Tabarruk 1; Tabarruk Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik?, Sebuah Pengantar

rumah-tempat-kelahiran-nabi-di-makkah.jpg
Ternyata kumpulan ulama Wahhabi itu ingin menyatukan antara fatwa tokoh-tokoh ulama mereka yang sebagian menyatakan bahwa ‘tabarruk’ merupakan perbuatan bid’ah sedang yang lain menyatakan itu merupakan perbuatan syirik, dengan menfatwakan bahwa “Pencarian berkah (tabarruk) masuk kategori bid’ah dan bagian dari bentuk syirik”. Poin inilah yang harus kita garis bawahi dan kita ingat-ingat untuk bekal pembahasan kita nantinya.

————————————

Mengambil Berkah (Tabarruk) Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik? (Bag-1)

    (Tabarruk Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik?, Sebuah Pengantar)

Salah satu dari kejelasan ajaran agama (Dharuriyaat ad-Diin) yang menjadi kesepakatan segenap kelompok muslim adalah berkaitan dengan pengkhususan peribadatan kepada Allah swt. Hal ini termasuk dari asas-asas dasar agama. Islam tidak memperkenankan pengikutnya untuk menyembah selain Allah swt. Ini adalah esensi dasar (ushuluddin) ajaran agama para nabi dan rasul terdahulu, terkhusus agama Muhammad saw yang bernama Islam. Islam tidak mengizinkan penyembahan terhadap Malaikat, nabi ataupun rasul, apalagi berhala. Islam akan menghukumi pelaku peribadatan selain Allah swt tersebut sebagai kafir yang musyrik. Ini tiada seorangpun dari kaum muslimin yang memahami Islam yang meragukannya. Bagaimana tidak, sedang ia setiap sehari mengulang-ngulang kata: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in).

Salah satu hal yang dinyatakan syirik oleh kelompok dan aliran Wahaby (salafy) adalah pengambilan berkah (tabarruk) dari sesuatu yang dianggap sakral. Dengan tuduhan itu mereka dengan seenaknya lantas menyerang kaum muslim sebagai pelaku bid’ah ataupun syirik. Dalam berbagai kesempatan ulama mereka mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyebutkan seperti apa yang telah disebutkan tadi, vonis ahli bid’ah dan syirik. Pada kesempatan ini, kita akan lihat beberapa contoh fatwa mereka:

1- Bin Baz (Abdul Aziz) dalam kitab “al-Fatawa al-Islamiyah” jilid 4 halaman 29 menatakan: “Meletakkan al-Quran dalam kendaraan (mobil) untuk mencari berkah (tabarruk) merupakan sesuatu yang tidak berasas (tidak ada asalnya) dalam syariat Islam”.

Dengan kata lain, Abdul Aziz bin Baz menyatakan bahwa perbatan semacam itu (mencari berkah) merupakan perbuatan bid’ah.

2- Ibn Utsaimin dalam kitab “Majmu’at al-Fatawa li Ibni Utsaimin” fatwa nomer 366 menyatakan: “Mengambil berkah dari kisa’ (kain yang melingkari .red) Ka’bah dan mengusap-usapnya merupakan perbuatan bid’ah, karena Nabi tidak pernah mengajarkannya”. Dalam kasus yang sama (tabarruk) juga ia sebutkan dalam kitab “Dalil al-Akhtha’” halaman 107 disebutkan: “Sebagian penziarah mengusapkan tangannya ke mihrab, mimbar dan tembok-tembok masjid. Semua prilaku itu masuk kategori bid’ah”.

Inilah fatwa syeikh (Utsaimin) yang namanya selalu dicantumkan dalam situs dan blog-blog kaum Wahaby, selain Bin Baz di atas tadi.

3- Ibn Fauzan dalam kitab “al-Bid’ah” halaman 28-29 menyatakan: “Tabarruk mempunyai arti mencari berkah, penetapan kebaikan, meminta kebaikan dan meminta tambahan dari hal-hal tadi. Permintaan ini harus diminta dari sesuatu yang pemiliknya adalah yang memiliki kemampuan. Ini tidak lain hanyalah Allah semata. Hanya Ia Yang mempu menurunkan dan menetapkannya. Tiada satu makhlukpun yang mampu memberi ampunan, memberi berkah ataupun mengadakan dan menetapkan hal-hal tadi. Atas dasar itu, tidak diperbolehkan mengambil berkah dari tempat-tempat, peninggalan-peninggalan ataupun seseorang, baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Karena hal itu bisa masuk kategori syirik”.

Jika tadi Bin Baz dan Bin Utsaimin menyebutnya sebagai perbuatan bid’ah maka sekarang Bin Fauzan lebih berani dari kedua orang ulama Wahaby sebelumnya tadi. Ia telah berani menyatakan bahwa “Pencari Berkah Tergolong Musyrik”. Mari kita lanjutkan penelitian dari kajian kita ke contoh terakhir dari fatwa mereka (kaum Wahabi yang berkedok Salafi).

4- Gerombolan ulama Wahhaby yang terhimpun dalam “al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’” (Tim Tetap Pengkaji dan Pemberi Fatwa) dalam fatwanya nomer 3019 menyatakan: “…perhatian masyarakat terhadap masjid ini dengan mengusap-usap tembok dan mihrab untuk mencari berkah merupakan pekerjaan bid’ah dan juga masuk dari salah satu jenis syirik. Perbuatan ini sama dengan perbuatan kaum kafir pada zaman jahiliyah”.

Ternyata kumpulan ulama Wahhabi itu ingin menyatukan antara fatwa tokoh-tokoh ulama mereka yang sebagian menyatakan bahwa ‘tabarruk’ merupakan perbuatan bid’ah sedang yang lain menyatakan itu merupakan perbuatan syirik, dengan menfatwakan bahwa “Pencarian berkah (tabarruk) masuk kategori bid’ah dan bagian dari bentuk syirik”. Poin inilah yang harus kita garis bawahi dan kita ingat-ingat untuk bekal pembahasan kita nantinya.

Definisi Tabarruk:

Dari sisi bahasa, kata ‘tabarruk’ berarti “mencari berkah” (lihat: kitab Lisan al-Arab jilid 10 halaman 390, kitab Shihah al-Lughah jilid 4 halaman 1075 dan kitab an-Nihayah jilid 1 halaman 120). Dengan begitu, sewaktu dikatakan bahwa “mencari berkah terhadap sesuatu” berarti “keinginan mengambil berkah dari sesuatu tadi”. Atas dasar itulah maka definisi tabarruk dari sisi istilah adalah; “Mengharap berkah dari sesuatu ataupun hal-hal lain yang Allah swt telah memberikan keistimewaan dan kedudukan khusus kepadanya”. [Sastro H]

Bersambung…

20 Tanggapan

  1. “Segala kebaikan ada ditangan Allah, Ia letakkan dimanapun yang Ia kehendaki, Kita lah yang mencari dimana kebaikan itu diletakkan Nya” kata-kata bijak dari seorang Wali Allah, Allah memang tidak butuh dengan lebah untuk memberi kita madu, tetapi Allah berkehendak itu bukan karena butuh tapi untuk tasyri’ bagi manusia

  2. Sangat tidak baik jika artikel diputus ditengah pada saat fatwa yang kontroversial masih dijadikan dalil. Ini seperti menulis kalimat “laa ilaaha” (“ilallah”-nya minggu depan), atau semacamnya. Berbahaya kan.

    Tidak semua pembaca mengikuti terus artikel di web ini. Saran saya, tulis artikel sampai titik, baru ganti ke topik berikutnya.

    Maaf jika tidak berkenan.

    ——————————-
    Sastro Menjawab:

    Maaf dech mas, kami justru punya prediksi laen…Jangan samakan sama kalimat Tauhid donk mas….Kasih contoh aja kaya’ film action, trus tiba-tiba diputus di tengah jalan, khan orang pada jadi penasaran, baik yang Wahaby maupun yang gak suka terhadap Wahaby…Tenang mas, ada kelanjutannya kok, masih panjang…

  3. Dasar Celana gantung jenggot tipis kayak kambing, jidad hitam karena sering di gosok….
    seenaknya aja bikin hukum / fatwa mengkafirkan seseorang..
    Inilah salah satu bentuk Fitnah yang paling jahat yang dilakukan kaum munafik terhadap Islam.

    Salam

  4. Salaam. Tuk semua saudarakuu: Lanaa a’maluna walakum a’malukum….dingin..adem ayem..

  5. “Meletakkan al-Quran dalam kendaraan (mobil) untuk mencari berkah (tabarruk) merupakan sesuatu yang tidak berasas (tidak ada asalnya) dalam syariat Islam”.

    Apakah al-quran mempunyai manfaat. Dia hanya berbentuk sebuah buku. Tapi, jika isinya diamalkan, diucapkan dengan tujuan hanya pada Allah, itulah cara yang benar.

    Jika, ada orang yang beranggapan bahwa buku dapat memberikan manffat, jelaslah dia telah menduakan Allah sebagai Dzat yang disembah…

    Esensinya bukan pada dzat tersebut tapi pada amalan-amalannya (ibadah-ibadah yang telah Allah syariatkan pada manusia). Masa sih gitu aja ga bisa nalar…?

    ————————-
    Sastro Menjawab

    Jika anda tidak meyakini bahwa ‘buku’ yang didalamnya terkandung kitab suci al-Quran itu tidak dapat memberikan ‘manfaat’ maka anda juga ‘harus’ meyakini bahwa ia pun tidak dapat memberikan ‘madharat’ (bahaya), karena manfaat lawan dari madharat…sebagaimana kitab al-Quran tidak bisa memberi manfaat, ia pun tidak dapat memberi madharat…itu keyakinan anda bukan? sekarang silahkan hinakan kitab al-Quran itu jika anda tidak takut murka Ilahi? Jika anda konsisten dengan keyakinan anda aka anda tidak boleh takut akan hubungan antara ‘menghinakan kitab al-Quran’ dan ‘murka Ilahi’…lantas apa hubungannya antara kitab/buku yang didalamnya terdapat al-Quran dan murka Ilahi? Jika anda tidak berani, maka benarlah apa yang kami yakini bahwa sebagaimana kitab/buku yang ddalamnya terdapat al-Quran dan nama-nama Allah itu sebagaimana bisa mendatangkan madharat (bahaya) ia pun dapat juga mendatangkan manfaat buat pemegangnya…

  6. subhanallah mas, DASAR WAHABI, Pantas aja semua bukti budaya / sejarah negara dihancurkan. Al-quran aja gak pernah mau mereka hormati, tantangin aja mas untuk injak-injak Alquran!, DEMI ALLAH HIDUP MEREKA GAK BAKAL BAHAGIA DIDUNIA DAN AKHIRAT.Astagfirullah

  7. Rasa kecintaan (mahabbah) terhadap Uswatun Hasanah kita, habiballah, Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW. adalah masalah yang sangat penting. Hal ini karena iman kita tidak akan ada artinya bila belum mampu menempatkan Rasullulah SAW. sebagai orang yang paling dicintai dan disayangi. Sebab Rasulullah adalah penunjuk ke jalan yang benar dan penegak keadilan. Tanpa terutusnya beliau kita akan sesat dan tidak akan bisa selamat. Rasa kecintaan kepada Rasul hanya akan terbukti bila kita mampu mengenali dengan baik pribadi Rasulullah SAW, termasuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang selama ini dilekatkan orang terhadap pribadi beliau yang mulia. Sebagian besar sifat-sifat buruk itu ada dalam Hadits yang selama ini kita selalu memandang Hadits merupakan cerminan pribadi Rasulullah apalagi untuk hadits-hadits yang dianggap shahih seperti Hadits Bukhari.
    Karena itu, jika kita ingin menemukan kembali sunnah sejati, kita harus berusaha keras untuk meneliti Hadits-Hadits nabi Saw. Dengan sikap kritis. Dan tentunya harus disandarkan kepada Al-Quran sebagai pedoman yang utama.

    TENTANG RASULULLAH LUPA BACAAN SHALAT, Shahih Bukhari Hadits No. 453
    Diceritakan oleh Abdullah bin Buhainah ra. (dia berasal dari Bani Azdi Syanuah, sahabat – dalam suatu perjanjian persahabatan – dengan Bani Abdu Manaf, dan juga salah seorang sahabat Nabi SAW), dia mengabarkan, bahwasanya Nabi SAW pernah shalat Zuhur dengan orang banyak. Setelah raka’at kedua beliau terus saja berdiri tanpa duduk tasyahud pertama, dan orang banyak pun berdiri pula. Setelah shalat hampir selesai dan sedang menanti-nanti Nabi hendak memberi salam, tiba-tiba takbir, padahal ia sedang duduk. Kemudian sujud dua kali (sujud sahwi, red) dan setelah itu barulah beliau memberi salam.

    Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah pernah lupa dalam shalat beliau. Jika kita rujuk dalam Al-Qur’an:
    Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (Q.S. Al Mu’minuun: 1-3)
    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (Q.S. Al Baqarah: 152)
    Rasulullah SAW yang merupakan guru dari sekalian para nabi dan rasul dan guru sekalian alam semesta, merupakan orang yang telah mencapai maqam tertinggi kenabian sehingga tidak mungkin Rasulullah sampai lupa rakaat shalat. Apalagi shalat yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah shalat untuk mencapai kekhusyu’an secara lahir dan batin, sehingga umatnya memahami dan mengetahui rukun Qauliyah (perkataan), Fi’liyah (perbuatan), dan Qolbiyah (hati).
    Rasulullah adalah orang yang senantiasa berzikir (mengingat) Allah dalam setiap perbuatan maupun desiran nafas beliau, apalagi dalam shalat. Sehingga jika kita merujuk Hadist No. 646 di atas, tidak mungkin setan mampu menggoda Rasulullah untuk melalaikan beliau dari pelaksanaan shalat secara lahir dan batin yaitu hudurul qalbi ma’allah.
    Secara logika, jika Rasulullah akan mengajarkan sujud sahwi kepada para sahabat, Rasulullah tidak perlu sampai “melalaikan” shalat yang merupakan ibadah yang sangat penting.

  8. hudhurul qalbi ma`allah tidak brarti ingat trus akan jumlah rakaat, lalai juga tak brarti slalu berasal dari godaan syaitan. Jadi kisah tsb hanyalah penggambaran Allah kepada manusia bahwa rasul saw. adalah manusia juga yg pernah lupa. demikian juga ketika rasul saw. ditegur karna memalingkan muka dari seorang buta, yg diabadikan dalam surah `abatsa. rasul saw maksum (bebas dari dosa) namun maksum bukan berarti bebas dari lupa dan salah dalam mengambil tindakan. Jika rasul saw. salah dalam mengambil tindakan maka akan ditegur langsung olehNya. itu bedanya antara maksum dgn yg tidak maksum.

  9. ayo… teruslah beraNTEm
    hee,, asyik juga liat orang saling adu argument
    mas bikin tulisannya yang lebih hot lagi
    jarang-jarang gw liat forum ky gini

  10. Kelihatannya Mas Sastro belum cukup ilmu untuk menyangkal. Tapi sungguh sangat berilmu dalam memfitnah dan berdusta terhadap mereka yang berpegang teguh kepada Sunnah. Apa yang diajar oleh Ibnu Taimiyah adalah HAQ. Hanya saja Ibnu Timiyah sangat berani kepada mereka Ahlu Bidah, sehingga Ahlu Bidah mencari jalan untuk mencela Beliau. Padahal Beliau hanya menegakkan ajaran Islam. Hati-hatilah….ini urusan Agama resikonya di Akhirat… jangan asal fitnah. Lebih baik ente urus diri dan keluarga ente dari api neraka…… begitu juga buat kaum muslimin lainnya, jangan ikut-ikutan…Ahlu Sunnah tidak pernah mencela dengan fitnah dan dusta……

    —————–
    Sastro Menjawab:

    Jawab artikel kami kalau mampu, jangan lari kesana-kemari…

  11. Mas Sastro, kebenaran koq mau di Bantah!! Kembalilah ke Jalan yang benar. Menurut saya penyimpangan anda sudah terlalu jauh. Saya khawatir Allah menyesatkan hati anda hingga nyawa and melayang…..Ulama-ulama sudah berusaha meluruskan umatnya koq malah anda ingin membengkokkannya.
    mau anda apa sih? Mau ngajak kita-kita masuk neraka bersama ente ya….l

    —————————-
    Sastro Menjawab:

    ulama-ulama? Ulama yang mana? Yang Wahaby khan? Ya jelas, lha wong ulama Ahlusunah semua kalian lecehkan…ya pasti yang kalian maksud adalah orang-orang biasa seperti Utsaimin, Bin Baz, Aali Syeikh dan sebagainya yang bergelantungan mencari rizki di bawah ketiak klan Saud itu.

  12. MasyaAllah Sastro, mudahan antum selalu diberi Rahmat dan Taufiq dari Allah SWT.
    ana adalah salah satu dzuriyat (keturunan Rasulullah SAW) yang berpegang kepada sunni madzhab imam Syafi’i.
    ana sendiri sudah merasakan keganasan wahabi.
    tahun lalu, waktu ana masih SMA (SMA di jogja yang menganut wahabi), nama ana di coret dari daftar siswa muslim ROHIS, gara gara ana mengajak sohib sohib untuk maulid Habsyi dirumah ana.
    dan tentu saja ana juga mengajak sohib sohib untuk ziarah ke kubur para auliya yang ada di jogja.
    MasyaAllah Sastro, doakan dan bantu ana dalam urusan wahabi yang merajalela ini. tolong antum kirim ke email ana, no hape atau apa pun yang bisa ana hubungi, supaya lebih nyaman.
    Allahu yuhibbul muhsiniin.

  13. mas sastro, mohon untuk membahas suatu materi, tolong dijelaskan dengan dalil-dalil al_quran dan hadits2 dari rasulullah SAW (kalau bisa disebutkan matan-matan haditsnya, atsar-atsar para sahabat, dan pendapat2 ulama terdahulu atau imam empat. dan sebutkan buku2 rujukannya).

    ————————-
    Sastro Menjawab:
    Baca lagi artikel-artikel kami, apakah sudah memenuhi kriteria yang anda sebutkan…lihat klasifikasi tulisannya dong…

  14. kalau sy membaca tulisan mas sastro.. sebaiknya untuk tidak menguraian sesuati itu secara terpotong2.. akan lebih banyak manfaatnya kalau semuanya jelas pada 1pokok masalah yg selesai. kl sy liat cara mas sastro menjawab, sepertinya cara2 tersebut dipakai oleh kaum nasroni/yahudi untuk memerangi kaum muslim… wallohu aklam… kalau antum punya cara lain dalam penyampaian risalah. tp alangkah baiknya kl secara baik2 dan tidak menimbulkan emosi yg berakibat dengki dan amarah. insyaalloh semua akan berjalan dgn baik..

    ——————–
    Sastro Menjawab:
    Ini blog mas, bukan buku yg harus tuntas dalam satu pembahasan…toch selama masih belum selesai khan kita teruskan di seri berikutnya?

  15. Mas Sastro…..
    Terlihat sekali dari ungkapan kata-kata anda bahwa kebencian pada faham yang anda sebut “wahaby” begitu kentara. Ini pula yang saya lihat menjadi titik lemah anda. Pembahasan anda menjadi kurang ilmiah dan tidak terhindarkan kesalahan fatal senisal menyebut ulama dengan ‘gerombolan ulama’, ‘si Ibnul Qoyyim dan si-si lainnya’. Padahal kalau saya baca biografi mereka, ke-wara’ an mereka, iltizam dan keteladanan mereka, niscaya anda tidak ada apa-apanya.

    Padahal orang-orang ‘wahaby’ yang anda sebut setahu saya begitu menghormati para ulama termasuk Imam Syafi’i, Imam al Ghazali dst. Mereka hanya mengkritisi pendapatnya yang dho’if dan memakai pendapat yang memiliki dasar yang shahih (karena zaman dahulu belum seperti sekarang, ada satu hadits yang sampai ke Imam yang satu dan tidak sampai pada Imam yang lain).

    Awal membaca saya agak kagum dengan kecerdasan anda, tetapi semakin banyak membaca tulisan anda semakin yakin saya akan kesalahan anda.

    Penjelasan anda muter-muter dan ngalor ngidul sebatas logika yang dicocokkan dengan sebagian ayat-ayat yang pas. Dan saya sangat tidak mungkin mempertaruhkan keselamatan akherat dengan mengikuti pola fikir keagamaan ‘rumusan’ anda.

    Coba duduklah di malam hari…. renungkan dengan hati bersih, buka kitab-kitab para ulama dari berbagai madzhab terutama yang membahas masalah tauhid… timbanglah dengan fikiran anda yang cerdas itu, jujur dan sportif pada diri sendiri, niscaya akan anda dapati bahwa konsep tauhid orang-orang yang anda sebut ‘wahaby’ itu benar dan memiliki dasar yang rajih dari Al Qur’an dan Hadits-hadits yang shahih.

    Sementara pemahaman anda memang benar enak didengar dan nampak sesuai dengan kultur saudara-saudara kita, sebagian masyarakat Indonesia yang tengah ‘sakit’ akidahnya. Yang sebagian masih mencampur adukkan kesyirikan dalam keIslaman mereka.

    Sungguh saya takut melihat cara anda mengambil dalil, merangkai alur berfikir dan mengambil kesimpulan. Khas cara berfikir orang-orang pintar yang banyak menyesatkan manusia dari kebenaran.

    Kalau saya menilai, orang-orang yang anda sebut sebagai ‘wahaby’ hanya masalah teknis/cara berdakwah saja yang mungkin masih bisa diperhalus. Adapun muatannnya tidak ada satu kelompok keagamaan pun yang saat ini bisa menandingi dalam kekuatan hujjah/dalil. Sampai dalam menyampaikan 1 hadits pun mereka berani mempertanggungjawabkan tingkat validitas dan keshahihannnya. Tidak seperti kita-kita yang ‘ketahuan belangnya’ terbiasa dan akrab dengan hadits-hadits dhoif dan asing dengan yang namanya tarjih.

    Penutup, Mas Sastro….. introspeks dirilah, karena kebenaran itu terang dan jelas dan kebatilan pun jelas.

    Para pembaca bisa pula bertanya pada diri sendiri, jika anda termasuk orang yang pro dengan pemikiran-pemikiran mas Sastro, cobalah jujur menjawab pertanyaan ini:
    -Sudahkan kita sportif menimbang kebenaran seluruh apa yang kita lakukan dalam berIslam ini pada Al Qur’an dan Hadits yang shahih?, atau masih lebih sering ‘mengandalkan’ fatwa ustadz, kyai, dan pendapat lainnya tanpa menimbang perkataan mereka punya dasar yang shahih atau tidak. Niscaya kita akan menjumpai dalam diri kita terlalu banyak amalan yang tidak ketahui dasarnya, apakah berasal dari Islam, ‘kreatifitas’ guru kita. atau bahkan adat saja.

    Semoga Allah menjernihkan hati kita sehingga kita punya kemauan dan keseriusan untuk mengkaji agama-Nya dari sumber-sumber yang terpercaya, dan semoga Allah memberikan hidayah pada mereka yang secara tidak sadar ‘merongrong’ agama-Nya. Semoga kita bisa bersabar memperbaiki ukhuwah dan persatuan dikalangan kaum muslimin semuanya.

    ————————————————————

    Sastro Menjawab:
    Silahkan anda menilai secara subyektif mas, itu hak anda. Tentu, semua yang anda ungkapkan tentang ajaran Wahabisme itu perlu bukti mas…bukan cuman pengakuan saja. Mana ada ustadz Wahaby yang mampu menjawab artikel-artikel kami? Kami selalu menunggunya. Dan siap dengan menjawab jawaban mereka, jika memang ada. Coba dech ulama Wahaby di Indonesia suruh menjawab ttg artikel Tabarruk kami, kalau mereka mampu, kami tunggu…

    Selama ini ikhwan Ahlusunnah di Indonesia tidak banyak menanggapi tuduhan sekte Wahabisme bukan karena tidak mampu menjawab, tetapi lebih karena buang waktu. Siapa bilang Wahaby gak berpegang kepada hadis-hadis lemah, lihat beberapa artikel kami, ternyata hal itu diakui oleh seorang ulama Wahaby sendiri yang bernama al-Bani…tapi bagaimana ya, karena sudah menjadi keyakinan, ya sulit. (Lihat ttg perempuan Ziarah kubur umpamanya)

    Muslim mana yang tidak merindukan persatuan Islam? Tapi apakah anda hanya akan menuntut kami yang selama ini diam sekte Wahaby selalu membuat bulan-bilanan kami? Apakah sikap anda itu proporsional, menyuruh kami diam dan tidak membalas ‘serangan’ sekte Wahaby, sementara mereka dengan seenaknya ‘mengkafirkan’ kami? Kelompok Wahaby akibat doktrin ajaran akhirnya menuntut mereka berbuat arogan dalam berdakwah….mungkinkah WAhaby tidak arigan sementara pendirinya yang sangat dituhankan itu berbuat yang sangat arogan terhadap ulama-ulama senior Ahlusunnah di zamannya? Yang namanya air turun ke bawah mas….

  16. Assalamualaikum,
    Mas Sastro boleh tanya nih,siapa nama-nama ulama,ustadz or kyai yang anda ikuti?
    Dari tadi saya baca cuma bisa mencela Ulama-ulama wahabi.Apa gurumu yang mengajarkan mencela ulama-ulama tersebut?

    ———————————————-

    Sastro Menjawab:
    Waalaikumsalam
    Jika anda tanya satu persatu ulama Ahlusunnah -baik di Indonesia maupun di LN- tentang Wahaby niscaya akan anda tahu bahwa mayoritas mutlak mereka….
    Mereka semua adalah guru saya….

  17. Salam…….
    Katanya orang wahaby jg mas sastro Walisongo itu hanya cerita rakyat saja, mereka nggak percaya akan keberadaan beliau2 para wali2 di Indonesia. mereka hanya percaya kepada syekh2 mereka yang katanya para jebolan arab2 smua itu.Ditempat bekerja saya para pengurus DKM nya adalah orng2 salafy/wahaby.makanya dari segala bentuk ibadah dari cara sholat, dzikir, wudlu, dll harus sesuai dengan cara mereka. kalo tidak sesuai dengan cara mereka katanya nggak bener, salah, bid’ah dll.dan muslim dari kelompok laen yang nggak mau menerima ajaran mereka,katanya kita lagi terpengaruh syetan karena nggak bisa menerima kebenaran, ….kebenaran yang bagaimana pikir saya. Apa smua kebenaran itu ada di tangan mereka.mereka menganggap bahwa merekalah yang paling benar.sampe2 saya ini ngelus dada mas. Akhirnya saya temukan kebenaran disini.
    Maju terus mas pantang mundur , kami orang2 yang beriman selalu dibelakangmu, mendukungmu.
    tegakkan kebenaran dimuka bumi tercinta ini.
    Jazakumulloohu khoiron katsiiroo

  18. Allohu Akbar….
    Betul kang Sastro bahwa kalau ulama-ulama ahlu sunnah di Indonesia tidak banyak menjawab…karena masih banyak yang perlu dikerjakan untuk membina ummat daripada melayani yang gak karuan….
    Bagaimana mau melayani mereka ngabisisn tenaga aja, para Ulama yang tawadlu selalu berpegang pada “berkatalah yang baik atau diam sama sekali”.

  19. Ayo kang maju terus…
    Sekalian ane minta izin untuk men-copy artikel-artikel anda dan insyaAllah akan mengcompile ke bentuk pdf….
    semoga bisa bermanfaat semuanya…

    ————————————————

    Sastro Menjawab:

    Silahkan, terimakasih.

  20. Maju Terus Mas Sastro,
    Wahabies (Wahhhh…… Habis deh)
    Blog ini betul2 kuburannya Wahaby
    Saluuuttttttt Mas Sastro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: