Memberi Penerangan Kuburan

makam-nabi-mulia.jpg

Kita akan mencukupkan dengan pengakuan seorang alim dari kelompok Wahabi sendiri, Nashiruddi al-Bani dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44 dimana ia mengatakan: “Hadis ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadis ini dihukumi lemah (Dha’if), walaupun banyak dari kelompok Salafy (baca: Wahaby) menggunakan hadis ini. Bagaimanapun juga kebenaran harus diungkap dan diikuti. Salah seorang yang menyatakan bahwa hadis ini lemah adalah al-Muslim…


—————————————–

-Memberi Penerangan Kuburan-

Salah satu hal yang sangat dibenci dan diharamkan oleh kaum Wahaby (Salafy palsu) adalah memberi penerangan terhadap kuburan. Lepas dari apakah fungsi dari pemberian penerangan tersebut namun ketika mereka ditanya tentang boleh atau tidaknya memberikan penerangan tersebut niscaya mereka akan menjawab secara mutlak “Haram”. Apalagi selain memberi penerangan atas kuburan juga ditambah dengan memberikan hiasan-hiasan pada makam para wali (baca: kekasih) Allah maka menurut mereka adalah haram di atas haram. Kaum Wahaby menyandarkan pendapatnya dengan riwayat yang dinukil oleh an-Nasa’i dalam kitab Sunan-nya jilid 4 halaman 95 atau kitab Mustadrak alas Shahihain jilid 1 halaman 530 hadis ke-1384 yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah bersabda: “Allah melaknat perempuan yang datang guna menziarahi kubur dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid, juga buat orang yang meneranginya (kuburan) dengan penerang”. Padahal jika kita melihat pendapat ulama Ahlusunah maka akan kita dapati bahwa mereka membolehkannya, bahkan dalam beberapa hal justru sangat menganjurkannya. Lantas apakah ulama Ahlusunah lupa atau lalai terhadap hadis tersebut sehingga mereka menfatwakan yang bertentangan dengan hadis tersebut, bahkan dengan tegas mereka menyatakan “boleh” untuk memberi penerang kuburan?

Sebelum kita melihat ungkapan beberapa ulama Ahlusunah, lebih baiknya terlebih dahulu akan kita perhatikan argumentasi hadis tersebut. Kita akan mencukupkan dengan pengakuan seorang alim dari kelompok Wahabi sendiri, Nashiruddi al-Bani dalam kitabnya yang berjudul Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid halaman 43-44 dimana ia mengatakan: “Hadis ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadis ini dihukumi lemah (Dha’if), walaupun banyak dari kelompok Salafy (baca: Wahaby) menggunakan hadis ini. Bagaimanapun juga kebenaran harus diungkap dan diikuti. Salah seorang yang menyatakan bahwa hadis ini lemah adalah al-Muslim (pemilik kitab shahih). Beliau dalam karyanya yang berjudul at-Tafshil mengatakan: “Hadis ini tidak jelas. Masyarakat tidak berpegangan terhadap hadis yang diriwayatkan oleh Abu Shaleh Badzam. Orang itulah yang meriwayatkan hadis tadi dari Ibnu Abbas. Tidak jelas apakah benar bahwa ia telah mendengarkan hadis tersebut darinya (Ibnu Abbas)” ”. Al-Bani kembali mengatakan: “Kelemahan hadis ini telah saya tetapkan dalam kitab al-Ahadits adh-Dho’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayi’ fi al-Ummah”.

Itu jika kita melihat dari sisi sanad hadis. Taruhlah bahwa analisa Nashiruddin al-Bani (ahli hadis Wahaby) tadi tidak dapat kita terima, namun kembali harus kita lihat argumentasi (dilalah) yang dapat kita lihat dari hadis tersebut. Jika kita melihat kandungan hadisnya niscaya akan semakin terlihat kelemahan hadis tadi yang dijadikan landasan berpikir dan bertindak kaum Wahaby (Salafy palsu) yang Takfiry.

Pertama: Tentu hadis itu tidak dapat diterapkan secara mutlak pada semua kuburan. Hadis tadi tidak dapat dterapkan pada kuburan para nabi, rasul, waliyullah, imam dan para ulama saleh. Dimana mengagungkan kuburan mereka merupakan perwujudan dari “Ta’dhim Sya’airallah” (pengagungan syiar-syiar Allah) yang tercantum dalam ayat 32 surat al-Hajj dimana Allah swt berfirman: “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. Bagaimana tidak, Shofa dan Marwah yang hanya dikarenakan larian-larian kecil seorang Hajar (ibu nabi Ismail) yang bukan nabi saja tergolong syiar Allah sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian dari syiar Allah” (QS al-Baqarah: 158), apalagi jika itu adalah bekas-bekas penghulu para nabi dan rasul yang bernama Muhammad saw. Ataupun bekas-bekas para ulama dan kekasih Allah (baca: Waliyullah) dari umat Muhammad yang dinyatakan sebagai pewaris para nabi.

Kedua: Hadis tadi hanya dapat diterapkan pada hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Terkhusus kuburan orang biasa yang jarang diziarahi oleh keluarga dan sanak familinya. Dengan memberi penerangan kuburan semacam itu niscaya akan menyebabkan membuang-buang harta bukan pada tempatnya (Israf / Mubadzir) yang diharamkan oleh Islam. Jadi pengharaman pada hadis tadi lebih dikarenakan sesuatu yang lain, membuang-buang harta tanpa tujuan (Mubadzir), bukan pemberian penerangan itu sendiri secara mutlak. Namun jika penerangan kuburan tersebut dipakai untuk menerangi kuburan orang-orang mulia –seperti contoh di atas tadi- dimana kuburan tersebut sering dipakai orang untuk berziarah, membaca al-Quran, membaca doa, melaksanakan shalat dan kegiatan-kegiatan berfaedah lain yang dihalalkan oleh Allah maka dalam kondisi semacam ini bukan hanya tidak dapat divonis haram atau makruh melainkan sangat ditekankan, karena menjadi perwujudan dari ungkapan Ta’awun ‘alal Birri wat Taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan takwa) sebagaimana yang diperintahkan dan dijelaskan dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 2 dimana Allah berfirman: “Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”. Jelas hal itu bukan masuk kategori dosa dan pelanggaran, karena jika itu kenyataannya maka mungkinkah Rasulullah yang kemudian diikuti oleh para Salaf Saleh melakukan dosa dan pelanggaran, sebagaimana nanti yang akan kita singgung?

Atas dasar itu pula akhirnya para ulama Ahlusunah menyatakan “boleh” memberikan penerangan terhadap kuburan para nabi, rasul dan para kekasih Ilahi (Waliyullah) lainnya. Azizi dalam kitab Syarh Jami’ as-Shaghir jilid tiga halaman 198 dalam rangka mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Hadis tadi menjelaskan tentang ketidakperluan orang-orang yang masih hidup akan penerang. Namun jika hal tadi menyebabkan manfaat (buat yang masih hidup) maka tidak menjadi masalah”. Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid keempat halaman 95 mengatakan: “Larangan memberikan penerangan tersebut dikarenakan penggunaan lampu untuk hal tersebut merupakan membuang-buang harta tanpa ada manfaat yang berarti. Hal ini meniscayakan bahwa jika terdapat manfaat di balik itu semua maka hal itu telah mengeluarkannya dari pelarangan”. Hal serupa juga dikemukakan oleh Syeikh Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami’ lil Ushul jilid pertama halaman 381: “Memberi penerangan pada kubur merupakan perbuatan yang dilarang. Hal itu dikarenakan membuang-buang harta. Kecuali jika di sisi kuburan tersebut terdapat seorang yang masih hidup (yang memerlukan penerangan) maka hukumnya tidak apa-apa”.

Dan terbukti bahwa penerangan terhadap kuburan merupakan hal lumrah yang telah dilakukan oleh para Salaf Saleh semenjak dahulu. Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdadi jilid 1 halaman 154 yang pengisahannya disandarkan kepada seorang syeikh penduduk Palestina, dimana ia menyatakan: “kulihat terdapat bangunan yang terang yang terletak di bawah tembok Kostantiniyah. Lantas kutanyakan perihal bangunan tersebut. Mereka menjawab: “Ini adalah makam Abu Ayyub al-Anshari seorang sahabat Rasulullah”. Kudatang mendekati makam tersebut. Kulihat makam beliau terletak di dalam bangunan tersebut dimana terdapat lampu yang tergantung dengan rantai dari arah atas atap”. Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid 14 halaman 383 menyatakan: “Salah satu kejadian tahun 386 Hijriyah adalah para penghuni kota Basrah mengaku bahwa mereka telah berhasil menemukan kuburan tua yang ternyata kuburan Zubair bin Awam. Setelah itu berbagai peralatan penerangan dan penghias diletakkan (dalam pemakaman) dan lantas ditunjuk seseorang yang bertugas sebagai penjaga. Dan tanah yang berada di sekitarnya pun diwakafkan”.

Minimalnya, semua argument di atas mrupakan bukti bahwa pelarangan tersebut tidak sampai pada derajar haram, paling maksimal hanyalah dapat divonis sebagai makruh saja. Dan itupun tidak mutlak. Terbukti ada beberapa hal yang menyebabkan pemberian penerangan itu dihukumi boleh (Ja’iz). Malah jika itu termasuk kategori Ta’dhim Sya’ariallah atau Ta’awun ‘alal Birri wat Takwa -sebagaimana yang telah kita singgung di atas tadi- maka tergolong sesuatu yang sangat ditekankan. Belum lagi hadis di atas tadi –larangan pemberian lampu penerang- yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga bertentangan dengan hadis yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga yang pernah dinukil oleh at-Turmudzi dalam kitab al-Jami’ as-Shahih jilid 3 halaman 372 bab ke-62 dimana Ibnu Abbas berkata: “Suatu malam Rasulullah memasuki areal pemakaman (untuk berziarah). Saat itu ada seseorang yang menyiapkan penerang buat beliau”. Ini membuktikan bahwa menerangi pemakaman dengan lampu penerang tidak dapat dihukumi haram secara mutlak, namun sangat bergantung terhadap tujuan dan faedah di balik hal tersebut. Lantas bagaimana mungkin kaum Wahaby yang mengaku sebagai penghidup ajaran Salaf Saleh menfatwakan bahwa hal itu secara mutlak diharamkan? Apakah diamnya Rasul sewaktu disediakan lampu penerang oleh Sahabat beliau bukan merupakan dalil pembolehan? Apakah Wahaby hendak membikin syariat sendiri dengan pengharaman tersebut, padahal Rasulullah sang pembawa syariat Ilahi tidak mengharamkannya seara mutlak kecuali karena alasan Tabdzir (membuang-buang harta tanpa alasan jelas) saja, itupun hanya dapat diterapkan pada kuburan-kuburan tertentu saja, bukan semua kuburan? Terserah, mereka mau mengikuti Muhammad bin Abdillah yang Rasulullah ataukah Muhammad bin Abdul Wahab yang Laknatullah?

Wallahu a’lam

Iklan

25 Tanggapan

  1. Terserah, mereka mau mengikuti Muhammad bin Abdillah yang Rasulullah ataukah Muhammad bin Abdul Wahab yang Laknatullah?

    Ya mas satro, kami mau ikut Rosul. Ndak mau memberi penerangan di kubur, sebagaimana hadits dhoif itu. Dari pada kami harus mengikuti perbuatan2 yang sifatnya baru dalam agama ini.

    imam As-Syafi’i berkata,
    Man istihsana faqad sara’a

    tulisannya nampak ngebelain ya.

    ——————————
    Sastro Menjawab:

    Blog ini punya prinsip mas…gak perlu ada yang membela. Yang dapat ngebela blog ini hanya al-Quran, as-Sunnah dan prilaku Salaf Saleh…bukan hanya para imam Mazhab, apalagi anda…gak butuh belaan anda…maaf.
    Jika anda tidak mau mengikuti Rasul yang membiarkan orang (Taqrir (persetujuan) Rasul) memberi penerangan terhadap kuburan, maka paling tidak anda dan konco-konco anda dari Wahaby bersikap seperti Rasul, diam. Gak perlu ada pengkafiran dengan mengatakan Bid’ah dan Syirik.
    Saya ingat sewaktu baca kitab Siar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi sewaktu membahas tentang watak dan ciri kaum yang sok Ahli Hadis seperti Wahaby ini adz-Dzahabi menyebutkan bahwa mereka gampang sekali menvonis Hadis lawan bicaranya dengan Dza’if (lemah) tanpa diadakan penelitian terlebih dahulu dengan merujuk kitab-kitab rijal hadis (al-Jarh wa at-Ta’dil).
    Dan terbukti sebaliknya, kaum Wahaby sering menggunakan hadis-hadis palsu dan lemah untuk menghajar kaum muslimin lainnya. Lihat salah satu artikel kami tentang pengakuan seorang ulama hadis dari Wahaby sendiri, Nashiruddin al-Bani yang menyatakan bahwa hadis palsu tapi masih sering dipakai untuk pengkafiran oleh kaum Wahaby…aneh tapi nyata bukan? Entah mau ngomong apa kita jika berbicara dengan kaum yang jumud (kaku) dan lajuj (keras kepala) seperti Wahaby ini…Allah dan Rasulnya yang akan menghakimi mereka kelak di akherat.

  2. Mas Sastro,…

    Nampaknya anda begitu benci sekali dengan Muhammad bin abdul wahab dan Ibnu Taimiyyah, Benarkah begitu ?

    Apakah Mas Sastro sudah kupas tuntas semua kitab-kitab mereka dan dibandingkan dengan Ulama Salafynya Mas Sastro ?

    Dizaman Rosul ada seorang Munafiqin yang bernama Abdulloh bin Ubay bin Sahlul, dan dia benar-benar munafiqin sejati. Munafik Sejati adalah Orang yang diluarnya seperti membela Islam namun dalam hatinya begitu benci dan ingin menghancurkan Islam.

    Berhati-hatilah mas sastro dengan sifat-sifat kemunafikan diaatas, sebab setan sangat senang dengan orang-orang munafik.

    Semoga 4JJ I memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan insyaf dari segala kesyirikan dan kebid’ahan.

    ———————————
    Sastro Menjawab:

    Benci, buat apa benci sama orang yang sudah mati? Kami tidak suka dengan apa yang telah dilaukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, bukan benci pada pribadinya. Ini pulalah yang dilakukan oleh para ulama Ahlusunah dari pengikut empat mazhab di zaman Muhammad bin Abdul Wahab, termasuk saudaranya (kakak) sendiri syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab yang menjadi ulama Hambali kala itu menggantikan abahnya. Atas dasar itulah akhirnya dikecam oleh para ulama Ahlusunah dari berbagai mazhab ermasuk kakaknya yang telah mengarang sati risalah yang telah dicetak diturki dengan judul “as-Showa’iq al-Ilahiyah fi ar-Rad ‘alal Wahabiyah”, anda bisa cek dalam kitab itu bagaimana kakaknya menganggap adiknya telah keluar dari ajaran Ahlusunah wal Jamaah, lantas bagaimana mungkin ara pengikut Muhammad bin Abdul Wahab mengaku-aku sebagai pengikut Ahlusunah?
    Masalah mengupas tuntas buku Wahaby, ya sekarang saya telah selesaikan penelaahan kitab-kitab mereka, tentu gak semua, yang penting bukunya Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab sebagai dedengkot ajaran Wahabisme…
    Terimakasih atas sarannya…yang lebih penting lagi adalah mari kita sama-sama berusaha menjauhi kemunafikan itu dengan mengikuti al-Quran. as-Sunah dan prilaku Salaf Saleh yang benar, bukan sekedar klaim-an saja sebagaimana yang difatwakan oleh sebagian para ulama Wahaby…

  3. Mas Sastro sudah pernah baca kitab2nya Syaikh Muhammad ‘ibnil Abdil Wahhab? spt Kitab Tauhid ? bagaimana kesannya?

    —————————
    Sastro Menjawab:

    Alhamdulillah sudah mas…sekitar 7 tahun lalu sewaktu kami melaksanakan haji beli kitab itu yang disyarahi oleh Ibn Baz. Bahkan kami telah menelaahnya beberapa kali dan mendiskusikannya bersama sehingga ada beberapa catatan kaki yang akan kita jadikan rujukan dalam tulisan kami.

  4. Mas sastro, blog yang anda miliki luar biasa berbahayanya. Anda benar benar sangat berbahaya dengan artikel artikel anda. Artikel anda gunakan hadis hadis yang kalau orang awam membacanya akan langsung percaya bahya kebenaran di tangan anda.
    Bertaubatlah, karena anda telah berbuat sesuatu yang sangat berbahaya buat orang lain dan anda sendiri. Anda telah melakukan pemfitnahan terhadap ulama ulama dan jutaan pengikut orang orang salafy soleh(yg anda sebut wahaby). Dibalik artikel anda dan blog anda mas sastro, saya yakin anda tergabung dalam sebuah kelompok/organisasi dengan misi yang sama dan dana yang besar, dengan tujuan yang amat besar dan luar biasa jahatnya. Jadi bertaubatlah ..!

    ——————————
    Sastro Menjawab:

    Waduh mas, mas…Blog ini memang berbahaya bagi yang punya ideology Wahabisme, kalau gak, ya gak berbahaya tho, justru akan menyelamatkan dari pemerkosaan akidah oleh kaum Wahaby yang gencar bermain di blog dan situs.
    Hadis-hadis itu memang ada kok, gak kami bikin-bikin, kuwalat dan dilaknat tujuh turunan jika kami ngarang-ngarang hadis Nabi mas…Demi Allah.
    Fitnah terhadap ulama? Ulama mana? Ulama Wahaby yang memang berfatwa sembarangan itu, atau Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab yang memang memiliki pendapat semacam itu. Menyebutkan apa adanya seperti yang terdapat dalam karya-karya mereka apakah itu fitnah? Tolong definisikan dulu apa itu fitnah mas..!!! Jangan sampai anda menuduh kami yang bukan-bukan. Nanti justru anda yang akan terjerumus ke jurang menfitnah orang lho…?!
    Masalah misi dari satu kelompok, ya, memang kami dari satu kelompok Ahlusunah wal Jamaah di Indonesia yang gerah dengan penyebaran Wahabisme yang menurut kami harus segera dijawab, agar tidak sembrono dalam menuduh orang lain berbat syirik dan bid’ah. Selama ini, mereka obral dua istilah itu untuk kaum muslimin pengikut Ahlusunah wal Jamaah di Tanah Air. Seakan Islam, al-Quran, Hadis dan Salaf Salef hanya milik mereka. Seakan hanya mereka yang memiliki otoritas penentuan obyek syirik dan bid’ah.
    Adapun masalah dana besar, gak, kami gak punya dana besar. Jika kami punya dana besar maka kami akan membikin situs resmi dengan membeli domain dan web hosting yang mahal, juga akan konsen dalam penulisan artikel-artikel yang ada. Terbukti, kami hanya bermain di blog gratisan dan bekerja mencari nafkah sendiri. Malah untuk meng-Up Load artikel dan tulisan yang ada kami ambil dari kocek sendiri. Jangan samakan kami dengan gerakan Wahaby (Salafy gadungan) yang mendapat kucuran dana yang sangat besar dari negara-negara Arab, terkhusus Arab Saudi atau Kuwait. Gitu lho mas…

  5. Sastro:
    ——————————-
    Ibnu Abbas berkata: “Suatu malam Rasulullah memasuki areal pemakaman (untuk berziarah). Saat itu ada seseorang yang menyiapkan penerang buat beliau”. Ini membuktikan bahwa menerangi pemakaman dengan lampu penerang tidak dapat dihukumi haram secara mutlak, namun sangat bergantung terhadap tujuan dan faedah di balik hal tersebut.
    ——————————-

    Kalau disimpulkan dari perkataan anda itu, berarti ada ‘illah yg membolehkannya memberikan penerangan pada kubur, yaitu jika ada orang yg masih hidup disitu yg membutuhkannya!
    Tentu saja kita sepakat dlm hal ini, karena berarti hal iu tidak dikatakan memberikan penerangan pada kubur, tapi memberikan penerangan pada orang yg hidup di dekat kubur tsb.

    Lalu kenapa anda melenceng dari permasalahan intinya, yaitu ttg hukum memberikan penerangan kpd kubur tanpa ada alasannya sama sekali, hanya dgn tujuan untuk menerangi penghuni kubur tsb?!

    ———————-
    Sastro Menjawab:

    Mas, anda bisa tanyakan kepada ulama Wahaby tentang boleh tidaknya memberi penerangan kuburan jika kuburan itu dipakai hilir mudik oleh orang-orang yang ingin berdoa’, shalat, membaca kuburan dan ziarah di sisi kuburan itu sehingga memerlukan penerangan. Kira-kira jawaban mereka boleh atau tidak? Mereka bakal mengatakan; semua perbuatan itu jika dilakukan di sisi kuburan bermasalah sehingga memberi penerangannya pun bermasalah pula.

  6. ———————-
    Sastro Menjawab:

    Mas, anda bisa tanyakan kepada ulama Wahaby tentang boleh tidaknya memberi penerangan kuburan jika kuburan itu dipakai hilir mudik oleh orang-orang yang ingin berdoa’, shalat, membaca kuburan dan ziarah di sisi kuburan itu sehingga memerlukan penerangan. Kira-kira jawaban mereka boleh atau tidak? Mereka bakal mengatakan; semua perbuatan itu jika dilakukan di sisi kuburan bermasalah sehingga memberi penerangannya pun bermasalah pula.
    ———————-

    Kira2 jawabannya boleh atau tidak? knp tidak, tentu saja boleh jika tujuannya bukan dgn keyakinan untuk menerangi mayit dlm kuburan tsb, tapi untuk menerangi orang yg hidup yg ada di sekitar tempat itu, jadi ada maslahat yg dituju.

