Islam, dimana Islam telah menjelaskan dan menjabarkannya secara detail dan gamblang, baik yang berkaitan dengan penentuan obyek dan hukum mana yang makruf dan mana yang mungkar. Islam juga menjelaskan secara gamblang tingkatan, sikap dan batasan-batasannya. Jadi perbedaan karakter itu bukan menjadi “PEMBENARAN” sikap keras-lembut dalam ber-amar makruf nahi munkar seseorang….Islam yang menjelaskan, anda harus begini dan begitu. Islam melarang sikap arogan dan liar…dan tidak dibenarkan hanya dengan alasan karakter, sikon dan lingkungan saja.

    Islam tidak melarang bersifat keras, tetapi pada batasan apa, kepada siapa, karena apa….itu juga harus dilihat. Sebagaimana Islam juga lembut, tetapi harus dilihat; kepada siapa, batasanya apa, karena apa…. Justru fenomena yang ada di realita, berkaitan dengan pengikut sekte Wahaby berbeda, sekte ini telah mampu merobah karakter seseorang menjadi galak, garang, arogan…dan anehnya, sifat-sifat negatif itu dikonsentrasikan untuk kaum muslimin, bukan untuk kaum kafir. terbukti, para mufti kalian, kenapa berfatwa sesat kepada kelompok2 muslim non Wahaby, sedang mereka gak berani menyatakan sesat Raja mereka yang berangkulan dengan USA, Inggris, Prancis…yang semua adalah pembela Zionis Israel.

  25. Alhamdulillah diskusi tawassul dibuka, semoga Allah memberikan kemudahan kepada mas Sastro untuk membuka tabir kebenaran yang ditutup-tutupi kelompok wahabi dan merangkai-rangkai argumen untuk membidah syirikkan tawassul, monggo mas dikupas tuntas kami yang di sumatra mengikuti terus insya Allah

  26. Sikat terus bleh….
    Saudi memang kacung Amerika..

  27. memang kelompok yg anti tawasul ini tergolong yg maunya menang sendiri. lihat saja prilaku mereka:
    1. tahlilan, yasinan, mereka bilang bid’ah, karena kata mereka tak ada contohnya dari rosulullah. Padahal tahlilan dan yasinan jelas dianjurkan dalam alqur’an dan hadis nabi. Banyak hadis tentang keutamaan melakukan tahlilan dan yasinan. Artinya mereka mengharamkan hal yg dianjurkan oleh rosululloh saw.
    2. Mereka membidahkan orang yg membaca pujian (do’a) sebelum iqomat. padahal do’a di antara 2 azan dikabulkan oleh Allah. Sekalilagi mereka mengharamkan perbuatan yg dianjurkan oleh rosululloh saw.
    3. Mereka baca alfatihah dlm sholat, tanpa bismillah. Artinya sholatnya tdak sah, sebab alfatihahnya berkurang satu ayat. Kalaupun dibilang mereka baca bismillahnya secara sirri, mana ada hadisnya?

    Merekalah ahlul bid’ah yg sebenarnya. Ahlul bid’ah yg suka membid’ahkan orang lain.

  28. kang mazzini,
    dlm melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar ada aturan dari rosululloh:
    1. kalau mampu harus dilakukan dgn kedua tangan. Tentu harus tegas dan terang-terangan spti yg ada di surah at-taubah itu.
    2. kalau tak berani, barulah dgn menggunakan konsep nasihat.
    3. kalaupun tak berani juga menasihati, barulah dilakukan dgn berdo’a. Dan yg ke tiga ini adalah tanda orang yg sangat lemah iman.

    Ulama Salafy / Saudi tergolong yg mana ya? Tegas dgn masyarakat kecil, tapi mengkeret dengan penguasa.
    Begitukah sifat yg kalian sebut sbg ulama rabbani pewaris ilmu para nabi? Tak satupun dari nabi-2 ada yg bersifat pengecut spti itu.

  29. saya dukung mas sastro…

    saya juga mau menanyakan tentang tawassul ini, mudah-mudahan mendapat jawaban yang benar…

    di tempat saya (kalimantan selatan), kebanyakan masyarakat ada yang mengatakan boleh bertawassul dengan langsung memanggil-manggil orang (yang dianggap wali), untuk meminta:
    misalnya begini :
    Yaa Samman 3 x….. atau Yaa Abdul Qadir Jailani, pertanyaannya apakah boleh bertawassul dengan langsung memanggil orang itu, karena menurut sepengetahuan saya, yang dibolehkan adalah bertawassul dengan berdo’a kepada Allah dan dengan menyebut keberkahan wali itu (bukan memanggil langsung kepada dengan nama wali itu), dan menurut informasi dari teman-teman, bahwa ajaran tawassul yang seperti diatas (memanggil langsung nama wali) ternyata ajaran yang dibuat oleh penjajah Belanda (mungkin melalui ulama antek Belanda), dan telah ditemukan buku tentang tawassul di belanda bahwa tawassul yang sebenarnya adalah seperti ini :
    Ya rabbi Samman…. Ya rabbi Abdul Qadir Jailani, trus kita panjatkan do’a, jadi tawassul seperti ini lah yang sebenarnya…..
    menurut Mas Sastro bagaimana tanggapannya, saya mau tau, thanks…
    wassalam…

    ———————————————-

    Sastro Menjawab:

    Mas, coba tanyakan kepada mereka, kira-kira mereka mengakui keindependenan kemampuan Abdul Qodir Jaelani dari Allah gak? Karena ini garis pemisah syirik dan tauhid….nanti dalam kejian selanjutnya kita akan jelaskan di sini, silahkan tunggu….termasuk bagaimana hukum memanggil langsung nama kekasih Ilahi yang telah mati, tanpa menyebutkan kata ‘Rab’ yang diinisbahkan kepadanya itu…seperti Ya Muhammad ya Rasulullah aghitsniii….

  30. Alhamdulillah…..semoga Alloh menambah pemahamn kita….
    Buat Kang Sastro salut pertahankan terus cara da’wah begini (bil hikmah wal…..).
    Buat kang mazzini…gak apa-apa tidak tawasul juga…yang penting yakin..tapi keyakinan itu jangan terganggu dengan menuduh yang lain Musyrik…karena. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Alloh.
    Toh..kita akan ditanya tentang apa yang kita lakukan.

    Buat kang Sastro biar lebih mantep da’wahnya perbanyak baca sholawat fatih…(he..he..)-(pasti kata kang Mazzini “apaan sholawat fatih bid’ah tau..” karena mungkin beliau gak hapa.

  31. Alhamdulillah…..semoga Alloh menambah pemahamn kita….
    Buat Kang Sastro salut pertahankan terus cara da’wah begini (bil hikmah wal…..).
    Buat kang mazzini…gak apa-apa tidak tawasul juga…yang penting yakin..tapi keyakinan itu jangan terganggu dengan menuduh yang lain Musyrik.. Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Alloh.
    Toh..kita akan ditanya tentang apa yang kita lakukan.

    Buat kang Sastro biar lebih mantep da’wahnya perbanyak baca sholawat fatih…(he..he..)-(pasti kata kang Mazzini bilang “apaan sholawat fatih bid’ah tau..” karena mungkin beliau gak hapal.

  32. Mas Sastro,

    Inti ajakan gerakan wahhabi adalah MELURUSKAN akidah islam dan memurnikan tauhid.

    1. Apakah anda setuju dengan ajakan gerakan wahabi tsb? Kalau anda setuju berarti anda tidak ada masalah dengan ajakan gerakan wahhabi(Muwahhidin), ok !

    2. Mungkin yang menjadi masalah anda adalah CARA PENYAMPAIAN gerakan wahhabi dalam mengajak kaum muslimin meluruskan akidah islam dan memurnikan tauhid. Menurut versi anda terlalu keras.

    Anda setuju Islam tidak melarang bersifat keras, tetapi pada batasan apa, kepada siapa, karena apa….itu juga harus dilihat.

    Kalau kita tinjau sejarah lahirnya gerakan wahhabi. Situasi dan kondisi perilaku keagamaan umat Islam pada masa itu merupakan faktor utama yang paling mendorong munculnya gerakan ini. Pada ketika itu, terutama di Semenanjung Arab, telah terjadi penyelewengan dalam memahami al-Quran. Semangat keilmuan yang pernah muncul di zaman klasik telah pudar dan digantikan dengan sikap cenderung kepada perkara-perkara mistik. Menurut Wahhabi, tauhid yang diajarkan Rasulullah s.a.w. telah diselubungi kurafat dan fahaman kesufian. Masjid-masjid banyak ditinggalkan karena rata-rata mereka lebih cenderung menghias diri dengan azimat, penangkal penyakit dan tasbih. Mereka belajar daripada seorang fakir atau darwis serta memuja mereka sebagai orang-orang suci dan sebagai perantara mendekati Tuhan.
    Dalam keyakinan mereka Tuhan terlalu jauh untuk dicapai manusia melalui pemujaan secara langsung. Tidak hanya kepada guru yang masih hidup, kepada yang sudah mati pun mereka memohon perantaraan. Sebahagian umat Islam sudah meninggalkan akhlak yang diajarkan al-Quran, bahkan banyak yang tidak menghiraukannya lagi. Kota-kota suci Mekah dan Madinah telah menjadi tempat yang penuh dengan penyimpangan akidah.

    Nah dalam situasi dan kondisi seperti diatas, perlu sikap relatif keras dan tegas untuk MELURUSKAN akidah islam dan memurnikan tauhid umat islam pada waktu itu.

    Menurut anda sifat-sifat negatif itu dikonsentrasikan untuk kaum muslimin, bukan untuk kaum kafir.

    Jangan berprasangka buruk dahulu. Mereka hanya mengajak kepada kaum muslimin karena mereka TIDAK MAU saudara muslimnya “tergelincir”. Kalau orang-orang kafir ngapain dipikirkan karena mereka sudah jelas-jelas kafir.

    Tidak usah membawa-bawa USA atau Israel atau negara lainnya karena itu sudah diluar konteks, itu temasuk dalam kerangka dan koridor politik bukan ajakan inti gerakan wahhabi. Kalau anda tidak suka USA dan Israel, kita salaman dulu karena kita sama. Saya paling anti USA dan Zionis Israel, buat saya mereka adalah big satan dan dajjal.

    Tuh Gusdur pengikut setia Zionis Israel !!!
    Tapi tidak usah dipikirkan karena konteks nya berbeda. Tujuan kita adalah untuk meluruskan akidah islam dan memurnikan tauhid.

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Anda mengatakan: “Inti ajakan gerakan wahhabi adalah MELURUSKAN akidah islam dan memurnikan tauhid”, perlu bukti…! Dan di blog ini kita dalam rangka menjelaskan akan terlampau PD-nya sekte Wahabisme dalam pengakuannya itu…jadi perntanyaan anda itu akan jawab singkat;

    1- Gerakan Wahhaby adalah gerakan perusakan Islam dari dalam, dengan berkedok pemurnian…Buat setiap muslim sejati yang mengenal hakekat gerakan Wahabisme pasti tidak akan menyokongnya. Buat saya, Wahabsime adalah musang berbulu ayam.

    2- Bukan hanya sebatas cara, justru yang terpenting kesalahan Wahabisme terletak dan berasal dari “Metodologi pemahaman” yang menyebabkan “Kesesatan Berpikir” yang menghantarkannya kepada “Kekakuan Bertindak” itu adalah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Dan hanya bisa hilang dengan melepas jubah wahabisme.

    Anda mengatakan: “Semenanjung Arab, telah terjadi penyelewengan dalam memahami al-Quran”…itu khan penyelewengan versi Sekte Wahabisme…terbukti -nanti kita akan rilis- nama-nama para pemuka ulama Ahlusunnah wal Jamaah dari empat mazhab yang ada, yang semua menyatakan sekte WAhabisme sebagai sesat…apakah ulama empat mazhab Ahlusunnah itu sesat? Jika mengkritisi pemikiran kotor Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sesat maka saya jawab; Ya mereka sesat (versi Wahaby), termasuk si sastro juga sesat khan…:P

    Anda mengatakan: “Tidak usah membawa-bawa USA atau Israel atau negara lainnya karena itu sudah diluar konteks, itu temasuk dalam kerangka dan koridor politik bukan ajakan inti gerakan wahhabi”, lha terus bagaimana pendapat anda tentang dipeliharanya Muhammad bin Abdul Wahhab oleh Inggris via Klan Saud dalam penyebaran dakwah Wahhabismenya sehingga Inggris dapat denga leluasa menguasai JAzirah Arabia melalui politik Devide ad Empera-nya itu…? Dan Klan Saud menggunakannya untuk menggembosi kekuasaan Dinasti Usmani yang menjadi rival kekuasaannya di Tim-Teng….Jadi Wahhabisme adalah tidak lebih dari alat politik, dan kata yang lebih cocok adalah; Gerakan Politik Berkedok Agama…

    Anda mengatakan: “Tidak usah membawa-bawa USA atau Israel atau negara lainnya karena itu sudah diluar konteks, itu temasuk dalam kerangka dan koridor politik bukan ajakan inti gerakan wahhabi”…Kenapa? Takut tersingkap keterkungkungan pemerintah dan para mufti Saudi (sebagai donator dan penyokong penyebaran gerakan Wahabisme) di bawah ketiak USA dan Israel? :P Jika kenyataannya semacam itu, kenapa takut?

    Gus Dur? Kalaupun benar apa yang anda katakan itu, biarlah teman-teman pro Gus Dur yang menawabnya….lagian ada apa urusannya saya dengan Gus Dur? Kalaupun Gus Dur antek Israel trus akan membersihkan Saudi dari kenyataan antek USA dan Israel? Mas, anda tahu kaedah tawaarudul Akhtha’ laa Yubarrirul Khata’, paham gak? Kalau gak paham aku jelasin nanti…

  33. Mas Kliwon ,

    Yang harus di sikat itu USA & Israel. Itu musuh umat islam.

    ————————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Minta fatwa dulu mas dari ulama Wahaby Saudi…berani gak ya mereka kira2?

  34. Dear Rohmah Allah,

    - Tolong sebutkan hadist nabi dan ayat alqur’an yang menyebutkan perintah tahlilan, yasinan.

    - Membaca alfatihah dlm sholat , tanpa bismillah.

    Ini masalah berbedaan imam/mazhab. Ada imam yang menganggap bacaan bismillah bukan bagian dari surat Alfatiah dan sebaliknya ada imam yang menganggap bismillah termasuk surat Alfatiah.
    Jadi anda bebas memilih menurut keyakinan anda saja (mazhab yang anda anut).

  35. Dear Rohmah Allah,

    Ajakan gerakan wahhabi itu di tujukan untuk semua umat islam, tidak hanya untuk penguasa atau orang kecil. Semua sama.

    Ingat ajakan utama gerakan wahabi adalah untuk meluruskan akidah islam dan memurnikan tauhid. Bukan masalah politik dan ketatanegaraan.

    Tapi mengkeret dengan penguasa? maksudnya

    Sudah pasti penguasa atau raja juga di ajak untuk meluruskan akidah islam dan memurnikan tauhidnya. Ajakan itu berlaku universal mas, utk semua umat silam, tidak pilih-pilih. Yang patut ditakuti itu Allah swt mas bukan penguasa atau raja.

  36. saatnya diskusi.buka mata buka wawasan.siapa wahabi, siapa musuh wahabi.saling kritik, saling adu logika tentu saja ditunggu adu argumen dalil.pembaca gak terlalu tertarik dengan embel2 salafy (sastro atau wahaby). Mana yang menunjukkan dalil yang kuat?

  37. kang mazzini, semoga anda mendapatkan rohmah dari alloh swt.

    kata ‘tahlilan” dan “yasinan” hanyalah sebuah nama aktivitas yg sering dilakukan di masyarakat secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.
    Adapun dlm prakteknya:
    1.ketika tahlilan: orang memperbanyak membaca kalimah thoyyibah, tahlil, tahmid, tasbih dan takbir.

    2.dlm yasinan: orang membaca surah yasin, diawali dengan membaca alfatihah.

    baik membaca surah yasin (dan alqur’an pada umumnya) maupun membaca kalimah thoyibah, kedua-duanya ada dasarnya, baik dari alqur’an maupun dari hadist nabi saw. Tentu saja pada jaman rosululloh saw tak digunakan istilah “tahlilan” dan “yasinan”

    sebenarnya saya ingin mengutipkan dalil-dalilnya dan keterangan secukupnya yg saya baca di buku “40 mas’alah agama” yg ditulis oleh kyai siradjuddin abbas, allohu yarham. Tapi kutipan tsb akan banyak makan tempat. Lagi pula masalahnya tidk berkaitan dengan topik yg dikupas oleh kang sastro. Maaf saya tak bermaksud membahasnya di sini.
    Sebaiknya anda baca buku tsb, yg sdh dicetak ulang bbrp kali dan tersebar di seluruh nusantara, termasuk di Malaysia, brunai, pattani dan singapore (maksudnya sdh diterima baik oleh kaum muslimin pengikut ahlus sunnah wal jama’ah). Insya Alloh dalil dan argumen yg dikeluarkan oleh beliau sangat kuat.

    Tentang gerakan dan ulama wahaby, saya setuju dgn koment nya Mas Sastro.
    allahu a’lam.

  38. Kang Rohmah,

    Kumaha damang? semoga anda juga mendapatkan rohmah dari Alloh swt.

    Pertanyaan saya :

    - Bentuk kegiatan atau aktivitas tahlillan dan yasinan dilakukan untuk apa ? yang saya lihat di masyarakat kita umumnya dilakukan untuk memperingati sekian hari orang yang telah meninggal.

    - Kaitan dengan di atas, apakah bentuk dan aktivitas tahlillan dan yasinan tsb ada dicontohkan dan sesuai dengan sunah Rosululloh atau tidak? Kalau ada tolong sebutkan hadist yang shohih nya.

    - Apakah bentuk aktivitas tahlillan dan yasinan yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita juga dilakukan dan dilaksanakan oleh umat islam di seluruh dunia? atau hanya di Indonesia saja atau malah di P. Jawa saja?
    Saya yakin tidak akan dilakukan oleh umat islam di negara lain karena mereka mana kenal dengan wali yang ada di jawa yang selalu dikirimin do’a arwah ketika melalukan tahlillan.

    Bentuk aktivitas tahlillan dan yasinan seperti yang umumnya dilakukan oleh masyarakat kita tidak pernah dilakukan oleh para sahabat karena tidak ada contoh dari Rosulullah.

    Perlu anda ketahui bahwa bentuk & aktivitas tahlillan dan yasinan merupakan buah “kreasi dan inovasi” ulama besar yang berpaham aswaja. Makanya tidak pernah dilakukan oleh sahabat .

  39. Kang Rohmah,

    Supaya lebih adil dan fair, anda jangan hanya membaca buku-buku dari kalangan anda saja tapi anda juga harus membaca buku-buku dari kalangan yang mengkritisi dan menolak tahlillan dan yasinan. Anda baca kedua buku yang berlainan tsb dengan hati dan pikiran yang jernih. Lihat dasar hukum / dalil-dalil yang diambil kedua buku tsb mana yang lebih kuat dan shohih. Lalu anda ambil kesimpulan sendiri dengan jujur mana yang benar. Anda bebas memilih tapi ingat pilihan anda mrpkn tanggung jawab dan konsekwensi yang harus anda tanggung sendiri jika keliru.

    Semoga anda diberi hidayah dan rahmat oleh Allah swt.

  40. wahabi, lucunya, mengakui keutamaan Ahlul Bait Nabi Saww tapi juga membenci Ahlul Bait Nabi Saww. Tapi mereka g bisa menghilangkan keutamaan Ahlul Bait Saww, mereka hancurkan pengikut-pengikutnya.

  41. @mazzini Sebenarnya komment2 mazzini sangat lucu dan terkesan ta’asubnya..katanya mengikuti salafussholih, tapi ketika disodorkan contoh dari sahabat Bilal dan Abu Ayyub, dengan beraninya mengatakan MAzzini :”why not, saya BERANI jika yang diperbuat Bilal dan Abu Ayyub tidak sesuai dengan syariat. Karena Nabi Muhammad SAW juga akan berlepas tangan apa yang diperbuat oleh sahabat / umatnya jika tidak sesuai dengan syariat yang beliau ajarkan atau contohkan.” sungguh hebat ilmunya mazzini sehingga berani menghukumi perbuatan sahabat Bilal dan Abu Ayyub “tidak Sesuai syari’at, itulah kalau seseorang sudah taklid buta terhadap ajaran golongannya tanpa reserve balik..padahal tahukah saudara bahwa dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasul saw mendengar terompah Bilal disurga(sehingga bilal merupakan salahsatu sahabat ahli surga)…jadi jika Mazzini mengatakan bahwa perbuatan bilal adalah tidak sesuai syariat, tetapi Bilal adalah ahli surga???? maka para pembaca bisa menilai pendapat mazzini…dan terakhir saya ingin tahu, salafusshalih yang mana yang diikuti oleh salafy ini? jiika ada sahabat yang tidak sesuai dengan ajaran salafy maka mereka berani menghukumi “tidak sesuai syariat”..jadi terkesan bahwa sahabatlah yang harus menyesuaikan dengan ajaran salafy dan bukan salafy yang ittiba’ dengan para salafusshalih sebenarnya….

  42. Vai,

    Yang lucu itu anda he .. he .. he …
    coba check tulisan saya “berani JIKA yang diperbuat Bilal dan Abu Ayyub atau sahabat manapun tidak sesuai dengan syariat. Karena Nabi Muhammad SAW juga akan berlepas tangan apa yang diperbuat oleh sahabat / umatnya jika tidak sesuai dengan syariat yang beliau ajarkan atau contohkan.

    Saya tidak menuduh para sahabat (yang menuduh bodoh sahabat itu khan mas sastro) Saya katakan JIKA … ingat JIKA para sahabat melakukan tdk sesuai dengan syariat dan tidak sesuai dgn yang dicontohkan Nabi.

    Sekarang saya mau tanya apakah sahabat Bilal dan Abu Ayyub tidak pernah melakukan kesalahan? dan apakah ahli surga tidak pernah berbuat kesalahan?

    Apakah para sahabat yang melakukan tawassul dan tabarruk hanya Bilal dan Abu Ayyub (2 orang saja)? Bagaimana dengan sahabat yang lain yang berjumlah mayoritas? apakah mereka melakukannya juga? darimana anda bisa mengatakan bahwa para sahabat yang mayoritas menyetujui perbuatan Bilal dan Abu Ayyub?
    kalau mereka mendiamkan perbuatan Bilal dan Abu Ayyub apakah artinya mereka SETUJU? belum tentu mas.

    Menurut saya kalau tawassul dan tabarruk ada tuntunan dan contoh dari Nabi Muhammad saw. Semua sahabat pasti akan melakukan itu !!! tidak hanya Bilal dan Abu Ayyub saja.

    ————————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Wah mas ini gak bener logikanya, kata JIKA jika terpenuhi maka hukumnya akan bersifat positif….saya contohkan. JIKA mas Mazzini adalah Wahaby MAKA dia pengikut fanatik Muhammad bin Abdul Wahhab. Kalau ternyata terbukti di riilnya bahwa Mazzini adalah Wahaby maka kata-kata MAKA tadi menjadi benar….coba sekarang anda praktikkan dengan ungapan anda tentang sahabat Bilal dan Abu Ayyub dech, kalau anda cerdas! Lihat relasi antara JIKA dan MAKA dalam ungkapan anda tersebut…!

    Anda belum menjawab pertanyaan saya; kalau benar bahwa apa yang dilakukan Bilal dan Abu Ayyub adalah syirik maka kenapa para sahabat lain tidak melakukan Amar Makruf Nahi Munkar yang diwajibkan dalam syariat Rasul? Apa mungkin para sahabat itu kompak untuk males melakukan kewajiban syariat Rasul berupa Amar Makruf Nahi Mungkar? Kalau gak, kenapa mereka diam melihat ada saudaranya melakukan perbuatan Syirik yang paling dibenci oleh Allah? Ini yang saya maksud bahwa mendiamkan sebuah perbuatan -buat orang mulia seperti sahabat Rasul- maka hanya ada satu kemungkinan saja, membenarkan perbuatan tersebut. Kalau tidak maka berarti anda telah Su’udzan terhadap mereka, kalau tidak karena malas beramar makruf atau membiarkan kesyirikan..lha kalau gitu berarti Sahabat Nabi (Salaf Saleh) gak perlu diikuti donk? Masa’ kita mau ikutin orang males dan meridhoi kejelekan? Trus mana bukti ungkapan Nabi bahwa sebaik umat adalah zaman para Sahabat tersebut?

    Memang benar Ahli Sorga terkadang melakukan kesalahan, tapi kesalahan model apa? Itu yang anda lupa…kalau kesalahannya adalah SYIRIK (kalau benar itu syirik, tapi itu versi Wahhaby) maka Syirik adalah sejelek-jelek kezaliman dan paling dibencinya perbuatan oleh Allah, niscaya mereka mustahil masuk Sorga…paham mas..?

  43. kita kalau sholat selalu bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Para orang2 sholeh (dalam Al-Fatehah)..maka bila yg tidak setuju dengan tawasul ya ga usah baca Fatehah n solawat nabi d tiap tasyahud…hehehe..gmn coba kalau ga baca itu..apa sholatnya sah?

  44. Buat yg ngaku bisa langsung kpd Allah, Nabi Muhammad aja bertawassul dg jibril, kalian yg sontoloyo mau langsung, yg ada langsung disambar setan

  45. Maaf agak sedikit diluar kontek nih,

    Apakah kyai yang isi ilmu kebal untuk pasukan garda bangsa termasuk ajaran aswaja? apakah kyai seperti itu perlu menjadi panutan?
    Apakah seorang kyai aswaja yang mendukung Zionist Israel perlu dijadikan panutan umat aswaja? Apakah kalian yang mengaku aswaja berani mengkritik kyai kalian yang nyeleneh yang membela musuh islam? I want to hear your comment

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Lah koq mau lari dari pertanyaan trus malah ngasih pertanyaan, apalagi yang gak ada hubungannya lagi…aneh sampean ini?:P

    Yang anda sebut2 itu khan mau menyinggung beberapa ulama NU khan? Trus apa hubungannya dengan Sastro mas?

    Lebih baik, anda jawab aja pertanyaanku itu lho dulu…jangan lari dari kenyataan mas…MALU

  46. Mas Sastro,

    Menurut anda syirik itu apa?

    —————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Anda pahami betul ya mas…Meyakini akan adanya ‘Sekutubagi Allah Dzat Yang Maha sempurna. Ini singkat tapi perlu kejelian dan kecerdasam dalam memahaminya. Lha menurut anda apa? :P
    Mas, yang tak kasih huruf miring itu renungkan baik-baik…

  47. Buat mas mazzini, perlu dibedakan antara aswaja, NU dan PKB (sempalan PKB). Kalo anda menuduh aswaja menganjurkan isi ilmu kebal berarti anda memfitnah namanya. Garda Bangsa atau Gus D tdk mewakili aswaja bahkan jg tdk mewakili NU secara keseluruhan. Jadi jgn asal main tuduh aja dong.
    Kalo mau menuduh tuduhlah individu2nya, jgn semua digeneralisir. Tapi mungkin sudah menjadi kebiasaan anda dan golongan anda mungkin dengan mudah menggeneralisir semua hal .:D

  48. mazzini, memang engga ada yang mewajibkan tawassul dalam berdoa. Mas Sastro cuma mau membantah pendapat Wahabi yang keliru mendudukan persoalan bida’ah/syirik secara proporsional.

    Kalau anda mau sedikit membaca literatur agama mengenai makhluk yang disebut manusia dan perbedaannya dengan binatang, insya Allah anda pasti akan mengetahui hakekat manusia. Hakekat manusia adalah RUHANI-nya. Jadi kalau manusia biasa mati, maka Ruhaninya tidak mati. Justeru Ruhaninya akan semakin tajam ketika berpisah dari jasadnya. Apalagi yang meninggal seorang maqom spiritualnya sangat dekat di sisi Allah seperti para Nabi, tidak hanya mereka tetap hidup Ruhaninya, tetapi juga dikaruniai oleh Allah keistimewaan2 seperti syafaat dsb.

    Jadi tidak ada bedanya twassul melalui orang yang masih hidup maupun yang sudah mati, dengan catatan tidak semua orang pantas untuk ditawasuli. Hanya orang2 denga maqom yang istimewa saja seperti para Nabi/Rasul dan Wali serta para orang saleh.

    Makanya walaupun anda mengaku bukan orang Wahabi, so tanggalkan dulu pandangan Wahabinya tentang manusia. Sekali lagi manusia sangat berbeda dengan kucing.

  49. Mas Sastro,

    Bukan lari mas tapi “break” dulu sebentar he .. he .. he … mumpung lagi hangat nih, jadi saya tanyakan dulu masalah ilmu kebal.

    Ya yang saya tanyakan itu mengenai kyai NU yang berpaham sama dengan anda aswaja yang isi ilmu kebal dan pembela zionis Israel. Saya ingin tahu pendapat dan pemahaman anda mengenai masalah tsb.

    Kira-kira anda berani nggak mengkiritisi kyai-jyai anda dalam masalah ini? I want to hear

    —————————————————————

    Sastro Menjawab:
    Lha koq pakai alasan segala tho mas…terus terang aja, gak papa koq? :)

    ilmu kebal, apakah tergolong Syirik atau Bid’ah? Anda akan menyesatkannya karena anda akan beralasan bahwa ilmu itu tidak pernah diajarkan oleh Rasul dan Sahabat, atau kalau ilmu itu baik maka Rasul dan Sahabat yang terlebih dahulu mempelajarinya, bukan? Bisa ditebak mas…:P Kalau begitu, bukan hanya ilmu kebal, banyak ilmu yang tidak diajarkan oleh Rasul dan sahabat atau dipelajari oleh Rasul dan sahabat tapi sangat bermanfaat…Coba anda cek satu-satu ilmu apakah gerangan? Ini tebak-tebakan mas….ini juga bagian dari “break” juga. :)

    Kalau yang anda maksudkan itu adalah Gus Dur maka silahkan tanya sama Hasyim Muzadi, apakah semua prilaku Gus Dur mempresentasikan NU? Kayaknya itu sudah dijawab sama PB-NU.

    Mas, kita menjadikan tolok ukur kebenaran adalah kebenaran itu sendiri, bukan figur…kalau ada orang awam menjadikan figur sebagai tolok ukur kebenaran, ya namanya juga awam…makanya, kami berani mengkritisi orang seperti Ibnu Tai-miyah dan Ibnu Abdul Wahhab pun berdasar kaidah di atas, apalagi kyai-kyai biasa…

  50. Mas Satro,

    Menurut anda meyakini akan adanya sekutu bagi Allah Dzat Yang Maha sempurna itu seperi apa? Apakah hanya cukup meyakini saja ?

    —————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Justru yang ingin saya tanyakan kepada anda adalah; apakah yang anda tanyakan itu berkaitan dengan konsep tauhid atau praktek tauhid? Tahu khan beda dan relasi antara konsep dan praktek? Kalau gak tahu nbgomong lho, jangan sungkan-sungkan…:P

    Mas, keyakinan itu adalah satu hal yang sesesial dan substansial dalam pembeda antara tauhid dan syirik, baik dalam teori maupun dalam praktik peribadatan…anda shalat dengan cara Islam (secara zahir) di depan Ka’bah dengan keyakinan bahwa rumah batu itulah yang kita sembah, maka aanda tergolong musyrik…namun, walaupun anda sujud di depan manusia (seperti yang dilakukan para malaikat terhadap Adam dan Nabi Yakqub beserta anak-anaknya di hadapan Yusuf) jika tetap meyakini bahwa Allah-lah Tuhan yang Maha Sempurna dan layak disembah maka anda masih tergolong muslim…waduh, baca lagi dech yang teliti tentang “Kerancuan konsep Tauhid Wahabisme”…makanya mas, baca dulu, baru kritik atau tanya kalau gak paham…

  51. Mas Sastro,

    Saya hanya mengikuti logika bengkok anda saja .. he.. he .. he … karena anda hanya ingin memaksakan orang lain mengikuti logika dan cara berfikir anda saja.

    Wah contoh anda salah total tuh mas, saya bukan wahabi (mana ada islam wahabi). Saya islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tanpa ada tambahan embel apapun. Saya tidak tahu mas Sastro islam yang mana nih? apa yang ada embel-embelnya.

    Sastro said :
    Anda belum menjawab pertanyaan saya: kalau benar bahwa apa yang dilakukan Bilal dan Abu Ayyub adalah syirik maka kenapa para sahabat lain tidak melakukan Amar Makruf Nahi Munkar yang diwajibkan dalam syariat Rasul? Apa mungkin para sahabat itu kompak untuk males melakukan kewajiban syariat Rasul berupa Amar Makruf Nahi Mungkar? Kalau gak, kenapa mereka diam melihat ada saudaranya melakukan perbuatan Syirik yang paling dibenci oleh Allah

    Itu khan logika bengkok anda. Bagaimana kalau logikanya saya balik. Kalau itu memang perbuatan syari dan ada contohnya dari Nabi Muhammad saw. Apakah hanya Bilal dan Abu Ayyub saja yang taat yang mengikuti sunnah rosulullah dan itu artinya anda mengatakan mayoritas sahabat malas dan tidak taat mengikuti sunnah rosulullah karena tidak mengikuti perbuatan Bilal dan Abu Ayyub.

    —————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Mas, semua orang -dari golongan manapun- akan mengaku sebagai Islamnya Rasul…Baik Sunni maupun Syiah, baik yang bermazhab Syafi’i, Hanafi, Hambali dan Maliki, atau yang “asy’ari, mu’tazilah, thohawi ataupun maturidi…dst. Itu sich pengakuan saja…perlu bukti! Kalau anda tidak bermazhab lantas apakah Rasul langsung mengajarkan Islam kepada anda? Anda mungkin bisa berkelit dengan adanya al-Quran…lantas, al-Quran menurut pemahaman siapa? Pemahaman anda? Anda mungkin bisa berkelit dengan adanya hadis. Trus anda tahu dari mana hadis itu benar mutlak? Dan taruhlah hadis itu benar, lantas tahu dari mana bahwa pemahaman anda tentang hadis itu benar, sehingga anda tidak perlu lagi mengikuti pemahaman ulama Salaf yang anda anggap lebih pandai dari anda? Kalau anda sangat PD dan tidak mengambil pemahaman siapapun maka jangan segan-segan untuk menjadikan pemahaman anda itu seabagai “mazhab Mazziniyah” yang merupakan “Mazhab yang tidak bermazhab”. Trus Wahaby ada dimana? Mungkin di bagian Khawarij kali ya?:)

    Adapun pernyataan anda yang mengatakan: “Kalau itu memang perbuatan syari dan ada contohnya dari Nabi Muhammad saw. Apakah hanya Bilal dan Abu Ayyub saja yang taat yang mengikuti sunnah rosulullah”…ini kesalahan paham Wahabisme yang menyatakan bahwa, “segala perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Nabi berarti dilarang”, lantas mereka jadikan tolok ukur Bid’ah. Kalau begitu, shalat tarawih berjamaah pun Bid’ah donk, lha Nabi gak pernah mencontohkannya?:P

    Adanya contoh perbuatan beberapa Sahabat dan pendiaman para sahabat lain atas sebuah perbuatan, itu paling tidak juga dapat menjadi bukti bahwa itulah ‘tolok ukur kebenaran’ (maksud saya, bukan tergolong Bid’ah apalagi syirik) dari perbuatan tersebut, walaupun tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Dikarenakan mereka hidup sezaman dengan Rasul (zaman turunnya wahyu) maka mereka telah tahu dan paham banyak tentang tolk ukur kebenaran akidah yang dibawa oleh Rasul, sesuai dengan pemahaman mereka terhadap apa yang diajarkan oleh Rasul. Toch bukan hanya Abu Ayyub dan Bilal saja yang melakukan itu dan dibiarkan oleh para sahabat, siti Fathimah yang menagis dan memeluk kuburan Rasul di hadapan suaminya sayidina Ali (amirul mukminin, tergolong khalifaurrasyirdin) dan beberapa sahabat besar lain, kenapa dibiarkan? Wah masa harus saya ulangi pertanyaan saya, baca lagi dech beberapa artikel yang sudah saya up load itu…

  52. @mazzini, di/pada Juni 3rd, 2008 pada 3:14
    alhamdulillah, barokallohu fiik.
    Mas, saya juga baca buku “lawan” dari Kyai Sirojuddin Abbas, yaitu buku yg ditulis oleh Ustadz A.Hassan dkk. Allohu yarhamuhum. (karena perbedaan diantara ummat Muhammad saw adalah rohmah).
    Spti yg sdh saya katakan bhw mengenai masalah tahlilan dan yasinan saya tak akan membahasnya di sini.
    Dan sbagaimana yg anda anjurkan, maka sebaliknya anda hendaknya juga membaca buku-2 yg membela aswaja.
    Di blog ini kang sastro sdh menjelaskan dgn terang benderang, apakah yg selama ini dituduhkan oleh kelompok anda sbg perbuatan bid’ah dan syirik, ternyata terbukti bukan perbuatan bid’ah ataupun syirik. Dan kelompok andapun memang tak mampu membantahnya. Karena itu sebelum ada yg mampu menjawab tulisan-2 kang sastro di blog ini dgn hujjah yg lebih baik, maka bisa diambil kesimpulan bahwa anda dan kelompok andalah sebenarnya yg melakukan perbuatan bid’ah, yaitu melarang amalan yg sebenarnya diperbolehkan dalam agama Islam dan menghukuminya sbg perbuatan bid’ah.
    PS: Sejauh ini saya pribadi masih berkesimpulan bahwa sebagian tulisan-2 ustadz Sirajuddin Abbas lebih kuat dibanding tulisan lawannya. Allohu a’lam.

  53. @mazzini:
    “Perlu anda ketahui bahwa bentuk & aktivitas tahlillan dan yasinan merupakan buah “kreasi dan inovasi” ulama besar yang berpaham aswaja. Makanya tidak pernah dilakukan oleh sahabat .”

    Mas, kalo dgn logika spti itu maka saat ini kita bisa lihat fenomena pengumpulan zakat gaji yg kebanyakan dilakukan oleh kelompok pendukung wahhabisme.
    Adakah rosululloh dan sahabat beliau memerintahkan dan mencontohkan untuk mengumpulkan gaji karyawan setiap bulan sebanyak 2-1/2% sebagai zakat? Adakah ketentuan zakat “gaji karyawan/buruh/pegawai” di jaman rosululloh? Kalo tak ada dilakukan oleh rosululloh dan sahabat-2 beliau kenapa skrg dilakukan? Apakah itu bukan “kreasi dan inovasi” juga? Pernahkah shohabat melakukannya? Dan yg lebih penting lagi, mengapa hal spti ini tak pernah anda protes?
    Kalo didasarkan pada azas mengambil manfaat, apa boleh ibadah di qiaskan? mengingat bahwa zakat adalah ibadah wajib yg sdh ada kaifiyahnya, bahkan termasuk dlm rukun islam..
    Kalo anda mengakui azas manfaat dan mendasarkan zakat pada qiyas, maka demikian juga yg dilakukan kaum aswaja dlm hal yg anda katakan sbg “kreasi dan inovasi” oleh ulama-2 besar mereka.

    “Janganlah kebencian kalian terhadap suatu qaum membuat kalian berlaku tidak adil. Berlakulah adil, karena sikap adil lebih mendekati kepada taqwa.”

  54. betul and sutuju kang sastro!!!. pengen denger wahaby bilang abu ayyub dan bilal itu syirik, bid’ah. mana berani….

  55. ternyata banyak komen dr ana yg antum hapus yaa…

    knp takut orang2 baca komen ana trus akhirnya orang2 bisa tau ttg kebohongan antum

    sadarlah mas sastro sebelum Laknat Allah datang kpdmu sang pembawa berita palsu

    ——————————————————

    Sastro Menjawab:

    Itu bukan komentar mbak, tapi COPY-PASTE yang bukan dari pemikiran nt dan habis-habisi space…gak usah repot2, beri saja alamat situsnya, cukup….

  56. mungkin mazzini lum kenal ama ilmu kebal kali ya..ilmu kebal ( debus) bukanya semacam ilmu hikmah? siapa aja bisa mempelajarinya..bukan hanyak kaum muslim aja.. orang yg baik maupun yg jahat sekalipun bisa mempelajarinya..asalkan ilmu kebal digunakan untuk menopang dakwah islam apa salahnya jika memakai ilmu kebal? toh asal kita bertauhid bahwa semua ilmu tsb hanyalah kepunyaan ALLAH..para kyai/ulama2 n walisongo dulu memakai ilmu hikmah ya tuk menopang dakwah dari jajahan Belanda dan Bramacorah yg mempunyai ilmu hitam..tetapi apakah kyai/ulama dulu terjerumus dlm kesyririkan? syrik itu di hati bukan d mata..jd yg tau syirik hanyalah ALLAH..

  57. ah waktu itu ana kasih alamat situs manhad salaf yg bener juga anda apus kan??? ckck takut kebongkar yo mas…

    ———————————————

    Sastro Menjawab:
    Lho mbak cek dulu tho….memang yang aku cantumin (setujui) cuman satu doang…lha wong anda nulis promosinya isinya sama dan berulang-ulang…satu aja cukup!

  58. mazzini,orang mau tawassul kok diributin.memeng mazzini hidup di zaman rosul.apakah mazzini orang alim melebihi para aulia illah.apaka mazzini seorang ulama.kalo ulama anda yang ngonong pantes bisa berdebat dengan par kiai alim ulama.kalo kamu cuma jenggotnya aja yang panjang.orang kao pahan akan ilmu tauhid omongannya halus mas karena punya akhlak.ksalo kam kayaknya gak punya akhlak kelihatan dari omonganmu.saya sarankan anda belajar lagi ilmu tauhid sulthonul ulum\RAJANYA SEMUA ILMU, P[AHAM GAK MAZINI APA YANG DINAMAKAN SULTHONUL ULUM.

  59. gunung limo & rohmah alloh ,

    Sebenarnya saya tidak meributkan dan mempermasalakan apakah kalian mau tawasul, tahlilan dan sebangsanya karena itu hak dan keyakinan kalian. Kalaupun saya memberi sedikit komentar tidak lain sebagai Amar Makruf Nahi Munkar kepada saudaranya. Kalau kalian tidak bisa menerimanya. Itu tidak menjadi masalah, tidak ada paksaan dan itu hak kalian.

    Yang menjadi masalah adalah saya tidak bisa menerima SIKAP mas Sastro yang kasar, menghina, merendahkan dan memfitnah ulama yang tidak sepaham dengan dia. Sikap mas Sastro tsb tidak sesuai dengan sunnah dan ajaran Nabi saw.

    —————————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Maaf sedikit nimbrung….kalau yang anda maksud dengan ulama tadi adalah Ibnu Tai-miyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab maka akan saya katakan;
    1- Kalau anda lihat di beberapa karya mereka berdua maka akan anda dapati berapa banyak ulama yang mereka hina dan rendahkan sehingga membuat para ulama dari empat mazhab sekaligus memberikan reaksi dari aksi yang mereka lancarkan. Apakah perbuatan kedua itu sesuai dengan Sunah Rasul?
    2- Kalau anda setuju bahwa siapapun yang menghina itu bukan meniru Sunah Rasul maka berarti anda harus menerima bahwa Ibnu Tai-miyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab bukan ulama. Atau taruhlah mereka ‘terpaksa’ disebut ulama, tapi khan kita ada juga istilah ulama Su’ (ulama yang buruk dan menyimpang).

  60. Era_muslim,

    Jadi anda setuju dengan ilmu kebal kalau ilmu tsb untuk menopang dakwah islam?
    Anda mengaku ahli sunnah? Sunnah darimana itu?
    Ketika perang melawan musuh, tentu Nabi saw dan para sahabat pakai ilmu kebal dan tidak akan mengalami luka2.
    Cukup jelas?

  61. Mas Sastro,

    Buat saya, siapapun apakah dia Ibnu Tai-miyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab atau imam 4 mazhab atau siapa saja yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi saw ya perlu dikritisi, hanya yang perlu di ingat cara penyampaian dalam mengkritisi perlu etika yang sesuai sunnah Nabi saw, sehingga kita mengikuti sunnah bukan dengan melanggar sunnah.

    Buat saya kebenaran itu hanya datang dari Allah swt dan Nabi Muhammad saw, diluar itu ya manusia biasa tidak luput dari kesalahan.

    ————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Setuju banget…makanya saya selalu menggabungkan antara Quran, Sunnah dan prilaku Salaf Saleh yang sesuai dengan Quran dan Sunnah sebagai sumber argumentasi saya dalam menulis artikel, bukan hanya ungkapan sahabat dan ulama saja.

  62. Mas Sastro H,

    Tidak masalah kalau anda mengkritisi karya Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab. Kalau menurut anda beliau tidak sesuai sunnah Nabi. Tetapi yang perlu anda ingat adalah cara mengkritisi harus sesuai sunnah sehingga anda tidak melanggar sunnah juga.

    Hanya saya punya satu pertanyaan, apakah anda benar-benar yakin 100%, apa yang beliau ajarkan / himbau tidak sesuai sunnah Nabi???
    Apakah anda berani bertanggung jawab di hadapan Allah swt bila apa yang anda tuduhkan itu tidak benar.
    Kalau anda memang benar-benar yakin dan siap bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Silahkan lanjutkan mengkritisi beliau karena itu hak anda.

    Hanya saya perlu ingatkan ada dua konsekwensi yang akan anda hadapi:
    1. Kalau apa yang anda tuduhkan kepada beliau tidak benar. Anda akan mendapat azab & siksa yang pedih dari Allah.
    2. Kalau apa yang anda tuduhkan kepada beliau benar. Anda akan mendapat rahmat dari Allah.

    Tetapi buat saya pribadi, ajakan inti beliau sangat mulia terlepas dari kekurangan beliau sebagai manusia. Mengajak manusia untuk menegakan tauhid dan meluruskan akidah.

    ———————————————————

    Sastro Menjawab:
    Mas, saya mengkritisi semacam itu karena saya bukan hanya ikut-ikutan saja, saya telah menelaah buku-bukunya. Bahkan saya juga pernah menjadi pengikut kelompok yang diberigelar ‘Wahhaby’ itu. Jadi saya bukan hanya katanya (qoola wa qiila) doang…

    DEMI ALLAH DAN RASULNYA…saya berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah dan Rasul-Nya di hari pembalasan kelak….! Terserah orang mau bilang apa…

  63. para ulama dulu juga memakai ilmu hikmah..bukanya semua d dunia ini memakai ilmu hikmah? jika ingin mengambil madu dari sarang lebah bukankah harus mengetahui ilmu lebah? kalau jaman rasul mah jelas langsung mendapat perlindungan dari Allah SWT melalui malaikta jibril..tapi manusia biasa bagaimana? apalagi yg ilmunya sedikit..bukankah kita harus berusaha agar akidah kita tetap d jalan Allah? ibnu sina dan al gazhali aja memakai ilmu hikmah..saya lebih percaya ama ibnu sina n al-ghazali drpd mazzini..ya karena akidah mazzini lum kuat x jd memang ilmu hikmah itu harus d jauhi jd sebaiknya bukan d hukumi haram…

  64. Mas Sastro,

    Sangat menarik sekali bahwa anda dahulunya adalah pengikut wahhaby juga. Kalau boleh tahu untuk menambah wawasan dan pembelajaran buat saya:

    1. Apakah anda asalnya aswaja terus ke wahhaby dan kembali ke aswaja?
    2. Atau apakah memang awalnya wahhaby terus sekarang menjadi aswaja?

    Motivasi apa yang membuat anda pindah dari aswaja ke wahhaby dan sekarang balik ke aswaja lagi? Apakah dalam rangka pencarian mana yang paling benar dan sesuai dengan Alqur’an dan sunnah Nabi? Apa yang anda peroleh selama di wahhaby?

    Mohon penjelasannya.

    ————————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Kemungkinan yang pertama spertinya lebih cocok mas…adapaun yang saya peroleh dari Wahabisme adalah semua yang saya tulis di blog ini, KERANCUAN.

  65. assalamu’alaikum wr.wb.

    Wuihh… tampilannya baru lagi nih.
    Sebagai pengunjung, saya bangga lho om… soalnya diakui atau tidak, perubahan2 yg om lakukan koq berkaitan dng koment2 saya dulu ya :
    1. Sekarang kajiannya lebih sistematis >>> masih ingat kritisi saya ttg konsep mempelajari Islam secara kaffah & step by step ?
    2. Dibuangnya koment2 yg tak ada hubungannya dng artikel >>> masih ingat sindiran saya bahwa om ga bisa membedakan antara koment kasar dan komen keras ?
    3. Waktu masuknya koment pengunjung yang dibuat seragam (3:13 atau berapa tuh) dan sekarang malah ga ada jamnya >>> masih ingat koment saya yg mengingatnya banyaknya pengunjung yg masuk pada jam2 sholat maktubah ?
    Dan sekarang Lay Out nya dibuat berubah2

    Ikhtitam :
    Waktu saya tanya komentar ke temen2 ngaji di pesantren saya ttg keberadaan web blog ini… apa jawabannya ? Walah…jarno wae, biasane iku kerjaane mahasiswa sing ora lulus2, golek saingan debat.
    Bener ya, om ???

    wassalmu’alaikum wr.wb.

    —————————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Wassalam wr wb
    Mahasiswa gak lulus? Wah, kalau saya sudah ngajar mas….bukan mahasiswa lagi:P. Kayaknya teman-teman anda itu yang harus belajar yang rajin biar cerdas dikit….:P
    Wassalam

  66. mau tanya ke mas sastro
    1. siapa robmu mas?
    2. apa agamamu mas?
    3. siapa nabimu mas?

    ————————————————

    Sastro Menjawab:
    wah ingat pertanyaan di kubur mas…?:) Tapi pertanyaan yang lain juga masih ada lho…jangan lupa!:P

  67. om…tampilanya di balikin kaya dulu lage aja, orang kita mau cari artikelnya bukan gambar/ avatar nya, mohon dipertimbangkan

    ——————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Saran mas pasti akan direkomender, tapi gak sekarang mas…nanti kita akan cari yang lebih cocok dech mas. Makasih masukanya mas…

  68. Mas Sastro,

    Sangat menarik !!!
    Menyambung jawaban anda, saya ingin mengetahui lebih lanjut. Mengapa waktu itu anda “hijrah” ke wahhabi? apa yang menarik dari wahhabi waktu itu sehingga anda mencoba untuk “hijrah” dari aswaja ke wahhabi? dan bagaimana pandangan anda terhadap aswaja ketika anda berhijrah ke wahhabi?
    Mohon penjelasannya.

    Terimakasih mas Sastro.

    ———————————————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Secara ringkas, sebagaimana banyak pemuda muslim yang lugu tanpa banyak ilmu tentang agama tetapi memiliki semangat keislaman, kamipun tertipu dengan “penampilan zahir” kaum Wahhaby yang seakan Islami dan ‘nyunnah’ (Sunnah), maka kitapun sempat terpedaya dengan semua itu. Ternyata, apa yang kita lihat selama ini hanyalah fatamorgana. Setelah melakukan penelitian kembali ternyata penampilan zahir mereka tidak lebih dari sebagaimana yang disingung oleh Ayat al-Quran di bawah ini:

    “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka Berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS al-Muinafiquun: 4)

    “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras” (QS al-Baqarah: 204)

    Dari hasil penelitian itulah, kini sebagai penebus dosa (kaffaratan lidzdzunuub) terkhusus buat yang pernah kita tuduh sebagai pelaku syirik dan bid’ah selama itu, maka kami bin blog sederhana ini. Jadi gak betul kalau kami pernah menyusup ke kelompok Wahhaby….buat apa menyusup? Emang mereka siapa harus disusupi? Lha wong ngejawab artikel2 di sini aja gak mampu koq mau pakai susup-susupan…aneh khan? :P

    Kita tahu, itu cuman alasan mereka saja. Mereka khawatir dan takut banyak yang mengikuti langkah kami ini, BERTAUBAT DARI AJARAN DAN DOKTRIN WAHABISME!. Blog ini untuk mengingatkan kepada para pemuda Islam yang memiliki semangat keislaman saja agar mereka tidak terperdaya dengan tipu muslihat sekte wahabisme. Kalau ada anggota sekte wahaby yang mau ikutan di sini…ya monggo saja, masa dilarang? :)

    Itu saja.

  69. era_muslim,

    Ya saya masih belajar mas. Belajar dan melaksanakan yang syariat saja berat apalagi ilmu hikmah.

  70. makanya kalau masih berat belajar syariat jgn menguhukum ilmu hikmah itu haram secara mutlak…g tau ilmunya dah menghukum yang engga2..

  71. Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Afwan sebelumnya, mas Sastro. Sebelumnya saya mau bertanya pada mas Sastro, kita sepakat untuk menjadikan Al-Qur’an dan Hadits-hadits shahih dalam sebagai acuan dalam menyelesaikan masalah kan? Semoga anda sepakat dengan saya. Saya mau menanyakan adakah nash-nash Al-qur’an dan hadits-hadits shahih berkaitan dengan diperbolehkannya bertawassul kepada mayyit (baik itu rasul atau orang-orang shalih)? Mohon jawaban yang jelas dan sesuai dengan yang saya. Mohon tidak berputar-putar dan mengalihkan diri pada hal-hal yang tidak sesuai dengan yang saya pertanyakan. Terima kasih. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dan Hidayah Allah SWT. Amin.

    —————————————————-

    Sastro Menjawab:

    Ini khan kajian mas…jadinya harus urut, bukan hanya untuk menjawab isu kaum Wahhaby doang. Silahkan anda baca kelanjutannya.

  72. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Afwan mas Sastro. Saya ingin bertanya pada Anda. Tapi sebelumnya saya ingin konfirmasi pada Anda, dalam memutuskan segala hal apakah Anda sepakat untuk berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits shahih (atau minimal hasan)?
    Untuk selanjutnya saya mohon dengan sangat supaya mas Sastro bisa menunjukkan adanya dalil Al-Qur’an atau hadits shahih (minimal hasan) yang menjadi dasar dianjurkannya (atau minimal diperbolehkan) bertawasul kepada mayyit (baik itu rasul, orang-orang sholih, bahkan lebih-lebih yang orang yang tidak diketahui baik buruk tabiatnya selama dia hidup). Mohon dijawab dengan dalil Al-Qur’an dan hadits shahih (minimal hasan) saja, tanpa dikomentari apapun. Dan mohon dijawab to the point saja, jangan berputar-putar, yang pada akhirnya apa yang saya tanyakan justru tidak terjawab. Ahirnya hanya kepada Allah Ta’ala saja saya memohon petunjuk dan hidayah agar dibimbing menuju Islam yang lurus. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua. Amin.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    —————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Tidak selayaknya anda bertanya ini ketika kami sudah menampilkan artikel tentang itu hingga edisi kelima…semua sudah terselesaikan di situ. Silahkan telaah lagi…bahkan ada hadis yang dibenarkan oleh seorang ulama sekte Wahhaby, albani….kenal kan siapa albani?

  73. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau seandainya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui (QS. Fathir : 14)

    Lalu bagaimana mas Sastro pemahaman ayat tersebut?

    ————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Cobalah anda juga ikut berpikir dengan; perhatikan ayat sebelum dan setelahnya, kepada siapa ayat itu diturunkan dan karena apa? Obyek apa yang dimaksud dengan; “mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau seandainya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu”?

    Jika anda sedikit merenung saja maka pasti anda akan tahu jawabannya….
    Itu saja dulu, baru nanti kajian lebih dalam.

  74. Bahagian Kelima:
    Membersihkan Salah Faham Berkenaan Pengharaman al-Tawassul
    Majoriti golongan penentang dakwah al-Salafiyyahmendakwa al-Syeikh al-Imam, pengikut serta pendokong dakwahnya mengharamkan perbuatan al-tawassul. Dalam
    konteks ini, para penentang mengharuskan perbuatan bertawassul kepada orang yang sudah mati sebagaimana mereka mengharuskannya kepada orang yang hidup. Tiada
    perbezaan antara keduanya. Betapa penting serta serius dakwaan ini disebabkan
    para penentang menjadikan lafaz “al-tawassul” sebagai pengharusan terhadap sebahagian perbuatan syirik serta kekufuran. Antaranya beristigoshah (memohon
    pertolongan dalam suasana kesempitan) kepada orang yang sudah mati serta beristi’anah (meminta perlindungan) kepada mereka bagi memperolehi hajat
    serta menghilangkan dukacita. Golongan yang jahil ini mendakwa tiada perbezaan makna antara lafaz al-tawassul dengan al-istigoshah sehingga mencampuradukkan makna
    keduanya.
    Oleh kerana wujud kepelbagaian ungkapan golongan penentang berhubung perkara ini, ia dihadkan menerusi penelitian terhadap dua elemen seperti berikut:

    http://hafizfirdaus.com/ebook/PDFeBooks/muhd_ab_wahab/SMAW_Buku_4.pdf

  75. Yang harus di sikat itu USA & Israel. Itu musuh umat islam.
    wah yang nyikat orang syiah (hizbullah) kerja sama dengan ahlu sunnah (hamas) tp wahabi malah kerja sama tuh dengan USA n ZIONIS malah beli jet2nya n senjatanya untuk tembaki orang islam ya?

  76. Hari gini nyembah quburan, tidak la yau…
    hari gini tawasul ama mayit, sorry la yau…
    Sastro makan tu kuburan……
    dasar GEMBLUNG…

  77. mas saya sih orang awam,
    ilmu agama masih cetek, tapi saya selalu inget apa yang dipesankan teman saya

    ini zaman fitnah, banyak yang gak jelas, dan jangan mudah percaya kepada siapa saja.

    TERUTAMA ILMU AGAMA.

    zaman sekarang banyak orang yang pintar memainkan dalil,

    Nah dari itu, saya sih gak langsung percaya aja tulisan seorang seperti anda. Riwayat pendidikannya gak jelas (tolong saya diberitahu kalau memang sudah ada), guru-guru anda siapa? sudah berapa lama belajar islam,

    berapa lama dan seberapa dalam menguasai bahasa arab, ilmu hadist, ilmu tafsir, ushul fiqh, dll

    berapa banyak hapalan anda, Al-quran, hadist, dll

    tolong diberitahu! (dan jangan bohong ya, klo mas sastro benar pasti jujur)

    ini penting untuk pedoman minimal sy bisa menerima tulisan anda, dan agar saya tidak mengira handa hanya mengikuti nafsu dan pikiran pribadi saja.

    Bukannya mau ngerepotin, ya kitanya aja yang dizaman srba Susah, jauh dari Rasul, banyak Penipu, Banyak orang pintar tapi berakhlaq rendah, pokoknya mesti Hati-Hatilah

    —————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Mas, waspada itu selalu perlu….
    Bukan hanya sekarang, dari dulu banyak orang sok alim yg suka mempermainkan dalil…
    Anda lihat sejarah hidup muhammad bin Abdul Wahhab yang suka bermain dengan dalil, padahal banyak kerancuan. Oleh karenanya banyak ulama Ahlsunnah yang mengkritisinya, termasuk ayah dan saudaranya sendiri. Makanya kita sendiri selalu waspada dari penyebaran ajaran manusia model gituan…

  78. Setelah baca beberapa artikel d blog ini..jd merenung..maklum selama 6 tahun di kampus..dijejali paham ahlussunnah wal jamaah versi wahabby…doakan ya mudah2an Allah menunjukkan saya pemahaman yang benar…buat yg mempertahankan faham wahabby tolong jangan membabi buta ya coment2nya…malu-maluin..soalnya kalah trus ma comentny mas sastro..hehe..lebih baik kita semua berdoa agar diselamatkan dr fitnah akhir zaman ini…

  79. rupanya santro bingung membuat artikela sambungannya, masak bersambung sampai dua tahun gak muncul-muncul sambungannya. bingung kali di jejali pertanyaan orang salafy. ngaku ajadeh kalau benci salafy. ente itu NU tulen tro ngaku aja. fanatik NU fundamentalis NU. he he he

  80. Jadilah NU tulen. ndak ada hadits yang nyebutin bahwa wahabi akan masuk surga bersama bidadari yang cantik…ohoy ! Ikutilah para mBah-mbah Yai yang lurus2 hidupnya, akhlaknya, kesamuderaan ilmunya….kita kenal Islam dari mereka. Wahabi kenal Islam dari Rasul ? mimpi kali ya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 64 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: