Kerancuan konsep Tauhid versi Wahaby (Salafy) – Bag I

allah_tuhanku.jpg
Kerancuan konsep keesaan tuhan (tauhid) jenis ini –tauhid uluhiyah hanya diidentikkan dengan tauhid dalam peribadatan- yang mengakibatkan kerancuan pengikut Wahaby dalam menentukan obyek syirik sehingga mereka pun akhirnya suka menuduh kaum muslimin yang bertawassul (mencari penghubung dengan Allah) dan bertabarruk (mencari berkah) sebagai bagian dari pebuatan syirik. Karena kaum Wahaby menganggap bahwa denga perbuatan itu –tawassul dan tabarruk- berarti pelakunya telah menyembah selain Allah. Disaat menyembah selain Allah berarti ia telah meyakini ketuhanannya karena tidak mungkin menyembah kepada selain yang diyakininya sebagai Tuhan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Persekongkolan Keluarga Saudi dengan Zionis

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi
tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Baca lebih lanjut

Ulama Ahlusunah dan Pelopor Jama’ah Takfiri (Ibnu Taimiyah)

Dalam karya lain Ibnu Hajar yang diberi judul “al-Fatawa al-Haditsiyah” halaman 86 menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah menuduh para ulama Ahlusunah seperti Abu Hasan as-Subki dan puteranya Tajuddin, syeikh Imam ‘Izz bin Jamaah dan para ulama Ahlusunah lain yang sezaman dengannya baik dari mazhab Syafi’iyah, Malikiyah maupun Hanafiyah sebagai pembohong dan pribadi-pribadi buruk. Oleh sebab itu, Ibnu Hajar dalam kitab tersebut mengatakan: “Dia (Ibnu Taimiyah) adalah hamba yang dihinakan, disesatkan, dibutakan dan ditulikan oleh Allah…”.

Baca lebih lanjut

Pengakuan Seorang Profesor Saudi atas Ajaran Wahabisme

Salah seorang guru besar dan intelektual Saudi Arabia yang benama Prof. Khalid ad-Dakhil dalam sebuah penelitian yang menggunakan keturunan keluarga Saudi dan ideologi Wahabisme sebagai obyek penelitiannya untuk menetapkan bahwa kekuasaan tanpa batas waktu dan yang berjalan secara turun temurun dari keluarga Saud itu pada awalnya memiliki tujuan politis, memisahkan diri dari kekhalifahan Usmani yang Ahlusunah.

Baca lebih lanjut