    Lagipula kalo sekedar berdoa dgn doa yg diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu`alayhi wasallam tentu tidak jadi masalah, tapi kalo berdoa dgn bertawashul kpd penghuni kubur tsb tentu saja itu bermasalah.
    Sedangkan shalat tempatnya dimasjid, bukan di kuburan.

    —————————-
    Sastro Menjawab:

    Masalah diperbolehkannya berdoa, shalat, membaca al-Quran, bertawassul dan bertabarruk pada kubur dengan dalil ayat, riwayat dan Salaf Saleh akan kita tampilkan setelah pembahasan konsep tauhid-syirik sudah jelas.

  7. hohoho … wahabi & saudi memang sangat konsekwen dengan yang mereka percayai.
    lihat saja, buat saudara-2 yang mengunjungi masjid Nabawi di Medinah, bahwa dharih Rasulullah SAW sampai gelap gulita begitu …
    kata ulama-2 wahabi yang ada di masjid Nabawi : untuk apa memberi lampu di dalam dharih dia (Rasulullah SAW), kan sudah lama dia (Rasulullah SAW) tamat riwayatnya!!!
    bahkan salah satu imam shalat jamaat di masjid Nabawi, selama 22 tahun menjadi imam shalat jamaah di masjid Nabawi tak pernah sekali pun mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. katanya, buat apa memberi salam pada orang (Rasulullah SAW) yang sudah lama tamat riwayatnya !!!
    wow … ck … ck … ck …

  8. Ass wr wb,
    Mas Sastro saya sangat senang mengikuti di Blog mas Sastro kelola,dengan bertambahnya wawasan ilmu agamaa saya dan juga berhati2 dalam untuk mengikuti banyak paham,disekitar teman2 sekantor banyak yg manhaj salafi Wahabi(mungkin) karena setiap pertemuan pengajian atau tahlilan tak pernah ikut,dan bila jumpa sesama kita(muslim)tak penah mengucap salam,atau menjawab salam,apakah ajaran mereka seperti itu masSastro???
    Dan lebih hebatnya lagi dia punya pengajian yang mereka kelola untuk kalangan mereka bahkan mereka sudah membuat Website sendiri(www.asunnah.qatar).
    Ya kami adalah pekerja(expatriat)yang sekarang kerja di negara Qatar
    Silahkan mas Sastro buka website mereka.
    Mas Sastro mau nanya mengenai Pondok pesantren yang ada di Assalaam di Surakarta(Solo),apa dasar pemahaman mereka,masalahnya anak2 kami mondok disana,mohon dijawab ya mas Sastro.
    Semoga mas Sastro dan kawan2 terus beraktifitas dalam blog yang mas Sastro kelola bersama kawan2,saya akan mengikuti dengan setia.
    Ada lagi mas Sastro bagaimana dengan tahlilan orang meninggal halal atau haram???makasih semoga mas Satro mau menjawabnya.
    saya menunggu tulisan2 mas Sastro yang terbaru,terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

  9. Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Hmm. Yang mendukung Blog ini, hmmm kata-katanya sangat tidak berakhlaq.

    Tidak sesuai dengan QS: An Nahl :125″Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

    Mencoba melakukan fitnah-fitnah pada insan yang mencoba menggalakkan Syari’ah Islam dalam kehidupan dunia supaya Syumul tidak parsial. Mulai Aqidah, Fiqih hingga kehidupan Sosial.

    Tidak ada paksaan untuk menjalankan manhaj yang haq ini. Tugas kami hanyalah menyampaikan. Silakan Anda Bermuhasabah.

    Dakwah kami menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah tidak seperti fitnah yang Anda lontarkan dalam Blog ini. Kami tidak pernah mentakfirkan orang yang mengaku dirinya Ahlussunnah Waljama’ah. Mohon bertaubatlah Mr. Sastro sebelum ajal menjemput. Ente coba Datangi kajian kami Yang Alhamdulillah sudah ada di beberapa tempat, seperti di Mjd. Muhammad Rmdn, Kompleks Galaxi Bekasi, di BEJ. Silakan ente buat kesimpulan apakah kami pernah mengkafirkan saudara muslim yang berbeda manhaj dengan kami? Tabayyunlah.

    Kunjungi website kami:
    http://www.salafi.or.id
    http://www.almanhaj.or.id
    http://www.salafyoon.net
    http://www.jilbab.or.id

    ———————–
    Sastro Menjawab:

    Apa yang ditulis oleh turotsi.wordpress.com atau abdurrahman.wordpress.com adalah sebaik-baik contoh apa yang dilakukan kelompok Salafy…pengkafiran yang kita maksud bukan berarti kaum Salafy bilang ‘Anda Kafir’, tetapi menuduh Bid’ah, Musyrik dan Khrafat untuk keyakinan Ahlusunah yang memiliki sandaran hukum hadisnya dan prilaku Salaf Saleh itu lho mas…

  10. Syirik,bid”ah adalah ajaran islam yang harus kita jauhi.
    Menurut sastro apa itu syirik,bid’ah? contohnya apa?

    ———————-
    Sastro Menjawab:

    Syirik lawan Tauhid >>> itu jelas, semua kaum muslimin menerimanya. Dan kitapun sudah mengungkapkan hal itu di blog ini.
    Bid’ah lawan Sunah >>> itu juga jelas, semua kaum muslimin menertimanya. Dan ini nanti akan kita perjelas dalam artikel yang akan ndatang.
    Karena Islam adalah agama Tauhid dan mengikuti Sunah nabi maka secara otomatis membenci segala bentuk Syirik dan Bid’ah. Namun mana yang tergolong syirik dan bid’ah, itulah yang wahaby banyak yang masih memiliki kerancuan..terbukti dalam artikel-artikel yang telah dan akan kami cantumkan di blog sederhana ini…

  11. lha iki meneh dikasih lampu yo wis ra dikasih yo karepmu…yg jadi pertanyaan kenapa kok dikasih lampu?latar belakangnya apa? lha kalo biar terang trus gak dicukil cukil hewan seperti anjing dll yo monggo , tapi yen trus diyakini kalo kuburan harus diberi lampu trus pakai acara khusus didepankuburan , minta tolong ama yg dikuburan, tolong dijelasken ….dasar yg digunakan untuk beramal seperti ini seperti yg saya lihat di makam makam mbahe saya sana di komplek makam sunan kalijogo…semalem suntuk didepan kuburan baca surat2khusus..tolong dijelasken ?

  12. Mas Sapto,

    saya ini mulanya gak ngerti salafy itu kelompok apa, tapi saya sering berjumpa beberapa orang jamaah sholat di mesjid kota kecil saya. Ada orang2 yg pakaian ala arab atau india dengan celana panjang sampai setengah betis. Nyatanya yg saya lihat mereka itu gak pernah senyum, mengucapkan salam apalagi salaman sama saya. saya juga heran padahal hampir tiap hari ketemu dan tempat tinggal kami gak jauh. Setelah saya tanya orang2 saya diberitahu mereka itu kelompok salafy.. Oooo … tapi kok begitu ya.

    apa nyunah nya memang begitu, seolah olah memandang orang lain najis. terus kalo ada pengajian misalnya ada ustaz tamu yg datang dari kota besar yg kita undang orang2 salafy intu pasti gak mau duduk sama2 untuk dengerin pengajian.

  13. ingat yang terpenting adalah……………….alhakku mirrobbika falatakunanna minalmumtarin ok.(syukron)

  14. Saya sering ketemu wahaby yang bilang ahli ilmu, tapi kok ketika membalas mujadalah seperti orang yang tidak berpendidikan, kalo ada dalil yang diajukan oleh mas sastro yang tidak benar .. ya tinggal beri dalil lain sebagai bantahan. Komentar2 yang saya baca lebih bersifat emosional dan itu tanda taqlid dan hizbi. Kalo saya lihat ulama wahaby cuma kaki tangan kerajaan saudi untuk menjaga supaya umat islam lupa dengan Rasulullah dan anak cucu keturunannya. Jangan sampai anak cucu nabi yang berkuasa di Haramain. Kerajaan itu sunnah apa bid’ah ya?? Ualamanya digaji sih.. jadi fatwanya tidak independen lagi….

  15. SAYA PERNAH MIMPI DIAJAK KEMAKAM WALI.APA ARTINYA TOLONG YANG BISA MENJAWAB ARTI MIMPI SAYA.TRIMS

  16. Ass.. semuanya
    Terima kasih pada mas sastro yang membolehkan sapa saja yang ingin berpendapat di blog ini. Memang sudah banyak sekali kita lihat keresahan akibat perbuatan wahaby ( salaf palsu) ini. Mengaku-aku lebih benar dari lainnya. Rata-rata orang yang saya kenal yang berfaham wahaby ternyata tau agama ya baru-baru ini. Fenomena ini bukanlah hal yang baru. Sudah sejak lama sudah ada. Seperti diceritakan dalam Kitab ‘Aqidatun Najiin. Seorang Waliyulloh alim ulama wara, zuhud yang mempunyai murid tak terhitung bahkan sebagian besar muridnya pari Waliyulloh dituduh kafir oleh orang-orang yang baru tahu agama seumuran jagung. Memang zamannya sudah terbalik. Persis seperti sekarang ini, mengaku lebih faham, lebih mumpuni ilmu agamanya padahal baca Qur’an tajwid saja masih meraba-raba. Pernah suatu kali saya bawa kitab asli Al-Adzkar Imam Nawawi yang berbahasa arab gundul. Saya suruh baca gak ngerti apa-apa. Mereka cuma ngandalin kitab terjemahan. Yang mungkin saja maksud atau pemahaman si pengarang belum tentu sama dengan penterjemah. Apalagi yang membuat syarahnya mereka-mereka juga yaitu Imam Albani dan Iben Taimiyah, duh sungguh sedihnya. Apa mereka cuma tahu 2 orang itu saja (maaf tanpa merendahkan keduanya)?? Pikir dong mas, baru tahu agama sudah seperti tahu dunia akhirat. Kan sudah jelas orang yang tidak senang dengan orang islam membaca Alqur’an bersholawat dan lain sebagainya itu orang yahudi dan Nasoro, naudzu billah.. Dipikirkan saudaraku para wahabiyyin..bertaubat sebelum pintunya ditutup..oke wassalam

  17. sastro,,,,sastro lha kamu itu gak berani nampilkan alamat kamu aja koq berani memutar balik hadits, tunjukkan alamat anda. insya allah ada yang mau menasehati anda

    ————————————
    Sastro Menjawab:

    Apa urgennya anda mengetahui alamat saya? Apakah setiap bloger harus mencantumkan alamatnya? Apakah bloger-bloger Wahaby juga mencantumkan alamatnya? Ngaca dulu, baru melihat aib orang lain…!!!! Kalau itu memang dianggap aib?

  18. Mbah Sastro tolong jelaskan pertanyaan berikut ini :
    1. Apa penjelasan anda mengenai definisi “Wali” yang begitu mati-matian Ente bela. Bahkan kuburannya-pun masih dipuja-puji, didatangi dan dimintai berkahnya. Apakah Gus Mik yang nyentrik atau Gus Dur yang “nyleneh” seperti itu juga disebut wali ?
    2. Apa faedahnya pada zaman ini masih membahas masalah-masalah perbedabatan orang masa lalu yang sudah jelas-jelas tidak akan pernah terjadi titik temu?
    3. Setahu saya konsep syirik, bid’ah dan takfir yang Ente tuduhkan kepada kelompok Wahabi itu terlalu bias. Sebab, istilah-istilah di atas sebenarnya spektrumya luas. Apakah salah jika saya katakan berdasakan hadits Nabi, bahwa orang yang beribadah karena riya’ adalah pelaku syirik ? Seperti sabda Nabi “Akhwafu maa akhofu alaikum as-syirku-l-ashgoru, wa maa syirku-l-asysghoru ya rasulallah? Qola : Ar-riya’ “. Kaji oleh Anda definisi bid’ah, yang oleh karenanya para pembaru pemikiran Islam itu mati-matian berusaha menghilangkan bid’ah. Apakah suatu ibadah dikatakan benar, jika dilakukan oleh seseorang dengan tidak mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah ?. Padahal setahu saya, Islam tidak mengenal otorisasi pembuatan syari’at kecuali apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
    Mudah-mudahan Allah memberikan pencerahan tauhid kepada Ente. Juga Ente menyadari akibat yang ditimbulkan dari pemikiran-pemikiran reaktif para pendahulu Ente seperti Sirojuddin Abbas terhadap pembaruan pemikiran Islam, yang pada gilirannya hanya akan memperlemah posisi umat ini.

    ——————————————–

    Sastro Menjawab:

    1- Apakah anda tidak meyakini konsep manusia yang disebut Waliyullah yang sering didengung-dengungkan dalam al-Quran? Mereka adalah; “Orang-orang yang Saleh, Taqwa, hanya takut kepada Allah dan tidak pernah gentar sedikitpun terhadap musuh-musuh Allah dan Rasulnya”. Siapa saja mereka? Karena mereka tidak pernah merasa apalagi mengaku sebagai waliyullah maka penerapan ini tergantung kepada kemampuan orang-orang mukmin yang berada disekitarnya. Kebenarannya penerapan akan nampak secara pasti nanti di alam sana. Karena Allah akan membuktikan siapa kekasih sejati-Nya dan siapa yang mengaku-ngaku saja, kelak di akherat. Apakah hak waliyullah semacam ini tidak layak dibela? Dan ingat, kapan saya di sini menyatakan bahwa gus Mik dang us Dur sebagai Waliyullah sehingga anda mencontohkan mereka kepada saya? Itu terserah dan hak orang yang mewalikannya. Kebenaran dan kesaalahan mereka dalam menentukan obyek Waiyullah itu nanti akan ketahuan, namun konsep waliyullah itu sendiri ada dalam Islam. Masalah kuburan, anda lihat artikel saya tentang ziarah kubur, membangun masjid di sisi kuburan dan menerangi kuburan…silahkan jawab dengan ilmiah, jika anda mampu.
    2- Apakah anda tidak pernah membaca al-Quran yang menjelaskan bahwa dalam kisah-kisah orang terdahulu terdapat pelajaran yang dapat diambil? Lagi pula, jika perbedaan itu masih terus diungkit-ungkit oleh kaum Wahaby –yang sok paling monoteis- dan diserangkan untuk saudara-saudaranya sesame muslim, apakah akhirnya ini tidak masalahat? Agar kaum Wahaby melek matanya…tentang apa yang pernah terjadi pada pendahulunya.
    3- Jika anda pada poin ini mengatakan dengan “setahu saya”, maka akan saya katakana bahwa “setahu saya”, justru konsep tauhid-syirik atau sunnah-bid’ah versi Wahaby yang rancu. Saya beri buktikan satu saja. Dalam masalah bertabarruk atau meminta syafaat, kaum wahaby membolehkannya disaat yang dimintai syafaat atau tabarruk itu dalam keadaan hidup. Setelah obyeknya mati, maka masuk kategori syirik. Ini berarti bahwa tolok ukur kesyirikan tabarruk dan permintaan syafaat versi Wahaby adalah “kematian”. Padahal ini jelas salah. Kita dari Ahlusunah wal Jamaah menjadikan tolok ukur syirik adalah niat yang berpondasi pada ilmu. Jika anda sakit dan pergi ke kuburan Rasulullah (umpamanya) dan meminta kepada Allah dengan atas nama Rasul –Nya atau memohon kepada Rasul (yang zahirnya telah mati tetapi mendengar omongan kita, karena beliau tetep hidup) agar Allah menyembuhkan sakit anda, apakah ini syirik? Padahal kita tetap “meyakini” bahwa kesembuhan hanya berasal dari Allah saja. Trus, bandingkan dengan, jika anda pergi ke dokter yang masih hidup untuk berobat penyakit anda, sedang anda “yakin” bahwa dokterlah yang menyembuhkan penyakit anda, bukan Allah. Lantas apakah ini tidak syirik? Jelaslah bahwa tolok ukur syirik dan tauhid versi Wahaby-lah yang rancu karena menjadikan kematian sebagai tolok ukurnya. Dalam kasus bid’ah, yang kata anda harus “Islam tidak mengenal otorisasi pembuatan syari’at kecuali apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya”, sehingga Wahaby tidak mengenal bid’ah hasanah atau manapun jenis lainnya. Kita lihat, bukankah shalat tarawih berjamaah tidak pernah ada pada zaman Rasulullah dan baru ada pada zaman khalifah kedua, apakah ini bukan bid’ah versi anda (dan Wahaby)? Jika anda mengingkari, kenapa? Padahal khalifah kedua sendiri mengakuinya kok kalau itu bid’ah dengan ungkapan beliau “ni’matul bid’ah hadzihi” (sebaik-baik bid’ah adalah ini)? Tapi kenapa kaum Wahaby juga melakukan bid’ah ini, sebagaimana kaum muslimin lain yang selalu dituduh pelaku bid’ah? Jadi, MANA BUKTI BAHWA WAHABISME JELAS DALAM KONSEP TAUHID-SYIRIK DAN SUNNAH-BID’AH? Jadi, kalau ternyata konsepnya gak jelas, mbok ya jangan nuduh orang lain…ngaca diri dulu tho…itu lebih pantes.

  19. 1. “Kebenarannya penerapan akan nampak secara pasti nanti di alam sana. Karena Allah akan membuktikan siapa kekasih sejati-Nya dan siapa yang mengaku-ngaku saja, kelak di akherat.”. Saya setuju dengan penyataan Ente. Dengan demikian, orang yang berada dalam manhaj Salaf Ibn Taimiyah dan Mohamad bin Abdul Wahab termasuk sesat atau tidak, rancu atau tidak, salah atau benar, semua akan dibuktikan nanti di alam “sana”. Jadi tidak usah seperti kebakaran bulu ketek dalam bereaksi terhadap ide dan pendapat mereka.
    2. Perjalanan umat masa lalu itulah seharusnya juga kita jadikan alat introspeksi. Mengapa juga perbedaan dijadikan alat perpecahan ?. Sudah sedemikian parahkah perbedaan ini sehingga tidak lagi ada kemungkinan adanya titik temu ?.
    3. Mengapa minta kesembuhan penyakit harus datang ke kuburan Nabi ?. Sudah sedemikian jauhkah Allah, tuhan kita ? . Pakai akal sehat !. Dalam ajaran tauhid yang benar, segala sesuatu yang berkenaan dengan manusia itu haruslah malalui “proses yang benar”, itulah sunnatullah. Apa hubungannya penyakit dengan kuburan ?.
    4. Penyataan Umar bin Khotob “ni’ma-l-bid’ah hadzihi” haruslah diletakkan dalam konteks “lughowi” bukan syar’i. Ingat apa illat Nabi tidak mau sholat tarawih berjama’ah ?, dengan demikian Nabi lebih memilih sholat sendirian. Siapa bilang Nabi tidak sholat tarawih berjama’ah ? Baca hadits tentang hal ini dengan lengkap, bukankah malam pertama dan kedua Nabi sholat berjama’ah ?. Tapi karena ada illat di atas, malam ketiganya Nabi sholat sendirian. Dengan demikian, ketika beliau wafat maka illat tersebut dengan sendirinya gugur. “alhukmu yaduru ma’a illatihi wujudan wa adaman”. Dengan demikian, kholifah Umar bin Khotob melakukan sunnah Rasul setelah illatnya tiada. Dudukkan masalah bid’ah pada konteks ibadah mahdzoh dan aqidah, niscaya akan ada titik temu !. Semoga Ente mendapatkan pencerahan tauhid. Amin.

    ——————————

    Sastro Menjawab:

    1- Trus, apakah sedemikian sakralnya ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibn Abdul Wahhab sehingga jika ada orang mengkritisinya berarti ia telah menyimpang? Apakah ajaran mereka berdua wahyu yang pasti benar?

    2- Setuju, namun bagaimana dengan obral kata Bid’ah, Syirik dan Khurafat oleh kaum Wahaby untuk kaum muslimin? Apakah perbedaan persepsi itu harus dibarengi dengan menyesatkan (menvonis Bid’ah, Syirik dan Khurafat) ajaran kelompok lain?

    3- Silahkan anda tujukan pertanyaan anda tersebut kepada para sahabat mulia Rasul dulu yang melakukan hal semacam itu, baru ke kita yang mengikuti Salaf Saleh tadi…Lagi pula, kenapa Allah tidak langsung menyembuhkan penyakit mata nabi Yakqub secara langsung, kenapa harus melalui baju nabi Yusuf, apakah Allah gak mampu? Kenapa Allah tidak melarang orang yang datang kepada Rasul untuk meminta supaya Allah mengampuni dosa-dosanya, apakah Allah tidak mampu mengampuni dosa-dosanya secara langsung sebagaimana yang tercantum dalam surat an-Nisa’: 64 atau surat al-Munafiquun: 5, atau pada kasus saudara nabi Yusuf yang meminta pengampunan dosa via ayahnya (QS Yusuf: 97-98)? Kenapa Rasul dan nabi Yakqub tidak memerintahkan mereka minta ampun langsung saja kepada Allah? Jika anda beralasan bahwa di kuburan adalah orang yang sudah mati, maka kami akan katakan; apakah anda tidak yakin bahwa para nabi itu mati di jalan Allah yang berarti mereka hidup? Apakah versi anda tolok ukur syirik dan tauhid adalah “kematian” sehingga jika nabi masih hidup gak syirik tetapi setelah mati tergolong perbuatan syirik? Tolok ukur model mana itu yang gak berdalil sama sekali.

    4- Bagaimana anda menyatakan bahwa ungkapan khalifah kedua itu sebagai ungkapan bahasa saja sementara Shalat Tarawih adalah termasuk amal ibadah syar’i? Anda menyatakan bahwa “illatnya adalah “Nabi takut jika sholat sunnah itu dianggap wajib oleh ummatnya”” sehingga Nabi tidak melakukannya, sedang khalifah kedua melakukannya. Pertanyaan kami; tahu dari mana alasan nabi semacam itu? KAlaulah alasan itu benar, apakah anda tidak yakin dan dapat memilah mana ajaran nabi yang sunnah dan mana yang wajib, sesuai dengan petunjuk Rasul? Apakah Khalifah kedua tidak memiliki kekhawatiran yang sama denagn apa yang dikhawatirkan Nabi? Jika anda mengatakan bahwa Nabi pembawa syariat sedang khalifah tidak, maka pertanyaan yang pertama dapat kami munculkan lagi; apakah anda tidak yakin bahwa Nabi telah sempurna ajarannya sehingga jelas mana yang wajib, yang sunnah, yang makruh, yang mubah dan yang haram?
    Anda katakan; “bukankah malam pertama dan kedua Nabi sholat berjama’ah?”. Kami telah menelaah redaksi hadis-hadis itu secara teliti dan tidak satupun yang “jelas” menyatakan bahwa Nabi shalat tarawih secara berjamaah. Yang ada hanya Nabi pergi ke Masjid dan melakukan shalat Tarawih dan melihat para sahabat mulia beliau juga melakukannya. Gak percaya? Cek lagi dech redaksi-redaksinya…kalau anda gak tahu di kitab-kitab mana saja yang membahas shalat tarawih ini, kami akan beritahu alamatnya secara detail agar anda dapat merujuk pada kitab-kitab aslinya.

    Semoga kelompok anda (Wahaby) tidak lagi memiliki hoby membid’ahkan kelompok lain.

  20. 1. Perihal contoh tawasul yang Ente sebutkan di atas, itu adalah salah satu contoh tawasul yang masyru’. Tawasul bukan harga mati, sehingga tidak boleh sama sekali. Namun dalam hal ini, tawasul dibagi menjadi 2 macam. Pertama yang masyru’ dan kedua tidak masyru’. Nanti akan Ane jelaskan definisi dan contoh dari keduanya !.
    2. Untuk poin 4, “Yang ada hanya Nabi pergi ke Masjid dan melakukan shalat Tarawih dan melihat para sahabat mulia beliau juga melakukannya”. Dari jawaban Ente itu sudah jelas bahwa para sahabat Nabi bermakmum pada Nabi. Penjelasan tentang hal ini jelas disebutkan dalam Hadits Rasulullah. Baca buku hadits yang paling standar yang sering dipergunakan di lingkungan pesantren (kalau Ente memang santri pasti tahu), yaitu “Bulughul Marom” (yang ada syarahnya) di bab “Sholat Tathowu'”. Untuk lebih rincinya lihat di kitab “Subulus Salam”, di sana penjelasannya lebih rinci dan lengkap. Jadi adalah tidak benar jika Umar bin Khotob mengumpulkan para jama’ah sholat tarawikh itu tidak mengikuti sunnah Nabi. Penjelasan Ane di atas kiranya sudah cukup. Jadi, sekali lagi, perkataan Umar bin Khotob “ni’mal bid’ah hadzihi” itu konteksnya adalah lughowi, bukan syar’i. Tentu Umar bin Khotob tidak lagi khawatir jika sholat tarawikh itu dianggap wajib, sebab Nabi sudah wafat dan mayoritas bahkan semua sahabat sudah memahami kedudukan hukum dari sholat tersebut. Dengan begitu illat yang ada ketika Nabi masih hidup sudah hilang.

    Okelah, mungkin diskusi kita terlalu bertele-tele dan Ane khawatir Ente “tambah nggak nyambung”. Sekarang pahami dulu istilah ini : ibadah mahdzoh dan ghoiru mahdzoh, agama dan budaya keagamaan. Pahami betul-betul istilah-istilah tersebut, nanti Ente akan tahu apa itu bid’ah yang sebenarnya. Atau Ente baca kita As-Syatibi “Al-I’tishom” yang banyak dijadikan rujukan oleh para ulama tempo dulu dan sekarang dalam membedah permasalah bid’ah. Semoga Ente mendapatkan pencerahan tauhid !.

    ——————————–

    Sastro Menjawab:
    Ya mas, nanti akan kita bahas sendiri artikel khusus tentang tawassul yang kata kaum Wahabi tidak legal (ghairu masyru’) ternyata diajarkan oleh Salaf Saleh.
    Masalah Shalat tarawih, ini bukti bahwa anda kurang awas dan teliti dalam membaca teks kalimat demi kalimat dari hadis itu. Ya udah, setelah selesai tentang masalah tauhid-syirik dan apa saja yang dianggap syirik oleh kaum Wahaby (spt: tabarruk, tawassul, meminta syafaat…dsb) kita akan masuk kajian sunnah-bid’ah yang terlebih dahulu akan kita kaji; definisi, batasan dan ekstensi (mishdaq)-nya. Tunggu saja.

  21. Dahulu Rasulullah SAW pernah melarang pengikutnya untuk berziarah ke kekuburan. karena waktu itu tingkat keimanan mereka belum cukup kuat, sehingga dikhawatirkan mereka akan terjatuh kedalam syirik, dengan meminta-minta kepada orang2 yang sudah mati. Kini fenomena yang dikuatirkan oleh Beliau SAW sangat banyak bertebaran. Mereka mengatakan, kami hanya berziarah, dan berdoa kepada orang2 soleh. Mengapa kepada makam orang2 soleh ? Bukankah ziarah itu diizinkan untuk mengingatkan kita kepada kematian yang setiap orang akan mengalaminya ? Apakah kuburan orang2 biasa tidak cukup untuk menjadi peringatan bagi kita ? Kalau alasannya untuk berdoa, kenapa harus kekuburan ? apakah dimesjid tidak cukup ? Lalu kenapa lebih mementingkan mendoakan orang yang sudah diyakini kesolehannya daripada mendoakan bapak moyang sendiri yang kualitas beragamanya kita belum tau ? Sebenarnya mereka2 lah yang lebih utama untuk didoakan..Tapi yang banyak diziarahi malah kuburan2 orang soleh, yang biasanya juga jauuuh dari tempat tinggalnya sendiri..kadang ada yang di luar negeri..Lhaa..mau ngapain. bukan untuk ngalap berkah ? Iblis menjerumuskan kita dengan cara yang yang sangat samar..berhati-hatilah.

    ———————————-

    Sastro Menjawab:
    Pernyataan anda menunjukkan anda kurang memahami falsafah pensyariatan ziarah kubur…Apakah anda sewaktu berziarah kubur Rasul berarti mesti mendoakan Rasul agar masuk sorga, atau bertawassul -yang nanti akan kita bahas juga di blog ini- dan bertabarruk kepada beliau? Bukankah ziarah kubur Rasul sangat ditekankan dalam banyak hadis? Anda tahu gak hadis-hadisnya? Kalau gak tahu, ikuti terus kajian di blog ini, agar anda tahu…jangan hanya mencukupkan belajar dari buku-buku yanbg biasa dipakai di kelompok Wahaby Indonesia saja bung…Banyak buku yang lebih berkualitas di luar kelompok itu…Fanatisme itu bahaya!

  22. Abdul jalas!!!!!!
    itulah sebutan orang2 yg mengartikan “istiwa dgn jalas (duduk) padahal duduk adalah sifat makhluq, dan istiwa punya 15 arti(jalasa (duduk), qadara(menguasai)….. dsb) dan arti yg sesuai dalam ayat2 alquran dan hadis yg sesuai dalah qadara (menguasai)
    padahal dlm asmaul husna 99 jg tdk ada sifat jalasa (duduk)
    hai wahabi awab nih pertanyaan ini :
    1. wahabi katakan :
    “Allah punya Tangan tetapi beda dng tangan Makhluk”

    mereka katakan mereka menerima secara zahir,lalu mereka katakan lagi bahwa yg zahir itu beda dng zahirnya makhluk….
    kami bertanya :
    lalu makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

    Inilah akidah akal akalan mereka tak ada satu orangpun salaf al shalih yg berakal seperti ini…..

    2. yang punya keyakinan keyakinan kalian bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy.

    manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud?

    Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy, maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.

    3. Sebelum allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)…..
    semua makhluq tdk ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawah….smua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..
    pada saat itu dimana allah?

    dan setelah allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?

    Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq

    4 .kenapa u solat masih hadap kekiblat, katanya allah diatas?

    Posted in salafy | Edit | No Comments »
    Aqidah salafy / wahabi = aqidah kristen
    April 12, 2008 by dibyochemeng

    esetengah orang menganggap bahawa perbuatan menjelaskan kesesatan dan kekafiran Wahhabi ini adalah suatu yang memecahbelah saf umat islam.

    Saudara islam sekalian, ketahuilah! Sekiranya anda memahami betapa bahaya lagi sesatnya ajaran Wahhabi ini maka anda akan lebih sensitif kerana kejahatan dan kesesatan Wahhabi ini amat bahaya.

    Kepada yang mengatakan :bagaimana kita menyesatkan orng yang mengucap dua kalimah syahadah?!

    Ketahuilah! Walaupun seseorang itu mengucap dua kalimah syahadah tapi aqidahnya masih kafir lagi sesat dan dia tidak mengenal Tuhannya dengan mengatakan :
    “Allah itu berjisim” maka dia bukan islam.

    Imam Abu Hasan Al-Asya’ry menyatakan dalam kitabnya berjudul An-Nawadir :
    “ Al-Mujassim Jahil Birobbihi Fahuwa Kafirun Birobbihi”

    kenyataan Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tersebut bermaksud :

    “ Mujassim ( yang mengatakan Allah itu berjisim) adalah jahil mengenai Tuhannya, maka dia dikira kafir dengan Tuhannya ”.

    Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (wafat 725) dalam kitab Najmul Muhtadi menukilkan dari Al-Qodi Husain bahawa Imam Syafie menyatakan :
    “ Sesiapa beranggapan Allah duduk diatas arasy maka dia KAFIR ”.

    Mari kita lihat pandangan ulama Hanafi. Syeikh Kamal Bin Al-Humam Al-Hanafi menyatakan dalam kitab mazhab Hanafi berjudul Fathul Qadir juzuk 1 mukasurat 403 pada Bab Al-Imamah :

    “ Sesiapa yang mengatakan Allah itu jisim ataupun Allah itu jisim tapi tak serupa dengan jisim-jisim maka dia telah KAFIR ( ini kerana jisim bukanlah sifat Allah )”.

    Maka Wahhabi adalah Mujassimah yang beranggapan bahawa Allah itu jisim duduk diatas arasy.
    Tidak harus bagi kita senyap dari mempertahankan aqidah islam dan menjelaskan kesesatan ajaran sesat!.

    Kepada mereka yg merasa diri tu Wahhabi tapi tak iqtiqod dengan aqidah2 kufur maka tak usah menyebok mempertahankan aqidah sesat Wahhabi.
    Wassalam.
    DALAM KITAB WAHHABI :
    FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID
    KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH
    DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
    CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413
    MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.

    Cetakan ini pada mukasurat 356 yg tertera kenyatan kufur yg didakwa oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:

    “ IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI ”. perkara kufur ini bererti : “ Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi ”.

    Wahhabi diatas mendalilkan kononnya dari sebuah hadis DHOIF bahkan PALSU yg dicekup dari mana2 aje asalkan sepadan dgn aqidah tasybihnya.
    Wahhabi mengunakan HADIS DHOIF pada perkara AQIDAH…apa ini wahai Wahhabi?! mana pegi dakwaan anda adalah AHLUL HADIS?! takkan ahlul hadis guna hadis dhoif lago palsu pada perkara USUL AQIDAH?!

    ini pula adalah website kristian kafr yang menceritakan bahawa aqidah kristian kafir adalah Allah Duduk
    ( sebjik macam aqidah Wahhabi ):

    http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm

    lihat pada :
    عاشرا: ذكر عنه ما ورد عن الله في العهد القديم

    Kristian kafir kata pada nom 7 :

    “الله جالس على الكرسي العالي” (اش 6 :1-10) .

    kata kufur yg bermaksudnya : Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.

    Awas! ini adalah aqidah kristian..jangan ikut!

    Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (wafat 725) dalam kitab Najmul Muhtadi menukilkan dari Al-Qodi Husain bahawa Imam Syafie menyatakan :“ Sesiapa beranggapan Allah duduk diatas arasy maka dia KAFIR ”.

    Kepada mereka yg merasa diri tu Wahhabi tapi tak iqtiqod dengan aqidah2 kufur maka tak usah menyebok mempertahankan aqidah sesat Wahhabi.
    Wassalam.

  23. Alhamdulillah … makin diikuti makin nambah wawasan. Namun, saya seperti berdiri di antara 2 pilihan, mana yang bener?. Atau klo boleh berterus terang, seharusnya ga ada yang saya ikuti, kerna sama-sama bisanya saling mencemooh. Seperti operator seluler yang saling menjatuhkan pesaingnya untuk menjaring konsumen.

    Apakah ini sudah sampai pada level seperti Surat Al-Kafirun,’Bagimu agamamu dan bagiku agamaku’?. Baiknya cari playground masing2 deh, kerna klo sampai dibaca sama non-muslim, pastinya mereka akan menertawai. Dan kasian umat-umat yang masih ‘hijau’ seperti saya, mau ikutin yang mana.

  24. Tuan saya membaca tulisan diatas tentang Rasulullah SAW memasuki kuburan pada malam hari dan ada seseorang menyiapkan penerangan yang ingin saya tanyakan ziarah kubur sunnahnya malam hari atau siang hari ?

    ——————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Ziarah kubur malam maupun siang adalah sunnah Rasul karena Rasul pernah melakukannya di kedua waktu itu. Namun yang menjadi kajian kita adalah, apakah boleh memberi penerangan kuburan? Kata Wahhaby gak boleh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: