Kerancuan Konsep Tauhid versi Wahaby (Salafy) – Bag III

Dalam membedakan antara konsep tauhid dan syirik dalam prilaku masyarakat kita tidak boleh hanya melihat sisi zahir saja. Harus dibedakan antara perendahan diri, menghinakan diri dan ketaatan yang umum dilakukan oleh masyarakat (‘urf) –seperti perendahan diri (baca: penyembahan) para abdi dalem keraton Solo/Yogya terhadap sang raja- dengan perendahan diri yang masuk kategori ibadah. Sebagaimana harus dibedakan antara sujud para malaikat di hadapan dan untuk nabi Adam, atau sujud nabi Yakqub beserta keluarganya di hadapan dan untuk nabi Yusuf dengan sujudnya para kaum musyrikin di hadapan berhala-berhala (baca: tuhan-tuhan) selain Allah swt.


—————————————————–

    Kerancuan Konsep Tauhid Versi Wahaby
    (Tauhid dalam Pandangan al-Quran)

    Bagian Ketiga

Sebagaimana pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa tolok ukur dan garis pembatas antara konsep tauhid dan syirik terletak pada tiga hal yang masing-masing memiliki dalil ayat al-Quran:
A- Meyakini akan sifat ketuhanan (uluhiyah) bagi yang diibadahi (obyek ibadah).
B- Meyakini akan sifat pengaturan dan pemeliharaan (rububiyah) bagi obyek yang diibadahi.
C- Meyakini akan independensi dalam pelaksanaan segala prilaku yang dikerjakan oleh obyek yang diibadahi.
Dari ketiga tadi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa tolok ukur dan pembatas antara konsep tauhid dan syirik bukan terletak dari sisi zahir belaka, namun lebih pada sisi keyakinan yang berkaitan dengan sisi batin seseorang.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan poin pertama sangatlah banyak jumlahnya sehingga tidak perlu lagi untuk diperjelas satu persatu dalam tulisan ringkas ini, untuk mempersingkat tulisan.

Adapun yang berkaitan dengan poin kedua, ada dua ayat yang akan kita jadikan obyek penjelasan kita;
– Ayat Pertama yang terletak dalam surat al-Baqarah ayat 21, dimana Allah telah berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.
– Ayat Kedua yang terletak dalam surat al-An’am ayat 102, dimana Allah telah berfirman: “(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu”.
Jika kita teliti dari dua ayat di atas tadi maka akan kita dapati bahwa kata “Tuhanmu” dalam ayat pertama (QS al-Baqarah: 21) dan kata “Tuhanmu yang telah menciptakanmu” pada ayat kedua (QS al-An’am: 102) membuktikan bahwa penyebab pengkategorian suatu perbuatan sebagai prilaku syirik adalah dengan meyakini obyek ibadah sebagai pencipta yang sekaligus sebagai pemelihara dan pengatur alam semesta. Jadi hanya sekedar menampakkan tunduk, patuh dan hormat di hadapan sesuatu tanpa adanya keyakinan akan sifat pencipta (khaliq), pengatur dan pemelihara (rab) pada susatu tersebut niscaya tidak tergolong syirik. Atas dasar itu, Allah swt dalam al-Quran telah menafikan sifat pencipta dan pengatur juga pemelihara atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dengan firman-Nya: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS Maryam: 93)

Keyakinan akan kepemilikan suatu obyek akan sifat pemelihara dan pengatur meniscayakan keyakinan bahwa ia (obyek tadi) memiliki otoritas dalam hal yang berkaitan dengan penghambaan. Peniscayaan itu bisa jadi berbentuk otoritas penuh yang mencakup segala aspek kehidupan hamba sebagaimana kepemilikan sifat tadi oleh Allah swt berkaitan dengan semua perkara hamba-hamba-Nya, sebagai halnya keyakinan kaum monoteis. Ataupun otoritas yang hanya berkaitan dengan hal-hal tertentu saja, seperti berhubungan dengan pemberian syafa’at, ampunan, hajat, menjauhkan dari bencana sebagaimana yang diyakini oleh kaum politeis berkaitan dengan tuhan-tuhan palsu mereka. Atas dasar itu maka Allah swt menafikan kemampuan tuhan-tuhan tadi dengan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki manfaat apapun dengan firman-Nya: “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?””. (QS ar-Ra’d: 16) Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya”. (QS al-Isra’: 56) Sebagaimana firman Alla swt dalam ayat 87 dari surat Maryam yang berbunyi: “Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang Telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menafikan secara tuntas semua perkara yang hanya dimiliki oleh Allah swt secara independen dari tuhan-tuhan palsu kaum politeis tadi.

Adapun yang berkaitan dengan poin ketiga bahwa Tuhan harus bersifat independen baik dari sisi esensi dzat maupun perbuatan-Nya. Sebagaimana yang telah disinggung dalam pembahasan lalu, ayat yang dapat dijadikan contoh adalah surat al-Baqarah ayat 255 (Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus) dan surat Thaha ayat 111 (Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya)) yang keduanya membuktikan bahwa Ia adalah Dzat Yang berdiri sendiri (independen) dan tidak memiliki aroma fakir sedikitpun sehingga meniscayakan-Nya butuh terhadap sesuatu yang lain. Sebaliknya, segala sesuatu selain-Nya membutuhkan diri-Nya dan fakir di hadapan-Nya. Jika ada seorang pribadi yang meyakini bahwa ada sesuatu lain selain Allah swt yang memiliki sifat pencipta, pengatur dan pemelihara maka dapat dipastikan bahwa ia tergolong musyrik (penyekutu Allah).

Begitu pula dengan seseorang yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah tadi memiliki kemampuan memberi syafa’at, pengampunan dosa, memenuhi kebutuhan (hajat) dan kemampuan lain secara independent, dalam arti tanpa bantuan siapapun termasuk Allah, maka ia tergolong pelaku syirik.

Atau siapapun yang meyakini bahwa Allah swt telah pelimpahan otoritas secara penuh (tafwidh) kepada pribadi atau sesuatu sehingga mampu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan otoritas Tuhan tanpa perlu lagi kepada-Nya, inipun dapat digolongkan kepada keyakinan musyrik. Dalam masalah pelimpahan secara penuh yang diistilahkan dengan “at-Tafwidh” tadi memiliki pembahasan yang sangat luas. Ada beberapa bentuk pelimpahan yang dapat secara ringkas kita singgung di sini:

1- Pelimpahan otoritas yang Allah swt berikan kepada para makhluk-Nya yang terbaik, baik dari golongan malaikat, para nabi/rasul juga para kekasih (wali) Allah. Pelimpahan semacam ini dapat diistilahkan dengan “at-Tafwidh at-Takwini” (pelimpahan dalam urusan tata cipta). Atas dasar ini akhirnya manusia-manusia sesat menganggap bahwa Isa (versi Kristen) atau Uzair (versi Yahudi) adalah anak Allah swt.

2- Pelimpahan otoritas yang Allah swt berikan kepada hamba-hamba-Nya dalam masalah penentuan perundang-undangan, hukum syariat, pengampunan dosa, pemberian syafaat ataupun pengkabulan hajat. Pelimpahan semacam ini dapat disitilahkan dengan “at-Tafwidh at-Tasyri’i” (pelimpahan dalam urusan tata tinta). Atas dasar ini Allah swt dalam al-Quran menyatakan bahwa kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) telah menuhankan para rohaniawan mereka:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS at-Taubah: 31)

Tentu maksud dari ayat di atas tadi bukanlah lantas mereka menyembah dalam arti beribadah untuk mereka. Namun menjadikan mereka tuhan dalam arti para Ahli Kitab itu mematuhi (taklid) terhadap ajaran-ajaran rohaniawan dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta tanpa melihat dasar-dasar kebenarannya, biarpun para rohaniawan dan rahib-rahib itu menyuruh berbuat maksiat, menghalalkan apa yang diharamkan atau mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah sekalipun. Ini adalah bentuk dari penuhanan para rohaniawan dan para rahib dalam masalah penentuan hukum dan perundang-undangan, termasuk dalam penebusan dosa.

Dari apa yang telah kita bahas dalam masalah ini, jelas sekali bahwa dalam membedakan antara konsep tauhid dan syirik dalam prilaku masyarakat kita tidak boleh hanya melihat sisi zahir saja. Harus dibedakan antara perendahan diri, menghinakan diri dan ketaatan yang umum dilakukan oleh masyarakat (‘urf) –seperti perendahan diri (baca: penyembahan) para abdi dalem keraton Solo/Yogya terhadap sang raja- dengan perendahan diri yang masuk kategori ibadah. Sebagaimana harus dibedakan antara sujud para malaikat di hadapan dan untuk nabi Adam, atau sujud nabi Yakqub beserta keluarganya di hadapan dan untuk nabi Yusuf dengan sujudnya para kaum musyrikin di hadapan berhala-berhala (baca: tuhan-tuhan) selain Allah swt. Perbedaan mendasar dari dua bentuk perendahan diri, menghinakan dan ketaatan di atas tadi adalah berkaitan dengan keyakinan akan konsep ketuhanan (uluhiyah) dan pengaturan/pemeliharaan (rububiyah).

Jelas bahwa kaum musyrikin sewaktu merendahkan dan menghinakan diri berupa sujud di hadapan berhala mereka, hati mereka meyakini adanya sifat ketuhanan pada berhala tadi, baik sifat itu ada secara penuh pada sang berhala ataupun sebagiannya saja. Atas dasar itu Allah swt berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah”. (QS al-Baqarah: 165)
Sewaktu mereka meyakini bahwa tuhan bikinan mereka itu memiliki sifat-sifat ketuhanan maka akhirnya mereka pun mencintainya persis seperti kecintaan mereka terhadap Allah swt. Dengan kata lain, mereka telah menyamakan posisi Allah dengan tuhan-tuhan palsu mereka. Allah swt berfirman:
“Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata. Karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”. (QS as-Syu’ara’: 97-98)
Maksud dari menyamakan di dalam ayat tadi adalah menyamakan dalam urusan yang berkaitan dengan Allah swt, baik secara keseluruhan maupun sebagiannya. [Sastro H]
Wallahu A’lam

Selesai

Iklan

30 Tanggapan

  1. assalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    salam perkenalan mas satro dari ana d malaysia.
    ana dukung sepenuhnya perjuangan mas sastro dalam membenteras fahaman aliran wahabi ini. teruskan menulis sehingga terzahir kebenaran ASWJ sejati dan dapat kiranya terus bertapak d rantau nusantara yang bertuah ini.
    hidup sunniyun ! hidup syafi`iyun !

    —————————-
    Sastro Menjawab:

    Waalaikumsalam wr wb
    Terimakasih banyak atas dukungannya. Mohon disebarkan blog ini kesegenap kaum muslimin di Tanah Melayu…
    Wassalam

  2. apakah yang aswj itu cuma imam syafi`i saja, lalu imam-imam yang lain semisal imam ahmad bin hanbal, imam malik bin anas, imam abu hanifah bukan aswj, kalau itu pandangan kamu, kamu sudah masuk ke dalam taklid madzhab. artinya kalau tidak dari madzhabku maka itu bukan aswj. lalu kamu sastro mentang-mentang didukung kamu langsung saja berterima kasih, tanpa menjelaskan kebenaran.

    ————————-
    Sastro Menjawab:

    Mas, kalau anda mau baca dengan teliti jawaban-jawaban kami pada komentar-komentar yang ada -tanpa emosi dan fanatik- maka jawaban kami sudah jelas…mazhab imam Syafi’i adalah salah satu mazhab empat Ahlusunah wal Jamaah. Paham?

  3. Bismillah, jujur saja mas anda membenci ahlussunnah atau membela, kami bukan wahaby, penamaannya pun seharusnya Muhammady (kalo’ mo jujur sebab wahhaby itu orangtuanya) tapi kebencian anda kepada ahlussunnah sudah menjurus ke ashobiyyah, tak terkendali, pembelaan anda kepada ahlusyirk berlebihan… mintalah kematian jika anda merasa benar…

    —————————-
    Sastro Menjawab:

    Definiskan dulu apa itu Ahlusunah dan apa bedanya dengan Wahaby maka kami akan tentukan sikap…kami kira jawabannya sudah jelas jika kita tahu apa itu Ahlusunah dan apa itu Wahaby? Masalah penamaan Wahaby, sudah pernah kita singung mas..

  4. Terus menulis Mas Sastro, Insyaalloh ana tambah paham dan mantab dalam bertauhid. Biarkan ‘mereka’ menilai sesuai framework yang ada dikepalanya, sungguh kalau mau menggunakan ‘hati’, nggak ada yang salah pada tulisan Mas Sastros, juga nggak perlu emosi-erosion dalam menanggapi. Kalo memang nggak cocok, tinggalkan saja atau tanggapi saja dengan santun.
    Salam menulis

  5. waduh..waduh mas sa`ad, agaknya jengkel sekali sama kalimah `hidup sunniyun hidup syafi`iyun’ sehingga mas satro jadi sasaran. ngak usah gawat2 mas sa`ad. memangnya kami sunni dan memangnya kami bermazhab syafi`i. kerna jasa ulama sunni syafi`i lah islam bertapak kukuh dirantau nusantara bertuah ini!! selain mengkafir dan membid`ah apa jasa ulama wahabi!?

  6. Keanehan tiada terhenti, org2 wahaby jgnkan mendapat kritikan sedikit ilmiah, disebut wahaby aja kagak mau, spt apa si lemotnya otak mereka. Sesusah apapun binatang masih bisa di latih, nah ini wahaby yg punya otak betul2 pengku, memahami hal2 yg ilmiah aja mereka kerepotan. Perhatikan muballig wahaby yg ketika mendapatkan pertanyaan atas apa yg mereka doktrinkan, mereka tdk bisa berucap apa2 kecuali berucap” bid`ah, syirik, dll….” dimana saja muballig mereka menyebar disitu pula muncul permusuhan dan fitnah di seluruh tanah air kita. ( yah…kalau kena TBC ya jgn paksa yg lain untuk jadi pengidap juga ) sebegitu dungunya mereka sehingga saudara Dol wahab sendiri merasa sangat amat jijik ketika faham ini di nisbahkan kepada nama muhamad. Hai para pengidap TBC tdk sadarkah kalian bahwa virus Ibnu taimiyah dan dol wahab yg disuntikkan org2 zionis sudah begitu menjalar ke dalam darah aging kalian!!!! Apa yg kalian dapatkan dari topeng wahaby? Sedungu-dungunya org pun masih faham kalau islam adalah agama rahmat, tdk ada kekerasan, tapi doktrin yg kalian nisbahkan kepada islam itu adalah kekerasan tanpa rahmat sama sekali, ini sudah sgt jelas buat kalian. Begitu luasnya rahmat dan hidayah Ilahi sehingga meliputi otak2 dungu, kolot, radikal semoga saja kalian masih mendapatkan ampunan. maaf berkali2 saya berfikir untuk mengggunakan kata2 yg paling halus buat para pengidap TBC ini, namun inilah yg saya temukan.

  7. Saya pernah jadi wahaby, untunglah karena saya keras orgnya dan tdk gampang ikut2an akhirnya saya di keluarkan dan diusir dari kelompok itu, saya di anggap ahli bid`ah karena saya menggunakan akal sehat saya sesuai fungsinya ( bertanya terhadap hal2 yg jangggal dan irasional ) . Intinya bahwa wahabi adalah kotoran yg paling menjijikkan yg ada di alam raya ini karena hampir saja akal sehat saya mereka rampas, mereka mau suntikkan doktrin2 edan dan menjijikkan itu. Yah syukur Ilahi karena saya telah di selamatkan. dari bencana yg paling di takuti oleh auliya uLLah.

  8. Mas sastro siapapun mas orgnya, semoga Allah memperbanyak org yg memiliki ilmu dan semangat kaya mas….Amin. semoga usaha mas tdk sia2, walau sia2 untuk org2 wahaby tapi bermanfaat untuk selain wahaby. saya cium tangan dan kaki mas karena kekaguman dan faedah kajian2 yg telah mas tulis bagi saya.

  9. Sebenar-benar Tauhid Zat Allah Adalah beriman kepada zat wajib yang ada pada diri manusia itu sendiri. Bukan pada tulisan arab atau latin Allah. Karena Allah jadi 7 lapis langit dan 7 lapis bumi dan apa-apa antara keduanya termasuk manusia

  10. “Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu tuli dan bisu, dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Allah (akan menyesatkannya), niscaya sesatlah ia. Barang siapa dikehendaki Allah (akan menununjukinya), niscaya ditunjukiNya ke atas jalan yang lurus.”
    Terjemahan Al An’aam 6:39

    “Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (Al-Hujurat :6)

    ——————————
    Sastro Menjawab:

    Sekarang yang jadi masalah, siapakah orang yang dimaksud oleh ayat-ayat Allah di atas?

  11. Sekali lagi, mas sastro tidak konsisten. Dari mail-mail jawaban, banyak kata-kata kotor yang diucapkan, hanya karena mendukung anda, anda tidak komentar. Kalau akhlak suni yang seperti ini, tidak beda jauh dengan yang dikritikan (bisa saja yang dikritik tidak melakukannya).

    Mengenai bahasan anda diatas, tidak ada masalah. No Big Deal Mr?

    ————————
    Sastro Menjawab:

    Kalau semua dikomentari mas…waktu kami hanya abis untuk menawab komentar tok..
    Untuk kebenaran ungkapan anda, silahkan cek lagi semua….
    Lha sekarang giliran kami yang nanya…kami atau pemilik-pemilik blog Wahaby (Salafy) itu yang tidak konsisten untuk menerima komentar? Silahkan jawab!?

  12. “Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (Al-Hujurat :6)

    ——————————
    Sastro Menjawab:

    Sekarang yang jadi masalah, siapakah orang yang dimaksud oleh ayat-ayat Allah di atas?

    ____________
    narimo berkomen:

    akan ada orang-orang yang membaca Qur’an dan Hadits tidak lebih sebatas kerongkongannya saja dan memahaminya sebatas teksnya saja.

  13. kalau ahlus sunnah waljamaah cuma terbatas pada empat mahzab??? lha apa namanya itu ya???? Ya… fanatik mahzab lah….

    ————————
    Sastro Menjawab:

    Trus anda ingin supaya Salafy (Wahaby) juga masuk sebagai alternatif mazhab Ahlusunah gitu? Yang bener aja mas, lha wong si Ibnu Taimiyah, Ibnu Jauzi, Muhammad bin Abdul Wahab dan ulama Wahaby lainnya gak bicara gituan…apakah keinginan anda itu juga bukan sebagai bukti bahwa anda juga telah terselimuti dengan fanatik mazhab, Mazhab Wahaby? Kami kira, Wahaby itu dianggap sebagai ‘sempalan’ dari mazhab Hanbali itu sudah cukup baik bagi mereka. Kalau tidak, maka akan dianggap sebagai agama baru seperti Bahaiyah nantinya. Mengingat berdirinya hampir bersamaan sih antara Wahaby, Baha’i dan Ahmadiyah…plus pendukungnya juga sama, kolonial Inggris yang menjajah tiga negara sekaligus sehingga menelorkan dan berdirilah tiga sekte sekaligus; Wahaby di Jazirah Arabia, Baha’i di Iran dan Ahmadiyah di India.

  14. tidak nyambung ya….
    Maksudnya ya…. ilmu itu tidak terbatas diambil pada keempat ulama yang Rahimalloh itu, tapi dari ulama siapapun yang berusaha konsisten mengikuti Al Qur’an dan sunnah Shohihah ya kita ambil…

    meskipun saya sangat sedikit ilmunya dan hanya bisa “mengikuti” ulama, tidak sembarang “mengikuti”, tapi kita harus tau alasan(dalil-dalilnya) baru mengambil sikap. Sedangkan ketika saya ngaji di Salafy, mereka tidak pernah menyebut diri Wahhabi, karena yang mereka ikuti bukan hanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab saja, Imam Syafi’i diambi, Imam Hanafi diambil, Imam Hambali diambil, Imam Maliki diambil…..

    dan satu lagi keinginan saya adalah bermahzab Ibnu Qosim Muhammad bin Abdulloh Shollallohualaihiwasallam BUKAN SEPERTI ZHON ANDA ITU!

    ——————————-
    Sastro Menjawab:

    Kita buktikan bahwa pengikut Ibnu Taimiyah yang bernama Salafy (Wahaby) itu juga mengambil dari fatwa2 para imam Mazhab Empat itu…Salah satunya akan kita nukil dalam pembahasan “Benarkah Ibnu Taimiyah Ahlusunah (Bag-2)?”, di situ akan kita lihat betapa Ibnu Taimiyah tidak konsisten dengan pendapat-pendapat para imam Mazhab empat. KAum Salafy hanya akan mengambil pendapat para Imam Mazhab yang sesuai dengan misi dan Visi mereka saja, kalau yang sesuai adalah milik Imam Syafi’i ya pendapat beliau diambil, kalau yang sesuai milik Imam Malik, ya milik beliau diambil dst…Jadi akhirnya Salafy itu mazhab enak tinggal comot-comot aja sesuai dengan kehendak hatinya…tapi kalau yang gak sesuai, ya bakal dicampakkan…Itupun kadang mengatasnamakan saja, terkhsus dalam beberapa kasus yang tidak ada ungkapan resmi dari para imam mazhab empat.
    Memang, sbagaimana yang telah disebutkan, hanya secuil orang Wahaby yang mau disebut Wahaby..karena sebutan Wahaby berkonotasi negatif…

  15. Bagus sekali yah ngambil dalil dari berbagai mazhab, termasuk fatwa Matahari Mengelilingi Bumi (MMB) ini mah ngambil dari mazhab Gnostic Catholic Roma abad 14

    bagi yang tambah gemblung silaken nggemblung
    kemaren ada yang bilangin ana kasar amat bahasanya
    harap dimaklumi akhi… ana bukan makhluk halus

  16. kang sastro kenapa komentar saya dihapus…!! takut ketauan kalau kang sastro itu seorang orientalis (punya misi menghancurkan islam yang benar), saya tau kang sastro di adopsi sejak kecil untuk dididik menjadi seorang orientalis di L.A.

  17. Ya akhi banyak2x istighfar antum…para Nabi tdk meninggalkan dinar maupun dirham ,tapi yg ditinggalkan adalah ilmu,dan yg memiliki ilmu itu adalah para ulama krn al Ulama waratsatull Anbiya..tabayun antum baca kitab2x para ulama umat ini dgn memakai Sanad yg benar,krn sanad bagian dari agama.,jgn mengambil isnad agama ini dari syiah / rafidhoh…

    ————————–
    Sastro Menjawab:

    Terimakasih atas masukannya….tapi ya akhi, bukankah Nabi Sulaiman mendapat warisan harta dan tahta dari ayahnya, Nabi Dawud? Jadi para nabi bukan hanya mewariskan ilmu doang dong…

  18. Assalamu’alaikum

    Semoga Allah memberikan hidayah dan membuang dari pikiranmu segala macam pemikiran yang menyimpang dari al-Quran dan hadist.

    Sungguh aneh anda memberikan penamaan. Anda menamakan ajaran ini dengan Wahhabi, padahal ajaran yang diserukan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab Ra adalah ajaran yang juga dibawa dan diserukan oleh Rasulullah SAW, beserta para sahabat-sahabat beliau, taabi’iin serta at ba’ut tabi’iin. Sama hal nya dengan halnya dengan orang yang fanatisme dengan madzhab tertentu yang melabeli dirinya dengan madzhabnya tersebut. Yang perlu dan sangat perlu sekali anda ketahui wahai mas sastro, bahwa Wahhabi/salafy atau apapun namanya menurut anda adalah mereka yang memang telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW didalan hadist Beliau sebagai at-Thaifah al-Manshurah/al-Firqah an-Najiah. Cukuplah Allah jualah yang maha adil yang akan mengadili siapa diantara kita yang memang benar-benar memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah. Wallahu al-Musta’an

    ———————-
    Sastro Menjawab:

    Masukan yang bagus, tapi sekarang yang jadi masalah adalah; Siapakah Salafy yang sebenarnya? Siapakah Firqoh Najiyah yang disebut Rasul tersebut? Siapakah Ahlusunah wal jamaah sebenarnya? Semua mengaku itu bukan? Termasuk Wahaby. Tapi sayang, cara mereka dengan mudah membid’ahkan dan mensyirikkan saudaranya sesama muslim itu yang harus dicegah…karena cara itu juga tidak sesuai dengan ajaran dan perintah Rasulullah = Bid’ah

  19. Kayayknya.. Mas Sastro belum mengerti secara mendalam tentang ta’rif iman.
    gimana mau bener imannya kalau ta’rifnya aja belum ngerti

    ———————
    Sastro Menjawab:

    Silahkan anda definisikan apa itu iman dan apa syarat kesempurnaan iman tersebut? Silahkan kami tunggu…

  20. Assalamu alaikum, buat teman2 salafy saya tunggu hujjahnya di

    http://www.abu-syafiq.blogspot.com/

    demi tersingkapnya kebenaran dan hilanglah segala keraguan

    wassalam

    pencari kebenaran

  21. Ass. wr wb.
    Supaya ‘arah nunjuk’-nya agak adil dan lebih spesifik, ada baiknya dibaca dulu artikel di website ini :
    http://www.al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=22226
    Artikel yang cukup berisi dan ilmiah serta bermuatan lokal.
    Nanti kalau selesai, bisa bilang : ‘jenis yang itu tuh yang saya tunjuk…’
    Okey..selamat membaca.
    Wass. wr wb

  22. Bismillah
    Innalillahiwainnailaihi rajiun.

    Ya Allah, Kami mengakui akan ketetapanmu, bahwa ummat Islam ini akan terpecah menjadi beberapa golongan. Oleh karena itu engkau tunjukkanlah yang benar itu benar, dan Engkau perlihatkanlah yang bathil itu Bathil, sesungguhnya yang bathil itu pasti akan lenyap. Lenyapkanlah ya Rab, Engkau Maha Kuasa untuk hal itu. Amiin

    Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh

  23. Atas rahmat ALLOH SWT serta salam dan sholawat tetap tercurah kepada mutiara,zamrud sang pembawa kalam ilahi kanjeng ROSULLULLOH MUHAMMAD SAW. Tertarik saya membaca blog ini hingga saya pernah dianggap kafir,murtad,fasik,musyrik,dan sebagainya hanya karena saya sering mengucapkan suroh fatihah bagi semua makluk yang saya temui entah manusai,hewan,tumbuhan, lalu saya hanya diam tidak menanggapi omongan dia yang penting saya tidak dianggap ALLOH yang seperti itu cukup bagi saya. Lalu saya tanyakan pada teman wahaby atau apapun namanya apa kakek moyang saya sebelum islam masuk keindonesia akan masuk neraka karena mereka kafir? apa hanya muslim saja yang akan menikmati surga? Lalu teman saya mengiyakan jawabanya karena sesuai yg ada diQURAN dan HADIST. Lalu saya tanya lagi mana sifat Maha ARRAHMAN ARRAHIM nya ALLOH maha bijaksana nya ALLOH kalau kakek nenek moyang saya masuk neraka dan tak berhak surga maupun RIDHA ALLOH? Tapi jawabanya malah menampar saya dan mengusir saya. Inilah bukti bahwa kaum mereka tak pandai dalam mentafsirkan QUR’AN HADIST wassalam

  24. Saya merasa salafi itu dogmatis, picik, tidak bil hikmah dalam dakwah, hanya menebar perpecahan diantara ummat

  25. Assalamu’alaikum
    sekali lagi….
    Untuk saudaraku sastro…
    Kami akan menguji kelogisan anda berpikir dengan referensi utama kami adalah perkataan anda sendiri.
    Pada artikel tersebut diatas anda telah mengatakan “Begitu pula dengan seseorang yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah tadi memiliki kemampuan memberi syafa’at, pengampunan dosa, memenuhi kebutuhan (hajat) dan kemampuan lain secara independent, dalam arti tanpa bantuan siapapun termasuk Allah, maka ia tergolong pelaku syirik”

    Dan juga perkataan anda “….–seperti perendahan diri (baca: penyembahan) para abdi dalem keraton Solo/Yogya terhadap sang raja- dengan perendahan diri yang masuk kategori ibadah”

    Coba baca artikel ini dan sumbernya dapat anda lihat dibawah :
    “Bagi masyarakat Jawa, Makam Imogiri yang dibangun tahun 1632 itu memiliki nilai sakral yang tinggi. Untuk mencapai puncak tangga makam yang lokasinya cukup tinggi, pengunjung harus menaiki 553 anak tangga. Tidak itu saja, sesampai didepan gapura pintu utama, pengunjung yang berminat memasuki makam Suktan Agung harus bertemu dahulu. Tanpa abdi dalem makam, jangan berharap bisa masuk.”

    “Mudji Rahardjo (58), abdi dalem makam yang sudah bertugas 21 th lebih menjelaskan, untuk menjaga kekhusukan dan menghormati makam raja Jawa, pengunjung harus masuk tanpa alas kaki, selain itu pakaian yang dikenakan juga harus sesuai aturan. Untuk pengunjung pria, selain memakai kain panjang atau sarung, juga dilengkapi beskap,,blangkon. Sedang tamu putri sebaiknya mengenakan kain panjang dan kemben serta dilarang mengenakan kalung atau gelang. Aturan ini harus ditaati, sebab kalau dilanggar bisa berakibat fatal.”

    “Bagi orang Jawa makam ini sangat wingit dan sakral sehinga aturan dari pihak Kraton harus ditaati,” Mudji memberi alasan.”

    “Aturan yang dimaksud Mudji antara lain, tamu maupun pengunjung putra dilarang memakai pakaian barong dan kain parang rusak, sementara untuk putri dilarang mengenakan kemben cinde sebab pakaian itu hanya milik seorang raja, dan masyarakat biasa dilarang menyamai.”

    “Upacara ini banyak menyedot minat pengujung termasuk turis asing sebab bagi pengunjung akan berebutan mendapatkan air gentong tadi yang diyakini akan membawa keberuntungan hidup.”

    sumber = http://tourism-info.jogja.com/?UnEgL0ZlWjNWRi9JblVkUmhOIHk%3D=

    Seperti apa yang telah kami katakan pada komentar kami pada artikel anda yang lain. bahwa kami yakin anda cukup pintar mengkorelasikan/mengkaitkan perkataan anda dengan dengan artikel yang berbicara tentang keyakinan masyarakat jawa mengenai makam imogiri ini.
    Untuk lebih membantu maka, kami akan mempertegas bahwa klaim anda yang mengatakan
    “Harus dibedakan antara perendahan diri, menghinakan diri dan ketaatan yang umum dilakukan oleh masyarakat (‘urf)–seperti perendahan diri (baca: penyembahan) para abdi dalem keraton Solo/Yogya terhadap sang raja- dengan perendahan diri yang masuk kategori ibadah”
    itu terbantahkan oleh pembuat situs yang lebih faham apa dan bagaimana masyarakat jawa.
    Untuk sementara itu saja komentar kami
    iznu

    ——————————–
    Sastro Menjawab:
    Anda mengatakan, “Kami akan menguji kelogisan anda berpikir”, dan yang menguji ternyata tidak lebih baik dari yang diuji. Walau begitu namun kami akan bertoleransi dengan anda untuk menjawabnya:

    1- Anda mengatakan bahwa, “Kami akan menguji kelogisan anda berpikir dengan referensi utama kami adalah perkataan anda sendiri” namun ternyata anda tidak konsisten. Terbukti anda lantas membandingkan tulisan kami dengan mengatakan: “Coba baca artikel ini dan sumbernya dapat anda lihat dibawah:”. Lantas mana bukti anda menjadikan perkataan kami sebagai uji kelogisan berpikir dan sebagai refernsi utama? Anda hanya ingin membenturkan tulisan kami dengan tulisan orang lain yang kami tidak mengenal orangnya.

    2- Anda terlampau jauh dalam melarikan contoh yang kami berikan. Kami hanya ingin menjelaskan bahwa pemandangan zahir saja tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur penghukuman obyek syirik. Atas dasar itu maka kami contohkan sujud Malaikat untuk Adam dan sujud saudara Yusuf untuk Yusuf, bukan untuk Allah. Dan terbukti itu tidak ada teguran dari Allah, jika itu tergolong syirik, karena memang mereka (pelaku sujud) tidak meyakini Adam atau Yusuf sebagai sekutu Allah dalam ketuhanan (uluhiyah). Dan jika itu kita terapkan kepada para Abdi Dalem maka, sewaktu kita melihat abdi dalem sujud di hadapan raja, maka kita tidak boleh serta merta menvonisnya sebagai pelaku syirik. Jika di benaknya tidak terlintas bahwa raja adalah sekutu Allah dan tujuan sujudnya hanya sekedar sebagai perwujudan rasa hormat saja maka jelas itu tidak termasuk syirik kepada Allah (musyrik). Dan jika ia meyakini raja adalah sekutu Allah dalam ketuhanan maka, walau ia tidak pernah sujud di hadapan raja sekalipun maka ia tergolong pelaku syirik.

    3- Dalam artikel yang anda nukil tersebut dinyatakan: “Tanpa abdi dalem makam, jangan berharap bisa masuk”. Lantas apa masalahnya? Apakah sewaktu pemakaman dijaga oleh Abdi Dalem lantas masuk kategori Syirik? Abdi dalem di makam berfungsi untuk menjaga, menjaga pelaksanaan aturan yang telah ditetapkan dan menjaga kebersihan. Dia sebagai guide yang menjelaskanaturan-aturan dan pengawasannya. Makanya, tanpa dia orang tidak diperkenankan masuk. Dan kami kira itu cukup logis dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar keislaman.

    4- Ungkapan: “Untuk menjaga kekhusukan dan menghormati makam raja Jawa, pengunjung harus masuk tanpa alas kaki, selain itu pakaian yang dikenakan juga harus sesuai aturan”, khusuk dalam ungkapan ersebut bukan khusuk dalam beribadah, semua orang tahu itu. Yang dimaksud adalah suasana khidmat dan hening saja, sebagai penghrmatan terhada tempat itu. Pengormatan pada tempat ini yang nanti akan kita bahas dalam kelanjutan bahasan “Tabarruk”. Suara sandal akan merusak suasana itu. Semua aturan-aturan yang dibikin oleh pihak pemakaman harus ditaati bagi yang datang ke situ. Dan ingat, kedatangan seseorang ke situ bukan suatu kewajiban. Persis seperti apa yang terjadi di pemakaman Baqi’ (Madinah). Di situ ada aturan dari pihak rohaniawan Wahaby (Muthowwi’) yang tidak boleh dilanggar, seperti berziarah dengan jongkok ataupun duduk contohnya, maka mereka akan langsung menegur kita dengan ungkapan kasar. Ziarah ke Baqi’ tidak wajib, tetapi bagi siapa yang masuk pemakaman itu maka “harus” taat kepada aturan rohaniawan Wahaby, jika tidak maka akan dipaksa keluar atau bahkan ditangkap oleh petugas atas perintah rohaniawan Wahaby yang berada di situ. Makanya ungkapan lanjutan dari artikel tadi adalah: “Aturan ini harus ditaati, sebab kalau dilanggar bisa berakibat fatal”.

    5- Ungkapan yang menyatakan: “Bagi orang Jawa makam ini sangat wingit dan sakral sehinga aturan dari pihak Kraton harus ditaati”. Penentuan sakralitas selain Allah sangat bergantung kepada penentunya. Walaupun nanti melalui proses akan nampak, mana yang benar-benar sakral dan mana yang tidak. Saya contohkan, semua kaum muslimin meyakini bahwa ulama sakral. Namun penentuan siapakah gerangan yang tergolong ulama sehingga mendapat gelar sakral, itulah yang berbeda. Bagi kaum Wahaby, Muhammad bin Abdul Wahab sakral, tidak boleh dikritik apalagi dicaci. Dan pengikut Wahaby tidak akan pernah akan meyakini orang seperti Yusuf Qardawi sebagai ulama yang sakral. Sebaliknya, berbeda halnya dengan ahlusunah yang tidak menganggap orang seperti Muhammad bin Abdul Wahab yang suka membantai kaum muslimin sebagai ulama, apalagi yang memiliki sakralitas…dst. lha, bagi orang jawa, raja-raja itu memiliki nilai-nilai sakralitas dengan beberapa alasan. Mereka berkedudukan tinggi, darah biru, terhormat dsb makanya mereka menganggapnya sakral, walaupun pasca kematian mereka sekalipun. Kita tidak mau membahas bahwa penentuan obyek sakralitas versi orang jawa itu benar atau salah, sebagaimana kami bukan dalam rangka membahas apakah muhammad bin Abdul Wahab itu benar-benar masuk kategori ulama sehingga disakralkan atau tidak. Tapi yang jelas pensakralan itu pasti ada alasannya, entah itu masuk kategori syirik seperti yakin bahwa raja-0raja itu memiliki sifat-sifat ketuhanan, atau tidak masuk kategori tersebut, seperti alasan di atas tadi.

    6- Ungkapan “berebutan mendapatkan air gentong tadi yang diyakini akan membawa keberuntungan hidup” ini kembali ke masalah atau jawaban kelima di atas, penentuan obyek sakralitas. Akibat mereka (orang jawa) menyatakan bahwa raja-raja itu adalah orang-orang yang memiliki nilai sakralitas maka air dari pemakaman tadi memiliki berkah yang berakibat keberuntungan hidup. Persis seperti tindakan para sahabat Nabi yang menganggap Nabi adalah pihak sakral yang air bekas wudhu atau bekas diminum nabi lantas diperebutkan. Bedanya, raja jawa itu masih perlu diragukan kesakralannya, sedang Rasul tiada lagi diragukan kesakralannya. Sekali lagi, ini berkaitan dengan penentua obyek sakralitas.Yang jelas, selama sahabat yang mengambil berkah Rasul ataupun masyarakat jawa yang mengambil berkah raja tadi tidak meyakini kepemilikan sifat ketuhanan pada diri Rasul dan raja tadi dan sumber berkah itu atas kehendak Allah swt maka hal itu sama sekali tidak masuk kategoti syirik. Namun jika syarat itu tidak terpenuhi, maka ia tergolong perbuatan syirik.

    Maaf jika dari pertanyaan anda ini lantas kami menyimpulkan bahwa anda masih belum paham tentang konsep dan batasan-batasan tauhid-Syirik versi al-Quran. Kerancuan konsep inilah yang menyebabkan anda langsung sinis dengan hal-hal yang berkaitan dengan nilai sakralitas yang dinisbahkan kepada selain Allah. Padahal anda harus tahu, Allah adalah Dzat Yang Maha Sakral (Quddus) dan akan memberi otoritas kesakralan kepada hal-hal lain yang dinisbahkan kepada-Nya. Bangunan tua yang bernama Ka’bah itu menjadi sakral karena dinisbahkan kepada Allah sehingga menjadi sebutan Baitullah.
    Jadi secara umum, tolok ukur dan batasan dalam menentukan bahwa sebuah prilaku itu tergolong Tauhid atau Syirik adalah dengan merujuk kepada niat si pelakunya. Dan dikarenakan niat ini adalah pekerjaan hati maka kita tidak bisa hanya melihat sisi zahir prilaku tersebut. Orang yang bersujud di hadapan raja sebagai ungkapan rasa hormat terhadap manusia yang dianggap mulia tidak akan masuk kategori syirik. Sedabnf sujud menghadap Ka’bah namun jika diyakini bahwa Ka’bah adalah memiliki sifat-sifat ketuhanan maka ia tergolong pelaku syirik. Jadi semua kembali kepada niat dan keyakinan hati si pelakunya. Oleh karena itu, tidak mudah menuduh orang muslim sebagai pelaku syirik, sebagaimana mudahnya menunjuk non-muslim. Di sini salah satu letak perbedaan utama antara muslim dan non muslim.

  26. Alhamdulillah….saya pernah diberi Cincin oleh Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Ilyas Ruhiat…saat itu beliau berkata :”kalau ada yang bertanya cincin ini untuk apa..katakan saja kalau kamu senang memmakai cincin..tidak usah untuk ini atau untuk itu…
    Saat ini berkahnya terasa oleh saya..setiap saya memakai cincin itu saya ingat kepada keshalehan beliau yang santun, bujak dan jarang sekali mencaci maki dan memarahi orang lain……
    Apakah itu Syirik…..????? wahaby…wahaby….

  27. yg bs djdkn bhn rjkn dlm mnntkn apakah org tsb aswaja ato gak,adlh kitab2 yg dia jdkn refrensi,termasuk kutubul muktabaroh apa bkn.jg ltr blkg pnddkn,pernah mondok dmn?di jowo ato L.A.

  28. sekedar saran untuk semua….carilah ilmu dengan sanad sanad yang jelas dan sampai kepada Rasulullah SAW.

    untuk pengikut wahaby(atau apapun namanya)…tolong di pelajari lebih lanjut siapa muhammad bin abdul wahab….tolong di cari referensinya bukan dari buku/pemimpin wahaby…

  29. Iznuardi……….. Berlajar lagi Nak.
    Atau guru nt aja bawa kesini, suruh dia ngetik sendiri di PC (Buatan Orang Kafir) milik anda itu.

  30. Bismillah…. Mas definisi wahaby anda itu ada nggak di Indonesia? saya kok ragu dengan validitasnya,,, jgn2 sekedar tuduhan… ada trend akhir2 ini org2 membenci kesyirikan, taqlid buta, ashobiyyah, hizzbiyyah.. dan mrk mencari alhaq.. lalu diantara ulama rujukan syariat mrk ada Muhammad bin Abdul Wahhab yg saat itu “BERUSAHA” mengembalikan umat ke arah pemahaman tauhid yang benar.. dan sekarang anda bisa katakan kpd pengunjung site ini… apakah mrk yg anda maksud wahhabi? semoga Allah memberi anda hidayah.. Akhi.. apakah sudah antum tegakkah Alqur’an dan Sunnah dlm keluarga anta ? atau MASIH SEGAN? BELUM SAATNYA? NANTI DULU? UMMAT INI MASIH JAHIL? PELAN2? begini saja akhi kalo antum sdh menegakkan sunnah pada diri antum sendiri, keluarga antum Alhamdulillah… antum tinggal banyak berdo’a meminta taufiq&hidayah dari Allah azza wajalla… Barakallahu fiika.. wajazakallah khairon katsiira yaa akhi fillah.. musafirdunia1993@yahoo.com

    —————————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Akhi, hatta Mirza Ghulam Ahmad juga MERASA semacam itu….kini tinggal dibuktikan aja, apakah PENGAKUAN-nya itu benar atau malah berbeda 180 derajat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: