Tabarruk 2; Tabarruk dalam Pandangan al-Quran

Tentu sangat mudah bagi Allah untuk mengembalikan penglihatan Nabi Yakqub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi sarana Allah swt memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan doa, pensyafaatan dalam pengampunan dosa dan lain sebagainya.

——————————————-

Mengambil Berkah (Tabarruk) Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik? (Bag-2)

    (Tabarruk dalam Pandangan al-Quran)

Setelah kita mengetahui fatwa-fatwa ‘pengkafiran’ ulama Wahaby (tuduhan bid’ah dan syirik) berkaitan dengan kaum muslimin yang melaksanakan pencarian berkah (tabarruk) pada seseorang, tempat, waktu dan sesuatu yang diangap sacral, maka sekarang kita akan melihat terminology tabarruk dalam al-Quran, sebelum kita jauh melangkah ke depan.

Berkah dan Tabarruk dalam al-Quran

Kita sebagai seorang muslim yang meyakini akidah Tauhid pasti meyakini bahwa Allah swt adalah Pencipta (Khaliq) dan Pengatur (Rab) alam semesta. Dengan kesempurnaan absolut (mutlak) yang Dia miliki, Ia menciptakan dan mengatur alam semesta. Segala yang ada di alam semesta ini tiada yang tidak tercipta dari-Nya. Oleh karenanya, tidak satupun yang berada di alam ini pun tidak tergantung keada-Nya, termasuk dalam kelangsungan eksistensi dan hidupnya. Allah swt Pemilik segala otoritas kesempurnaan.

Dalam al-Quran, penggunaan kata ‘berkah’ sering akan kita jumpai. Sebagaimana dalam pembahasan syafa’at, ilmu ghaib dan sebagainya (yang pada kesempatan lain insya-Allah akan kita bahas nantinya), secara mendasar dan murni (esensial) “berkah” dan “pemberian berkah” hanya berasal, milik dan hak priogresif Allah swt semata. Oleh karenanya, kita jumpai ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah swt memberikan berkah kepada makhluk-makhluk-Nya. Contoh ayat-ayat yang Allah swt telah memberkati seseorang sehingga berkah itu terdapat pada diri pribadi-pribadi yang diberkati tersebut:

1- Berkaitan dengan Nabi Nuh as beserta pengikutnya, Allah swt berfirman: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu…” (QS Hud: 48).

2- Berkaitan dengan Nabi Ibrahim as Allah swt berfirman: “Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa Telah diberkati orang-orang yang berada di api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya…” (QS an-Naml: 8).

3- Berkenaan dengan Nabi Ishak as Allah swt berfirman: “Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq…” (QS as-Shaafat: 113).

4- Berkenaan dengan Nabi Isa as Allah swt berfirman: “Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada…” (QS Maryam: 31).

Sedang ayat-ayat yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat yang telah diberikan berkah oleh Allah swt sehingga tempat itu menjadi tempat yang sakral, seperti:

5- Allah swt telah memberi berkah kepada Masjidil Haram di Makkah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS Aali Imran: 98).

6- Allah swt telah memberi berkah kepada Masjidil Aqsha di Palestina: “Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami…” (QS al-Isra’: 1).

7- Allah swt telah memberi berkah kepada lembah Aiman: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah Aiman pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu…” (QS al-Qoshosh: 30).

Dan terkadang yang menjadi obyek berkah Ilahi adalah sesuatu (benda) sampai pada pohon dan waktu. Sebagai contoh:

8- Allah swt telah memberikan berkah kepada al-Quran: “Dan Al-Quran itu adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS al-An’am: 155).

9- Allah swt telah memberikan berkah kepada pohon zaitun: “Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)…” (QS an-Nur: 35).

10- Allah swt telah memberkahi air hujan: “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkati lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam” (QS Qof: 9).

11- Allah swt telah memberkati malam dimana al-Quran turun (lailatul Qadar): “ Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..” (QS ad-Dukhon: 3).

Setelah mengetahui obyek-obyek berkah Ilahi maka mungkin saja timbul pertanyaan; bagaimana para umat terdahulu, apakah mereka juga mengambil berkah? Allah swt dalam al-Quran menjelaskan hal tersebut seperti yang dicantumkan dalam ayat-ayat berikut:

12- Dalam surat al-Baqarah ayat 248 Allah swt telah mengisakan tentang pengambilan berkah Bani Israil terhadap tabut (peti .red) yang didalamnya tersimpan barang-barang sakral milik kekasih Allah, Nabi Musa as. Allah swt berfirman: “Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

‘Peti’ itu adalah peti dimana Musa kecil telah diletakkan oleh ibunya ke sungai Nil dan mengikuti aliran sungai sehingga ditemukan oleh istri Firaun, untuk diasuh. Para Bani Israil mengambil peti itu sebagai obyek untuk mencari berkah (tabarruk). Setelah Nabi Musa as meninggal dunia, peti itu disimpan oleh washi (patner) beliau yang bernama Yusya’, dan di dalamnya disimpan beberapa peninggalan Nabi Musa yang masih berkaitan dengan tanda-tanda kenabian Musa. Setelah sekian lama, Bani Israil tidak lagi mengindahkan peti tersebut, hingga menjadi bahan mainan anak-anak di jalan-jalan. Sewaktu peti itu masih berada di tengah-tengah mereka, Bani Israil masih terus dalam kemuliaan. Namun setelah mereka mulai melakukan banyak maksiat dan tidak lagi mengindahkan peti itu, maka Allah swt menyembunyikan peti tersebut dengan mengangkatnya ke langit. Sewaktu mereka diuji dengan kemunculan Jalut mereka mulai merasa gunda. Kemudian mereka mulai meminta seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt ke tengah-tengah mereka. Lantas Allah swt mengutus Tholut. Melalui dialah para malaikat pesuruh Allah mengembalikan peti yang selama ini mereka remehkan.

Az-Zamakhsari dalam menjelaskan apa saja barang-barang yang berada di dalam peti itu menyatakan: “Peti itu adalah peti Taurat. Dahulu, sewaktu Musa berperang (melawan musuh-musuh Allah) peti itu diletakkan di barisan paling depan sehingga perasaan kaum Bani Israil merasa tenang dan tidak merasa gunda…adapun firman Allah yang berbunyi “dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun” berupa sebuah papan bertulis, tongkat beserta baju Nabi Musa (as) dan sedikit bagian dari kitab Taurat” (Lihat Tafsir al-Kasyaf jilid 1 halaman 293).

Lihatlah, betapa Nabi yang diutus oleh Allah swt kepada Bani Israil itu telah memerintahkan kepada Bani Israil untuk tetap menjaga peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun berupa peti dengan segala isinya yang mampu memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa mereka. Pemberian ketenangan melalui peti itu tidak lain karena Allah swt telah memberikan berkah khusus kepada peninggalan kedua Nabi mulia tersebut. Sehingga sewaktu Bani Israil tidak lagi mengindahkan peninggalan yang penuh barakah itu maka Allah swt mengujimereka dan tidak lagi memberkahi mereka. Ini sebagai bukti betapa sakral dan berkahnya peninggalan itu, dengan izin Allah swt.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan tentang pengambilan berkah seorang pribadi mulia seperti Nabi Yakqub as terhadap baju putranya, Nabi Yusuf as. Allah swt berfirman: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (QS Yusuf: 93). Dalam kisah itu, saudara-saudara Nabi Yusuf telah melaksanakan perintah saudaranya itu. Ayah Nabi Yusuf (Nabi Yakqub) yang buta akibat selalu menangisi kepergian Yusuf, pun akhirnya pulih penglihatanya karena diusap oleh baju Yusuf. Itu semua berkat ‘barakah’ yang dicurahkan oleh Allah swt kepada baju Yusuf. Az-Zamakhsyari kembali dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang hakekat baju Yusuf dengan mengatakan: “Dikatakan: itu adalah baju warisan yang dihasilkan oleh Yusuf dari permohonan (doa). Baju itu datang dari Sorga. Malaikat Jibril telah diperintahkan untuk membawanya kepada Yusuf. Di baju itu tersimpan aroma sorgawi yang tidak ditaruh ke orang yang sedang mengidap penyakit kecuali akan disembuhkan” (Lihat Tafsir al-Kasyaf jilid 2 halaman 503).

Tentu sangat mudah bagi Allah untuk mengembalikan penglihatan Nabi Yakqub tanpa melalui proses pengambilan berkah semacam itu. Namun harus kita ketahui hikmah di balik itu. Terkadang Allah swt menjadikan beberapa benda menjadi ‘sumber berkah’ agar menjadi ‘sebab’ untuk mencapai tujuan yang dikehendaki-Nya. Selain karena Allah swt juga menginginkan agar manusia mengetahui bahwa terdapat benda-benda, tempat-tempat, waktu-waktu dan pribadi-pribadi yang memiliki kesakralan karena mempunyai kedudukan khusus di mata Allah swt. Sehingga semua itu dapat menjadi ‘sarana’ Allah swt memberkati orang untuk mencapai kesembuhan dari penyakit, pengkabulan doa, pensyafaatan dalam pengampunan dosa, dan lain sebagainya.

Jika para nabi biasa memiliki kemuliaan semacam itu, lantas bagaimana dengan benda (spt: mihrab dan mimbar), tempat (spt: rumah, masjid dan makam), waktu (spt: peringatan hari kelahiran/maulud, perkawinan, hijrah, Isra’-Mi’raj dan wafat) dan mengenang keutamaan (melalui bacaan Maulid Diba’ atau Barzanji) yang berkaitan langsung dengan pribadi agung seperti Rasulullah saw, penghulu para nabi dan rasul, makhluk Allah yang paling sempurna sebagaimana yang telah dicantumkan dalam berbagai ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis shohih? (Nantikan pada episode selanjutnya). [Sastro H]

Bersambung…

11 Tanggapan

  1. memang tidak semua mengambil berkah/ tabarruk diharomkan, contohnya mengambil berkah dengan mengucap bismillah saat memulai sesuatu pekerjaan, itu pernah diajarkan oleh Rosululloh

    TAPI KALAU MENGAMBIL BERKAH DENGAN MENCIUM TANGAN PAK KYAI BIAR REZEKINYA BERTAMBAH, MENDATANGI KUBURAN BIAR LULUS UJIAN, MENARUH KERIS DI DEPAN PINTU BIAR GA DIDATANGI MALING, mengkhususkan hari JUM’AT KLIWON UNTUK PINDAH RUMAH, dengan alasan biar lebih berkah,ya itu jelas jelas menduakan Alloh dalam keyakinan kita bahwa ada benda/ zat lain yang bisa memberi berkah…iya khan????

    Selain itu Rosululloh dan para sahabat, tabiin, tabiut tabiin (generasi terbaik umat ini/ Salafus Sholih) ga pernah melakukannya….

    Jadi udah deh ga usah capek-capek membela sesuatu yang sudah jelas-jelas merupakan perbuatan syirik…

    ——————————-
    Sastro Menjawab:

    Mas, ikutin kajian kita selanjutnya berkaitan dengan tabarruk ini…nanti anda akan melihat…apakah bener tabarruk yang anda sebut sebagai syirik itu memang bener syirik?

  2. Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
    Dengan memperbanyak istigfar, syukur dan pujian kepada allah swt, insya allah kita sudah mendapatkan berkah dari tuhan kita. Jadi enggak perlu cari-cari kesana-kesini atau tempat-tempat angker untuk mendapatkan berkah, kan setiap manusia pasti sudah diberkahi oleh allah SWT dengan syarat harus melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Amien.
    ————————–
    Sastro Menjawab:

    Allah memberkati sesuai dengan potensi si penerima (makhluk). Tetapi apa salahnya jika kita yang berkahnya sedikit ini mengambil berkah dari manusia-mnusia kekasih Allah yang mampu menampung berkah lebih banyak, apalagi kalau manusia itu bernama Muhamad Rasulullah saw, sebagaimana yang telah dan pernah dilakukan oleh para sahabat mulia beliau yang tergolong Salaf Saleh. Lha wong Sahabat mulia Rasul yang sudah derajatnya sudaj tinggi saja masih mencari berkah dari Rasul dan benda-benda peninggalan Rasul pasca Wafat beliau koq…masa orang kita (anda dan saya) merasa gak butuh lagi terhadap tabarruk. Apa kita sudah merasa lebih hebat dari para sahabat mulia Rasul yang tergolong Salaf Saleh itu? Ayo ngaku saja dech…!?

  3. Assalamualaikum..
    Satu pertanyaan kepada anda,apakah anda tau kalau saya mencium tangan pak kyai saya mengharapkan berkah dari dia.
    jadi dipikir dulu, jangan lantas mengatakan itu bid,ah.

    bisa saja Saya juga akan mengatakan, bahwa orang yang menggunakan, Handphone, memiliki motor,atau menggunakan internet adalah bid,ah karena Rasulullah tidak pernah menggunakannya..lantas bagaimana.

    Saya berharap anda tidak mudah untuk mengeluarkan kata2 yang menurut saya dapat memecah belah umat karena doktrin bid,ah anda. Saya takutnya dihari nanti malah anda orang yang pertama mengeluarkan hadist.

    Wassalam

  4. assalamu’alaikum wrwb

    Empunya blog nulis gini:
    “Sedang ayat-ayat yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat yang telah diberikan berkah oleh Allah swt sehingga tempat itu menjadi tempat yang sakral”

    Makna sakral itu apa ya? Kalau menurut pemahamanku sakral = dipuja/ disembah. Kalau maknanya begitu, berarti penggunaannya kataknya ga tepat.

    Mengenai beberapa tempat yang memang istimewa seperti Masjid Nabawi, dll Masjidnya biasa saja. Dia istimewa, bukan berarti kita menyembahnya tapi jika kita shalat, berdoa, dan melakukan ibadah lainnya, nilainya jauh lebih tinggi dibanding dengan ibadah di masjid-masjid lainnya….

    ————————–
    Sastro Menjawab:

    Sakral=disembah? Penyamaan dari mana itu? Apakah sewaktu anda mengatakan bahwa al-Quran adalah sakral (yang dalam bahasa Arabnya ‘al-Muqaddas’) berarti anda menyembah al-Quran…? Jika al-Quran tidak sakral (dalam arti ‘muqoddas’) maka beranikah anda menginjak al-Quran atau cara lain menghinakan al-Quran? Apakah sakral=menyembah? Silahkan direnungkan…

    Masjid Nabawi sama seperti masjid biasa? Aneh pendapat anda tuch mbak…sepertinya anda harus lebih banyak mengkaji hadis…katanya harus berpegangan kepada al-Quran dan Hadis…? Anda nanti akan dapati hadis-hadis yang menmgungkap keutamaan masjid Nabawi dan masjidil Haram…Jika dua masjid itu sama dengan masjid2 lain terbukti raja Saudi (dengan diACC) oleh ulama Wahaby merasa bangga dengan julukan Khadimul Haramain as-Syarifain? Apanya yang Syarif? Silahkan anda jawab sendiri…

  5. Bener kata Mas Coang, boleh-boleh saja berkomentar akan sesuatu yang memang tidak di setujui. Namun perlu diperhatikan dan alangkah baiknya dicari tau apa sih tabarruk,kenapa, bagaimana, dan apa dasarnya. Kalo cuma dari amal pribadi, apa yang bisa di andalkan dari kita? Sebagus-bagusnya amal kaum awam, dzikir abis sholat ampe seperempat jam aja udah hebat. Sholat malem ampe dua jam secara istiqomah juga untuk kelas kita udah hebat. Nah, untuk kaum ‘Ulama, Kiyai, apalagi Wali dan Rosul (yang jelas-jelas kekasih Allah),disamping memang hidupnya bener-bener untuk umat, juga Beliau-beliau punya amalan dzikir yang luar biasa, udah gitu jumlahnya tidak sedikit setiap bacaan. Maka dari itu, saya sarankan mari kita untuk koreksi diri, sejauh mana kita beribadah, jangan-jangan nanti malah akan menjadi takabur, karena beranggapan rejeki yang didapatkan karena semata-mata amal kita sendiri.
    Wallahu a’lam

  6. Mas Sastro, dalam peringatan maulid Nabi sering diperdengarkan sholawat-sholawat kepada Nabi, yang penggalan terjemahannya kurang lebih berbunyi demikian:

    “Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
    Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
    Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
    Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “

    Syair tersebut menurut saya yang awam ini sepertinya ada tempat sandaran selain Allah. Tempat memohon pertolongan selain Allah.

    Apa ini nggak syirik to mas Sastro…..

    —————————–
    Sastro Menjawab:

    Nanti akan ada pembahasan sendiri tentang diperbolehkannya bertawassul kepada orang yang telah mati, yang dianggap syirik oleh kaum Wahaby.

  7. Ini betul-betul website edan….Kalau mas sastro lebih canggih dari Syaikh Ibnu Taimiyah…ayo buktiin…
    Agar ente tahu ya… IBNU TAIMIYAH ADALAH ULAMA DARI KALANGAN AHLU SUNNAH…. siapa yang menentang beliau berarti mereka AHLU BID’AH DAN SYIRIK…

    ———————
    Sastro Menjawab:

    Wah hebat betul Ibnu Tai-miyah itu, “menentangnya berarti Ahlul Bid’ah dan Syirik”. Sama seperti Nabi donk, penentang beliau adalah Ahlu Bid’ah dan Syirik. Sekarang pertanyaan kami tentang Ibnu Tai-Miyah adalah; Mana bukti bahwa semua ajaran dia pasti 100% betul? Mana bukti bahwa Ibnu Tai-miyah terjaga dari salah dan dosa?

  8. Secara makro akar satu keimanan adalah Iman kepada Yang Ghaib seperti disebut dalam AlBaqarah ayat 3, terus dikiti perintah, mendirikan shalat dan berifaq. Dari sana terurailah menjadi Iman kepada Allah, Rasul, Malikat dst…
    Dan sekarang Nabi SAW pun Ghaib, para sahabatnya, tabiit, dst.. dan orang yang tidak pernah kita jumpai termasuk sesuatu yang ghaib. Alam qubur ternyata adalah alam kehidupan yang nyata namun Ghaib. Nabi SAW pun mengajari kita untuk mengucap salam Assalamualikum Yaa Ahlal qubur, menggunakan kata ganti kedua kamu.. dan pasti dijawab oleh penghuni alam barzah yang beriman. Ama barzah itu penduduknya lebih banyak dan lebih luas. Kalau dihitung mundur sejak Adam AS, penduduk alam barzah bisa mencapai 20 Milyar (3 kali penduduk dunia). Kwalitas alam berzah adala 1/2 alam akhirat. Mereka tidak dipengaruhi grafitasi bumi seperti kita, dan bisa terbebas dari ruang dan waktu, sehingga jiwanya bisa melesat kemana saja dalam waktu yang singkat. Makanya dalam Mi’rajnya Nabi SAW bisa ketemu para nabi dan nabi Musa AS. Bagi orang yang soleh akan diberi kemampuan untuk mendengarkan dan mungkin melihat kehidupan dunia dibeberapa tempat dalam waktu yang sama. Setiap solat umat Islam di seluruh dunia kan mengucap Assalamualaika Ayyhannabiyyyu dstst. Dan pasti dijawab oleh Nabi SAW. Kalau Nabi SAW dan para orang soleh bisa menjawab salam tentunya bisa juga dimintai pertolongan, karena beliau2 itu pada hakekatnya berada dalam kehidupan yang jauh lebih baik.
    Jadi permintaan sebaimana disebut oleh pak Ismail:
    Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
    Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
    Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
    Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “
    sungguh sangat baik untuk dilantunkan. Tapi sebaiknya dimulai dengan baca solawat sebanyak mungkin sampai hati kita benar2 in merasakan sedang berada dihadapan Nabi SAW, kalau perlu membayangkan wajah beliau yang mulia. Itulah inti dari maksud Iman kepada yang Ghaib.
    Makanya agar hal itu bisa lebih terasa, bila dilakukan di dekat makam Nabi SAW atau kalau itu menyangkut dengan hubungan para wali ya didekat makam wali.
    engenai Tabaruq pada hal2 yang terkait dengan benda2 Nabi SAW sebenarnya telah nyata dan ditulis dalam sejarah bahwa Nabi SAW tidak keberatan dengan masalah itu dan melihat justru itu sebagai bentuk kecintaan kepada beliau. Dalam peristiwa disekitar perjanjian Hudaibiyah, orang kafir quraisy merasa kagum atas perbuatan para sahabat yang rebutan air bekas wudu Nabi SAW, rebutan rambut yang dipangkas dari kepala beliau yabg mullia. Dan beliau tidak melarangnya karena beliau tahu betul bahwa para sahabat melakukan itu adalah sebagai bentu ekspresi kecintaan dan bukan kultus individu yang mengarah ke sirk. Bukankah kita diwajibkan mencintai Nabu SAW lebih dari pada cinta pada diri kita sendiri???
    Pesan buat Pak Sastro teruskan menulis artikel yang menggairahkan ruh kita. Tapi kalau merespon pada yang berbuat kasar ke anda jawablah dengan cara yang santun. Jangan ikutan kasar, nanti kan jadi sami mawon.
    Salam,

  9. Lanjutkan Mas Satro, saya sangat setuju …
    nggak ada jaminan bahwa mereka ahli surga kok

  10. Kalau saya meihat orang duduk diatas pohon besar, terus bakar kemenyan, dan dia komat-kamit Baca Surat Al-fatihah….saya tidak berani menyebut dia musyrik..karena yang pasti dia muslim (wong dia baca fatihah)…daripada saya salah menghukumi orang kan.. lebih aman…
    lagian saya bukan Mufti…
    Kalau guru saya memberi ilmu agama yang dengan hal itu bisa mendekatkan diri saya kepada Alloh…, ciuman saya pada tangan guru saya masihlah kurang dibanding jasa-jasa beliau…
    Bagi yang gak suka cium tangan guru..ya..ga apa-apa tapi jangan ngledek pada yang cium tangan….
    Bukankah Al-ashlu fil Asyai al-ibahah hatta yakuma ad-dalilu ‘ala tahrimihi…cium tangan kan masalah sosial…yang bisa jadi sunat, makruh, bahakan haram…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: