Tabarruk 10 (Akhir); Menjawab Isu-Isu Sekte Wahaby tentang Legalitas Tabarruk

Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh sekte Wahabi, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus dalam menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahaby yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin.
Untuk mempersingkat, kita akan ambil beberapa problem yang sering mereka ungkapkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris Wahaby yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani dalam bukunya yang berjudul: “At-Tabarruk Al-Masyru’”.

—————————————————————


    Mengambil Berkah (Tabarruk) Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik? (Bag-10)

    (Menjawab Isu-Isu Sekte Wahaby tentang Legalitas Tabarruk)

Setelah kita lalui beberapa urutan kajian tentang argumentasi legalitas pengambilan berkah (tabarruk) dari pribadi atau benda-benda peninggalan Nabi atau orang-orang saleh –baik semasa hidup mereka, ataupun sepeninggal mereka- yang berlandaskan pada argument ayat-ayat al-Quran, prilaku dan ketetapan (taqrir) Nabi, riwayat-riwayat para sahabat mulia Nabi (Salaf Saleh), juga ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jamaah yang semuanya membuktikan akan legalitas tabarruk. Ini semua menjadi bukti akan kebenaran ajaran dan kesepakatan ulama Ahlussunnah tentang hal ini, sesuai dengan dalil-dalil yang kuat. Dan sebagai bukti pula bahwa tuduhan sekte Wahaby terhadap kaum muslimin yang menyatakan bahwa tabarruk adalah bid’ah atau bahkan syirik adalah tuduhan yang tidak beralasan, tidak berdasar dan memiliki pondasi lemah yang sangat mudah digoyahkan. Selain itu, menjadi bukti pula bahwa, ternyata apa yang diyakini sekte Wahaby selama ini perihal tabarruk tidak sesuai dengan ajaran Salaf Saleh yang konon ajaran dan metode (manhaj)-nya hendak dihidupkan dan disebarkan oleh sekte Wahaby (Salafy gadungan, bahkan mengaku-ngaku Ahlusunnah) pun ternyata tidak terbukti, bahkan keyakinan sekte tersebut justru bertentangan dengan ajaran dan metode Salaf Saleh. Jadi kata “Salafy” dan “Ahlus-sunnah” yang selalu hendak diambil secara paksa dan arogan (rampok) dari kaum muslimin hendaknya ditanggalkan dan segera diberikan kepada pemilik aslinya. Justru nama “Khalafy” dan “Ahlut-Takfir” lebih layak bagi sekte itu, jika melihat dari fenomena cara berfikir dan bertindak mereka.

Walaupun runtutan artikel tabarruk sebelumnya sudah mampu menjawab beberapa problem yang dilontarkan oleh sekte Wahabi, namun kali ini, kita akan mengkonsentrasikan secara khusus kajian ini untuk menjawab beberapa isu pengikut sekte Wahaby yang digunakan untuk pengkafiran (menuduh kaum muslim sebagai pelaku syirik dan bid’ah) kaum muslimin. Untuk mempersingkat, kita akan mengambil beberapa problem yang sering mereka lontarkan dengan menengok dari karya salah seorang misionaris Wahaby yang bernama Ali bin Nafi’ al-‘Ilyani dalam bukunya yang berjudul: “At-Tabarruk Al-Masyru’” (Tabarruk legal). Kita akan melihat, apakah dalil mereka sesuai dengan pemahaman yang benar berkaitan dengan ayat dan riwayat, ataukah seperti argumen kaum ‘Khawarij’ yang “menerapkan ayat dan riwayat yang diperuntukan bagi kaum kafir dan musyrik namun diterapkan kepada kaum muslimin”. Untuk mempermudah kajian, kita akan memakai cara tanya-jawab antara Sekte Wahaby yang pada hakekatnya adalah Jamaah Takfiri (disingkat: JATAK) yang pada posisi penyebar isu, dan Ahlusunnah wal Jamaah (disingkat: ASWAJA) pada posisi menjawab/menyangkal isu Jamaah Takfiri (Wahaby).

JA-TAK mengisukan:
Kondisi kaum Jahiliyah dahulu, sebagaimana yang dimiliki kebanyakan manusia, mereka menginginkan mendapat tambahan harta dan anggota kabilah, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan keduniawian. Dengan begitu melalui perminta berkah (tambahan) terhadap berhala-berhala yang mereka sembah, dengan mengharap tambahan kebaikan yang berlebih. Mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah para pemberi berkah. Anehnya, walau orang yang meyakini bahwa berkah itu datangnya dari Allah pun masih meyakini bahwa patung-patung itu adalah sarana yang mampu menentramkan dan penghubung antara mereka dengan Allah. Untuk merealisasikan yang mereka inginkan, akhirnya mereka mereka mengambil berhala itu sebagai sarana. Hal ini sesuai dengan ayat: “…kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah denga sedekat-dekatnya…” (QS az-Zumar: 3) dari sini jelas sekali bahwa, tabarruk (mengharap berkah) selain dari Allah adalah perwujudan dari ajaran kaum musyrik zaman Jahiliyah. (Lihat: kitab Tabarruk Masyru’ halaman 53)

AS-WA-JA menjawab:
Selain telah kita singgung –dalam kajian terdahulu- bahwa, beberapa nabi Allah yang mengajak umat manusia kepada ajaran tauhid ternyata juga melakukan pengambilan berkah. Begitu juga ternyata Nabi kita (Muhammad saw) -yang sebagai penghulu para nabi dan rasul bahkan paling mulianya makhluk Allah yang pernah Ia ciptakan- pun telah membiarkan orang mengambil berkah darinya. Jika mencari berkah (tabarruk) adalah haram -karena syirik- maka tentunya para nabi di setiap zaman adalah orang pertama yang menjauhinya, bahkan melarang orang lain. Namun kenapa justru mereka malah melakukannya? Lagi pula, apa yang diisukan oleh kelompok Wahaby di atas tadi, selain tidak sesuai dengan al-Quran, Hadis dan bukti sejarah dari Salaf Saleh hingga para imam mazhab, juga jauh dari logika pemahaman ayat itu (az-Zumar:3) sendiri. Kenapa?
Pertama: Semua tahu bahwa setiap prilaku pertama kali dinilai oleh Islam dilihat dari niatnya. Dengan kata lain, hal primer dalam menentukan esensi baik-buruk sebuah perbuatan kembali kepada niat. Bukankah Rasul pernah menyatakan: “Setiap perbuatan kembali kepada niatnya…” (Hadis Muttafaq Alaihi). Tentu, niat seorang musyrik dengan niat seorang muslim akan berbeda dan tidak bisa disamakan.
Kedua: Dalam ayat itu disebutkan: “kami tidak menyembah mereka melainkan” di situ terdapat kata “Menyembah” yang meniscayakan bahwa kaum musyrik Jahiliyah meyakini ‘sifat ketuhanan’ buat obyek (patung-patung) yang dimintainya berkah, selain Allah. Mereka telah menyembah patung itu dan menyekutukan Allah dalam masalah penyembahan. Dan tentu essensi penyembahan adalah meyakini ‘sifat ketuhanan’ yang disembahnya. Tanpa keyakinan itu (sifat ketuhanan), mustahil mereka menyebut kata ‘sembah’. Jelas, sebagaimana yang sudah pernah kita singung pada tulisan terdahulu bahwa, sekedar sujud di depan sesuatu tidak serta merta masuk kategori menyembah. Bukankah dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah telah memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud di hadapan dan untuk nabi Adam? Bukankah nabi Yakqub beserta anak-anaknya telah sujud di depan nabi Yusuf? Ini yang membedakan antara prilaku kaum musyrik dengan kaum muslimin, dalam pengambilan berkah. Ini merupakan hal yang bersifat esensial sekali dalam prilaku peribadatan. Kaum muslimin selain tidak meyakini kepemilikan sifat ketuhanan selain Allah, sehingga obyek selain Allah memiliki kelayakan untuk disembah, juga meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta ini berasal dari kehendak Ilahi, karena hanya Dia Yang Maha kuasa nan sempurna, dan yang layak disembah.
Ketiga: Ayat dari surat az-Zumar tadi Allah SWT tidak menyatakan; “kami tidak mengambil berkah mereka melainkan…” tapi dikatakan; “kami tidak menyembah mereka melainkan…” sebagai penguat dari alasan kedua tadi. Dikarenakan kaum musyrik zaman Jahiliyah tidak meyakini adanya hari akhir –seperti disebutkan dalam akhir-akhir surat Yasin- maka mereka akhirnya meyakini bahwa patung-patung itu juga memiliki kekuatan secara independent dari Allah SWT sehingga muncul di benak mereka untuk meyakini bahwa berhala itu juga mampu menjauhkan segala mara bahaya dari mereka dan memberikan manfaat kepada mereka. Tentu keyakinan kaum muslimin berbeda dengan apa yang mereka yakini. Dan tentu pula kaum muslimin tidak pernah berpikir semacam itu. Semua kaum muslim meyakini bahwa segala yang ada di alam semesta ini turun dari izin dan kehendak Allah SWT, termasuk pemberian berkah. Karena Allah SWT sumber segala yang ada di alam semesta ini.

JA-TAK mengisukan:
Legalitas tabarruk dari tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap mulia bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari yang dinyatakan oleh ‘Atban bin Malik yang termasuk sahabat Rasul dari kelompok Anshar, yang turut dalam perang Badar. Ketika dia mendatangi Rasulullah, lantas berkata: “Wahai Rasulullah, telah lemah pengelihatanku, padahal aku mengimami shalat pada kaumku. Jika turun hujan maka banjir selalu menggenangi lembah yang menghubungkanku dengan mereka, sehingga aku tidak dapat mendatangi masjid mereka, dan shalat bersama mereka Aku ingin engkau datang ke rumahku dan shalat di rumahku, sehingga aku menjadikannya (tempat itu) sebagai mushalla”. Mendengar hal itu Rasul bersabda: “Aku akan melakukannya, insya-Allah”. Kemudian berkata ‘Atban: “Keesokan harinya, Rasul bersama Abu Bakar datang, ketika menjelang tengah hari. Lantas Rasul meminta izin masuk, dan diberi izin. Beliau tidak duduk sewaktu memasuki rumah, dan langsung menannyakan: “Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?”. Dijawab: “Aku mengisyaratkan pada salah satu sudut rumah”. Lantas Rasulullah berdiri dan bertakbir. Kamipun mengikutinya berdiri dan mengambil shaf (barisan shalat). Beliau melakukan shalat dua rakaat dan kemudian mengakhirinya dengan salam” (Shahih Bukhari, jilid 1 halaman 170/175 atau Shahih Musim jilid 1 halaman 445/61/62). Hadis di atas tidak membuktikan bahwa sahabat ‘Atban hendak mengambil berkah dari tempat shalat Rasul. Namun ia ingin menetapkan anjuran Rasul untuk selalu melakukan shalat berjamaah di rumahnya, ketika tidak dapat mendatangi masjid karena lembah digenangi air. Atas dasar itu ia menghendaki Rasul membuka (meresmikan) masjid di rumahnya. Dan oleh karenanya, Bukhari memberikan bab pada kitabnya dengan; “Bab Masjid di Rumah” (Bab al-Masajid Fil Buyuut). Sebagaimana Barra’ bin ‘Azib melakukan shalat di masjid yang berada di dalam rumahnya secara berjamaah. Ini termasuk hukum fikih beliau. Dari semua itu memberikan pemahaman bahwa Rasul mengajarkan (sunnah) shalat berjamaah di rumah dikala memiliki hajat. Sebagaimana Rasul tidak pernah menegur sahabat Barra’ bin ‘Azib sewaktu melakukan shalat berjamaah di masjid rumahnya. Padahal itu semua terjadi pada zaman pensyariatan (tasyri’) Islam. Dan mungkin saja maksud dari sahabat ‘Atban tadi adalah untuk mengetahui dengan pasti arah kiblat, karena Rasulullah tidak mungkin menunjukkan arah yang salah. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 68-69)

AS-WA-JA menjawab:
Dalam menjawab isu di atas, maka ada beberapa hal yang harus digaris bawahi untuk dijawab:
Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa semangat sahabat ‘Atban untuk mendirikan shalat jamaah di rumah adalah ‘salah satu’ sebab, tetapi ‘bukan satu-satunya’ sebab. Karena kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana sahabat ‘Atban sangat menghendaki tabarruk dari tempat shalat Rasul. Dan Nabi pun mengetahui tujuan sahabatnya itu. Atas dasar itu, Rasul langsung menanyakan tempat yang dikehendaki sahabatnya untuk dijadikan mushalla, di rumahnya. Jika isu wahaby di atas itu benar maka selayaknya Nabi shalat di sembarang tempat, di rumah sahabatnya tadi, mungkin di ruang tamu, ruang tengah, atau di tempat yang terdekat dengan pintu masuk. Dan kenyataannya, Nabi menanyakan terlebih dahulu; “Dimana engkau menginginkan aku melakukan shalat?”. Dengan kata lain, Rasul yang tahu bahwa sahabatnya itu akan mengambil tabarruk dari tempat shalat beliau, maka beliau bertanya terlebih dahulu; dimana aku harus melakukan shalat sehingga tempat shalatku itu nanti akan engkau ambil berkahnya, untuk engkau jadikan mushalla.
Kedua: Pengakuan penulis Wahaby tadi -yang mengatakan bahwa tujuan sahabat ‘Atban adalah ingin menentukan arah kiblat- tidak memiliki dalil sama sekali, hanya sekedar perkiraan belaka. Dan penggunaan perkiraan-perkiraan semacam ini sudah menjadi kebiasaan dalam cara berargumentasi para pengikut sekte Wahaby. Jika sahabat ‘Atban matanya sudah lemah dan tidak mampu melihat dengan baik -termasuk berkaitan dengan arah kiblat-, dan tujuan beliau memanggil Rasul hanya untuk itu, maka kenapa beliau tidak bertanya kepada anggota keluarganya atau sesama sahabat Nabi yang lain. Toch pemberian petunjuk oleh sahabat yang lain dalam menentukan arah kiblat merupakan argumen baginya yang dapat dijadikan pedoman.
Ketiga: Perkiraan penulis Wahaby tadi selain tidak sesuai dengan bukti-bukti (qarinah) yang ada, juga apa yang ia perkirakan dan yang dipahaminya belum tentu lebih baik dari apa yang dipahami oleh pribadi agung seperti Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Syarah Bukharinya. Allamah Ibnu Hajar al-Asqolani berkaitan dengan hadis tadi mengatakan:
a- “Nabi meminta izin karena beliau memang dipanggil untuk melakukan shalat guna memberi berkah kepada pemilik rumah, berkaitan dengan tempat shalat beliau. Atas dasar itu Nabi menanyakan kepada sahabat tadi tentang tempat khusus yang ingin diberkahinya” (Fathul Bari jilid 1 halaman 433).
b- “Dalam hadis ‘Atban dan permohonannya kepada Nabi untuk melakukan shalat dalam umahnya, lantas Nabi menyanggupinya untuk melakukan hal itu, sebagai bukti (dalil) akan legalitas tabarruk terhadap peninggalan para manusia saleh” (Fathul Bari jilid 1 halaman 469).
Keempat: Taruhlah benar –jika kita terpaksa ‘bertoleransi’ dengan pendapat penulis Wahaby tersebut- apa yang dinyatakan oleh penulis Wahaby (tadi berkaitan dengan hadis Rasul dari sahabat ‘Atban tadi), maka bagaimana menurut para pengikut Wahaby berkaitan dengan banyak riwayat-riwayat lain yang berkaitan dengan para sahabat seperti pada kasus yang dapat kita lihat contohnya pada riwayat-riwayat berikut ini:
a- Dari Anas bin Malik; Sesungguhnya Ummu Sulaim meminta agar Rasul datang ke rumahnya dan melakukan shalat di rumahnya supaya ia dapat mengambilnya (bekas tempat shalat Rasul) sebagai mushalla. Lantas Rasul pun datang. Dia (Ummu Sulaim) sengaja memerciki tikar dengan air, lantas Rasul melaksanakan shalat di atasnya yang diikuti oleh beberapa sahabat lainnya. (Sunan an-Nasa’i jilid 1halaman 268 kitab masajid, bab 43 as-Sholat alal Hashir hadis 816).
b- Dari Anas bin Malik; Salah seorang pamanku membuat satu makanan, lantas berkata kepada Nabi: “Aku inging engkau datang ke rumahku untuk makan dan shalat”. Dan (Anas) berkata: Lantas beliau datang ke rumah sedang di rumah terdapat batu-batu (hitam). Lantas beliau dipersilahkan ke salah satu sudut yang telah dibersihkan. Kemudian beliau melakukan shalat, lantas kami pun mengikutinya. (Sunan Ibnu Majah jilid 1 halaman 249, kitab al-Masajid, bab al-Masjid fi ad-Daur, hadis 756, atau dalam kitab Musnad Ahmad bin Hambal jilid 3 halaman 130 dengan dua sanad, atau dalam kitab Musnad Anas bin Malik hadis 11920)

Riwayat-riwayat semacam itu akan banyak kita dapati dalam buku-buku hadis terkemuka Ahlusunnah. Tentu di sini kita tidak akan menyebutkan hadis-hadis atau bukti sejarah lain (atsar) yang ada secara keseluruhan, karena di sini hanya sebatas blog.

Lantas giliran kita kembali bertanya kepada pengikut sekte Wahaby; Apakah tujuan Sahabiyah Ummu Sulaim agar kaum muslimin melakukan shalat berjamaah di rumahnya bersama Rasul sebagaimana tujuan sahabat ‘Atban yang telah meminta Rasul shalat di rumahnya, untuk menunjukan arah kiblat? Apakah ada tujuan lain yang dapat kita lihat dalam fenomena Ummu Sulaim selain tabarruk (mencari berkah) dari Rasulullah saw? Apakah paman sahabat Anas tadi -yang tentunya pengelihatannya masih kuat- juga bertujuan sama seperti sahabat ‘Atban yang pengelihatannya sudah lemah, untuk mengetahui dan memastikan arah kiblat? Jika tujuan mereka bukan untuk mengambil berkah dari tempat shalat Nabi bahkan ingin menjelaskan kepada Rasul akan ketidakadirannya di shalat jamaah Rasul, apakah tidak cukup sekedar memberitahu (meminta izin) Rasul akan penyebab ketidakhadirannya di masjid untuk melakukan shalat jamaah karena adanya uzur atau terdapat kepentingan lain sehingga diketahui oleh Nabi? Kenapa mereka malah meminta Rasul melakukan shalat di bagian tertentu dari rumahnya sehingga mereka nantinya juga akan shalat di tempat tersebut?

JA-TAK mengisukan:
Jika seseorang tinggal di Makkah, Madinah ataupun Syam untuk mengharap berkah dari Allah dari tempat tersebut, baik dari sisi berkah rizki maupun menghindari fitnah maka ia akan diberi kebaikan yang banyak. Namun jika seseorang melampaui batas dalam bertabarruk dengan cara menyentuh-nyentuh tanah, batu, pohon-pohonan yang ada di daerah tersebut atau meletakkan tanahnya di air untuk pengobatan atau semisalnya maka hal itu akan menyebabkan dosa, bukan pahala. Karena ia telah melakukan tabarruk yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para generasi pertama Islam. (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 42).

AS-WA-JA menjawab:
Untuk menjawab isu sekte Wahaby dalam masalah ini, mari kita perhatikan poin-poin di bawah ini:
– Dalam kajian yang lalu telah kita sebutkan bahwa, para sahabat yang tergolong Salaf Saleh telah sering melakukan pengambilan berkah dengan mengusap-usap mimbar Rasul sembari berdoa. Sahabat Ibnu Umar mengusap bekas tempat duduk Rasul di atas mimbar kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke raut mukanya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya, termasuk Rasul telah mengusap-usap kepala dan badan seseorang sembari mendoakannya yang menunjukkan bahwa terdapat kekhususan dalam usapan beliau. Karena jika tidak, maka doa Rasul untuk kesembuhan mereka saja sudah cukup, kenapa mesti harus pakai mengusap-usap anggota tubuh seseorang? Lantas apa tujuan Rasul melakukan hal tersebut selain memberikan barakah yang beliau miliki, hasil karunia khusus Ilahi yang diberikan kepada setiap kekasih-Nya? Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sekali riwayat-riwayat yang ada. Di sini kita akan sebutkan beberapa dari riwayat tersebut sebagai contoh saja:
a- Ummul Mukminin Aisyah pernah menyatakan: “Sesungguhnya Nabi pernah membaca doa perlindungan untuk sebagian keluarganya dengan mengusap tangan kanannya sembari mengucapkan doa: “Ya Allah, Tuhan manusia. Jauhkanlah bencana (darinya). Sembuhkanlah ia, karena Engkau Maha penyembuh. Tiada obat selain dari-Mu. Obat yang tidak menyisakan penyakit…”” (Sahih Bukhari jilid:7 halaman: 172)
b- Dari Abi Hazim mengatakan; aku mendapat kabar dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah saw pada perang Khaibar bersabda: “Akan aku serahkan panji (bendera perang) ini besok kepada seseorang yang Allah akan membuka (pertolongan-Nya) melalui kedua tangan orang tersebut. Dia (orang tadi) adalah seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah beserta Rasul-Nya pun mencintainya”. Ia (perawi) berkata: akhirnya orang-orang begadang untuk menunggu siapakah gerangan yang akan dianugerahkan panji tadi. Ketika pagi telah tiba, orang-orang mendatangi untuk mengharap dianugerahi kemuliaan tadi. Perawi berkata: Rasul bersabda: “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?”. Dijawab: “Ada wahai Rasul. Ia sedang sakit mata”. Rasul bersabda: “Datangkanlah ia!”. Lantas didatangkanlah Ali. Kemudian Rasul memberikan ludahnya ke mata Ali sembari mendoakannya. Lantas sembuhlah penyakitnya seakan tidak pernah mengalami sakit. Kemudian Rasul memberikan panji tersebut kepada Ali”. (Sahih Bukhari jilid: 4 Halaman: 30/207, Musnad Imam Ahmad bin Hambal jilid: 5 halaman: 333, as-Sunan al-Kubra karya Nasa’i jilid: 5 halaman: 46/108, Musnad Abi Ya’la jilid: 1 halaman: 291, al-Mu’jam al-Kabir karya Tabrani jilid: 6 halaman: 152 dan kitab Majma’ az-Zawa’id jilid: 6 halaman: 150).
c- As-Samhudi berkata: “Dahulu, jika Rasul dikeluhi oleh seseorang akibat luka atau borok, lantas beliau mengatakan ungkapan tersebut pada jarinya sembari meletakkan jempol (tangan) beliau ke tanah, kemudian mengangkatnya dengan mengungkapkan: “Dengan menyebut nama Allah. Dengan debu tanah kami, dan dengan ludah sebagian dari kami, akan disembuhkan penyakit kami. Dengan izin Allah”” (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ jilid: 1 halaman: 69. penjelasan semacam ini juga akan kita dapati dalam hadis Sahih Bukhari jilid: 7 halaman: 172 dari Ummul Mukimin Aisyah dengan sedikit perbedaan redaksi)
– Dalam banyak hadis juga disebutkan bahwa tanah Madinah memiliki keberkahan khusus dari Allah untuk kesembuhan penyakit. Itu semua berkat keberadaan Rasul bersama para kekasih Allah lain, baik dari sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan para manusia saleh lainnya. Kita akan melihat beberapa contoh -saja- dari hadis-hadis Rasul tersebut:
a- Rasul bersabda: “Debu Madinah menjadi pengobat dari penyakit sopak” (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
b- Rasul bersabda: “Sesungguhnya melalui debunya (Madinah) menjadi penyembuh dari segala penyakit” (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)
c- Rasul bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya tanahnya (Madinah) adalah pengaman dan penyembuh penyakit sopak”. (Kanzul Ummal, karya Mutaqi al-Hindi al-Hanafi jilid 13 halaman 205 atau kitab Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi as-Syafi’i jilid 1 halaman 67)

Jika tanah Madinah secara umum memiliki keberkahan semacam itu maka bagaimana dengan tanah di sisi pusara Rasul yang disitu jasad suci Rasulullah –makhluk Allah termulia- dikebumikan? Lantas salahkah (tergolong bid’ah atau syirik) dan tidakkah sesuai dengan ajaran (hadis) Rasul jika ada seseorang yang mengambil tanah Madinah untuk mengambil berkah darinya, baik untuk mengobati penyakitnya, atau sekedar disimpan untuk bertabarruk? Mana yang sesuai dengan ajaran Rasul; orang yang bertabarruk dengan tanah Madinah, ataukah yang menyatakan bahwa bertabarruk terhadap tanah semacam itu tergolong bid’ah atau syirik, sebagaimana yang diaku oleh kelompok Wahaby?

Ini semua menjadi bukti bahwa, Allah SWT telah menganugerahkan beberapa kemuliaan kepada beberapa tempat, yang kemudian disakralkan oleh masyarakat muslim. Madinah beserta tanahnya tergolong tempat yang dimuliakan oleh Allah SWT, dengan anugerah khusus semacam itu. Sehingga disakralkan oleh kaum muslimin, sesuai dengan apa yang diungkapkan melalui lisan suci Rasulullah saw. Jika Nabi sendiri –sebagai makhluk Allah termulia, pembenci Syirik nomer wahid- menjadikan tanah mulia penuh berkah kota Madinah sebagai sarana (wasilah) pengobatan (tabarruk) lantas; apakah pengikut beliau dapat divonis bid’ah atau syirik ketika mengikuti ajaran dan saran beliau tadi? Jika tanah Madinah dinyatakan sebagai penuh berkah karena Rasul pernah hidup di sana dan dikebumikan di situ, lantas bagaimana dengan Hajar Aswad, Rukun-rukun (pojok-pojok) yang berada di Ka’bah, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Shafa dan Marwah, Arafah, Mina, gua Hira’ dan gua Tsur yang semua adalah tempat-tempat sakral dan bersejarah buat Nabi dan orang-orang yang mencintai junjungannya tersebut? Apakah ketika bertabarruk dari tempat-tempat semacam itu lantas divonis dengan bid’ah dan syirik, sebagaimana kita lihat perlakukan kelompok sekte Wahaby terhadap kaum muslimin dari pelosok dunia yang menjadi tamu Allah d haramain? Kenapa kaum Wahaby melarang dengan keras orang yang ingin ‘menyentuh’, ‘mengusap’ dan ‘mencium’ hal-hal sakral tadi untuk bertabarruk, dengan alasan bid’ah dan syirik, atau alasan karena tidak ada contoh langsung dari Rasul?

Sayang, kebodohan kaum Muhammad bin Abdul Wahhab itu selain tidak didasari ilmu yang cukup, juga watak keras kepala, dan merasa benar sendiri telah meliputi diri mereka. Kebenaran tidak akan pernah sampai ke hati mereka selama borok-borok di jiwa mereka itu belum tersembuhkan. Hanya dengan menanggalkan jubah wahabisme-nya borok-borok itu akan tersembuhkan.

JA-TAK mengisukan:
Salaf Saleh telah melarang pengambilan berkah dan penghormatan yang berlebihan terhadap mereka. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas, ats-Tsauri, Ahmad dan sebagainya. Imam Ahmad pernah berkata: “Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? Pergilah dan tulislah hadis!”. Dan sewaktu beliau ditanya tentang sesuatu maka akan menjawab: “Bertanyalah kepada ulama!”. Ketika ditanya tentang penjagaan diri (wara’) beliau mengatakan: “Haram buatku berbicara tentang wara’, jika Byisr hidup niscaya ia akan menjawabnya”. Beliau juga pernah ditanya tentang ikhlas, lantas menjawab: “Pergilah kepada orang-orang zuhud! Kami memiliki apa sehingga kalian datang kepada kami?”. Suatu saat seseorang datang kepadanya dan mengusapkan tangannya ke bajunya dan kemudian mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya. Lantas Imam Ahmad marah dan mengingkari hal tersebut dengan keras sembari berkata: “Dari siapa engkau mengambil perkara semacam ini?” (Lihat: Tabarruk Masyru’ halaman 86).

AS-WA-JA menjawab:
Untuk menjawab isu penulis Wahaby di atas, hendaknya kita perhatikan beberapa poin di bawah ini:
– Terbukti bahwa ternyata penulis Wahaby tadi memahami sesuatu hal yang berbeda dengan kenyataannya. Apa yang dilakukan para imam mazhab tadi dalam mengingkari tabarruk orang-orang terhadap dirinya, bukan berarti pengingkaran mereka terhadap keyakinan tabarruk itu sendiri. Harus dibedakan antara mereka melarang orang bertabarruk kepada dirinya, dengan dari semula menentang keyakinan tabarruk. Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwa, para imam mazhab itu sendiri telah melakukan tabarruk.
– Dan apa yang disunting oleh penulis Wahaby tadi tidak lain adalah tergolong sikap ‘rendah diri’ (tawadhu’) para imam mazhab tadi, terkhusus berkaitan dengan Imam Ahmad bin Hambal. Dimana kita tahu bahwa ‘tawadhu’’ merupakan salah satu bentuk dan sikap nyata dari setiap ulama yang saleh. Terbukti bahwa Imam Ahmad bin Hambal tidak menvonis orang yang bertabarruk terhadapnya dengan sebutan-sebutan pengkafiran sebagaimana yang dilakukan oleh sekte (Wahabisme) yang konon mengikuti Imam Ahmad bin Hambal dari sisi metode (manhaj) dan pola pikir, serta sepak terjangnya. Itu semua karena para ulama mazhab tahu bahwa tabarruk bukan tergolong prilaku syirik ataupun bid’ah yang harus disikapi tegas dengan bentuk pengkafiran, seperti yang dilakukan sekte Wahaby. Dengan bukti lain bahwa, mereka sendiri –sebagaimana yang telah kita singgung di urutan artikel tabarruk sebelumnya- telah melakukan tabarruk terhadap para ulama dan manusia saleh yang hidup sezaman atau sebelum mereka. Bahkan sebagian mereka telah bertabarruk terhadap kuburan para ulama dan manusia saleh.
– Kalaulah ungkapan Imam Ahmad tadi tidak diartikan sebagai sikap tawadhu’ beliau, bahkan diartikan dengan sebenarnya, maka ungkapan beliau seperti: “Siapa diriku sehingga kalian datang kepadaku? Pergilah dan tulislah hadis!” atau ungkapan beliau; “Bertanyalah kepada ulama”, meniscayakan bahwa kita (kaum muslimin, juga pengikut sekte Wahaby) tidak perlu menjadikan Imam Ahmad bin Hambal sebagai rujukan, karena beliau bukan ulama. Namun terbukti bahwa, ternyata kelompok Wahaby pun yang selama ini ‘mengaku’ (konon) menjadikan Imam Ahmad sebagai panutannya, justru tidak konsisten terhadap ungkapanImam Ahmad tadi. Lantas mana konsistensi kelompok Wahaby dalam memahami dan melaksanakan ungkapan Imam Ahmad?

Entah dalil mana lagi yang dijadikan argumen oleh para manusia jahil pengikut sekte Wahaby dalam menyatakan kesyirikan dan kebid’ahan prilaku tabarruk? Mereka tidak memiliki argumen apapun berkaitan dengan hadis, riwayat, maupun bukti sejarah, apalagi al-Quran yang membuktikan bahwa tabarruk adalah perbuatan bid’ah maupun syirik.

Dari sini jelas sekali bahwa, Allah SWT telah menganugerahkan kesakralan khusus kepada beberapa obyek tertentu dari makhluk-Nya agar manusia menjadikannya sebagai sarana tabarruk. Dan terbukti bahwa Nabi Muhammad bin Abdillah saw bukan hanya tidak melarang, bahkan beliau sendiri telah mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan tabarruk dari obyek-obyek sakral tadi. Dari situ maka jangan heran jika lantas kita dapati para sahabat -yang tergolong Salaf Saleh- pun melakukan ajaran Rasul dalam masalah tabarruk tadi. Dan ajaran itu berjalan terus dari generasi ke generasi hingga kita sekarang ini.

Anehnya, setelah sekian lama berjalan, muncul kelompok dari dataran Arab Saudi yang tepatnya di kota Najd –yang dinyatakan oleh Rasul dalam hadis-hadis sahih yang dapat kita lihat dalam kitab-kitab standart Ahlusunah bahwa Najd sebagai tempat munculnya sekte Setan penyebar fitnah- yang mengaku sebagai penyebar tauhid, tiba-tiba melarangnya. Melarang bertabarruk dengan bentuk apapun dan terhadap obyek apapun, kecuali hanya sekedar doa. Padahal dakwaan mereka tidak memiliki landasan syariat –baik al-Quran, hadis maupun bukti sejarah- yang kuat.

Walaupun kajian kita secara khusus berkaitan dengan tabarruk, namun dari seri kajian tabarruk inipun kita juga telah bisa menetapkan secara global bahwa, obyek tabarruk dapat kita jumpai pada berbagai bentuk, seperti:
1- Tempat; seperti; Kota Madinah, Arafah, Muzdalifah, Mina, gua Hira, gua Tsur, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, atau makam-makam orang saleh…dsb.
2- Benda; seperti; Mushaf Al-Quran, semua penginggalan Nabi, Sahabat, Ulama dan manusia saleh lainnya…dsb.
3- Orang/pribadi agung; seperti; mengenang manusia-manusia mulia dari para nabi, syuhada’, salihin berkaitan dengan zaman kelahiran, wafat atau momen-momen penting dalam sejarah hidup mereka…dsb. Atas dasar itu para pecinta Rasul sering membaca berbagai bentuk salawat dsan puji-pujian untuk Rasul, seperti Maulid Diba’, Burdah, Barzanji, Shalawat Badr…dsb.
4- Waktu; seperti; waktu-waktu yang disakralkan oleh Allah secara langsung atau yang berkaitan dengan moemen khusus kehdupan manusia kekasih Ilahi. Atas dasar itu kaum muslimin memperingati acara-acara seperti; Maulid Nabi, Isra’ mi’raj, Nuzulul Quran…dsb.
Wallahu A’lam

Salam Ta’dzim
Sastro H

Iklan

43 Tanggapan

  1. الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات و تنزل البركات، بارك الله فيك و عليك و على المسلمين، جزاكم الله أحسن الجزاء، و قل جاء الحق و زهق الباطل إن الباطل كان زهوقا
    hatur nuhun setakterhingga kepada Mas Sastro atas segala jerih payahnya. Mudah-mudahan Mas Sastro adalah satu dari para pemimpin yang mengantarkan kebahagiaan kaum muslimin dari dunia sampai sorga nan permai kelak.
    آمين يا رب العالمين بجاه طه الأمين و أوليائه الصالحين

  2. Alhamdulillah Syukron

    Mugi 2 Alloh membalasi kesaean engkang katah kagem Ustd Sastro lan Sedere’ sederek muslim

    Matur nuwun terimakasih penjelasan yang gamblang, logis, dan tidak dipaksakan….

  3. Ustad Sastro kitab showaiq ilahiyah sudah di terjemahkan dalam bahasa indonesia belum,….
    Bolehkah aq minta cetakan bahasa indonesianya…

    ——————————————-

    Sastro Menjawab:
    Belum ada yang mensponsori mas…

  4. Ustad sastro sudah pernah dengar kitab Maqolidu sunniah
    Kusfu dolalati ibnu taimiyah atau apa judulnya saya lupa lupa ingat bisa di jadikan referensi tuh……

  5. Alhamdulillah..
    Akhirnya muncul juga artikel yg ditunggu-tunggu.. MaasyaAllaahu laa quwwata illa billaah..
    Ternyata Allah masih menghendaki ana utk terhindar dari virus wahabi. Hatur nuhun Mas Sastro atas artikelnya yg mencerahkan dan atas order kesabaran yg diberikan kpd ana utk menunggu munculnya artikel ini. Maju terus..

  6. ada diskusi menarik dgn teman wahhaby di rumahnya ttg agama, salah satunya adalh qunut. dia menentang mati2an praktik qunut. setelah ditanya, diaman kamu shalat subuh, dimasjid apa di rumah? dari dalam kamar istrinya njwab, boro2 ke masjid shalat subuh, di rumah sj ga pernah suhuhan krn bangunnya kesiangan.

  7. Terima kasih Mas Sastro, Akhirnya selesai juga… Saya tunggu2 edisi terakhir… kalau boleh akan saya Copas dengan menyebut sumbernya..

    —————————————

    Sastro Menjawab:
    Silahkan mas Abu Afkar…semoga Allah membalas usaha anda, dan menjaga anda serta keluarga anda dari segala mara bahaya. Amin!?

  8. Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan kita smua petunjuk yang haq ( Yang menjadikan sebab yang paling puncak) atas segala petunjuk Allah yang mana kita smua tidak akan diberi petunjuk jikalau Allah tidak menghendakinya. Shalawat beserta salam tertuju slamanya atas Junjunan Alam( sebab yang paling puncak ). Semoga kita smua slalu dislamtkan dari fitnah2 agama yg mana agama yg haq Allah dan Rasulnya sendiri yg slalu menjaganya. Aamiin

  9. akhirnya yang ditunggu-tunggu -kajian tabarruk terakhir- nongol juga….makasih ya uztad sastro!!!
    alfatihah buat ustad…

  10. Sekilas Sejarah terbentuknya Wahhabisme

    Menurut sejarah mengapa peninggalan Rasulullah itu dihancurkan, bukan karena takut akan dikeramatkan oleh sebagian orang tetapi ini ada unsur politik bahkan hingga saat ini…semua itu bermula dengan pemberontakan oleh Abdul Aziz ibn Al Saud melakukan pemberontakan tahun 1925 terhadap Syarif Makkah ketika itu: Syarif Hussain. Keturunan Rasulullah lah yang turun temurun memelihara dua tanah haram sebelum wahabi datang dan membunuhi ulama2 ahlussunah di Mekkah, menghancurkan makam para Sahabat dan tempat2 bersejarah Rasulullah saw. Perebutan kekuasaan dilakukan dengan jalan perang, di mana pihak wahabi/Ibnu Saud dibantu langsung oleh orang kafir (Inggris) di antaranya seorang intelijennya yang terkenal bernama Lawrence ([Yahudi?] ada filmnya: Lawrence of Arabia). Jadi sejak awal, pendirian Kerajaan Saudi dibantu oleh orang kafir yang sangat dicurigai bahwa Yahudilah di belakang semua ini karena ketika itu kabinet Inggris sangat dipengaruhi Yahudi. Dalam perang ini banyak terbunuh ulama-ulama ahlussunah terutama keturunan Rasulullah SAW. Memang faham wahabi sangat membenci keturunan Rasulullah SAW karena mereka tahu, salah satu pilar kekuatan umat Islam sebenarnya ada pada keberkatan keturunan Rasulullah SAW. Setelah merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Saudi, Ibnu Saud dan ulama-ulama wahabi berencana menghancurkan makam Baginda Rasulullah SAW. Usaha ini dihentikan setelah mendapat protes dari seluruh dunia. Dari Indonesia ada dikirim delegasi khusus dari NU yang diketuai KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1927. . Delegasi ini mengancam pemerintah Saudi agar menghentikan usahanya tersebut, kalau tidak NU akan memobilisasi umat untuk membebaskan Mekkah dan Madinah. Bahkan skrg Wahabi sedang gencar2nya menyebarkan tuduhan Bid’ah terhadap sesama muslim yang sering membaca Shalawat atau mengadakan Maulid Nabi…

    Setelah perebutan itu Syarif Hussain terpaksa lari ke Jordan dan diangkat jadi raja di sana. kemudian kerajaan Saudi yg sekarang, adalah suatu kerajaan yang berdiri dengan jalan perebutan kekuasaan dari Syarif Makkah (Syarif Hussain) oleh Ibnu Saud. Penjagaan Haramain sudah beratus tahun dipercayakan pada keturunan Rasulullah SAW. Padahal, faham wahabi sangat mengharamkan perebutan kekuasaan dari pemerintah yang sah. Mereka menerapkan hukuman mati untuk kudeta, tapi kerajaan mereka didirikan dengan cara ini.

    Sebelum itu awal abad 19 wahabi dari Nejed, Ibnu Saud sudah berhasil merebut Mekkah, tapi berhasil diusir kembali oleh Jenderal Muhammad Ali dari Mesir.

    Beberapa keterangan panjang tentang ini saya dapat bukan dengan baca buku, tapi mendengar langsung dari ulama-ulama sufi Madinah keturunan Rasulullah saw

    Kerajaan Saudi dan ulama-ulama wahabi di sana hingga saat ini tidak pernah diketahui jelas memusuhi Israel dan Amerika. Malahan, raja-rajanya berteman akrab dengan pemimpin-pemimpin Amerika. Perusahaan-perusahaan minyak di Saudi sebagian besar adalah perusahaan Amerika yang nota bene milik orang Yahudi. Aramco dan lain-lain itu milik Yahudi semuanya. Tokoh-tokoh kerajaan Saudi menyimpan uang rejeki minyaknya ke bank-bank Yahudi di Amerika, Swiss, dll. Tentu saja keuntungan dari perputaran uang ini tidak akan dipakai Yahudi untuk memajukan Islam bukan? Tentu tidak! Malah keuntungannya dipakai untuk menghancurkan Islam. Saudi mengizinkan tanah haram dipakai sebagai pengkalan perang tentara kafir (Sekutu) untuk menghancurkan Iraq yang beragama Islam. Dari sedikit fakta ini mestinya kita curiga. Adakah gerakan wahabi ini murni dari Islam? Ataukah memang ia dibentuk/disuburkan oleh Yahudi untuk menggerogoti Islam dari dalam?

    Kesimpulan :

    ” Tujuan dihancurkan sejarah peninggalan rasul agar kita tidak pernah mengingat akan sejarah tentang Rasulullah dan keturunannya yg dapat menumbuhkan semangat JIHAD kita dalam membela agama ISLAM, serta hilangnya rasa Cinta kita terhadap Rasulullah, Sebab Apa? karena jika umat ISLAM mengetahui sejarah ini, maka akan menjadi malapetaka untuk Kerajaan ARAB SAUDI sekarang yg mempunyai catatan hitam tentang kerajaannya ”

    Nb : Bahkan ulama2 Ahlussunah disana sering di-Intai oleh Mutowwe2 yg diutus oleh Raja Arab, dan tidak segan2 ditangkap dan di-bui.

  11. hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks disini diobral
    gak perlu bayar
    gak perlu repot-repot
    cukup disini aja

    hoaks diobral!!! hoaks diobral!!!! hoaks diobral!!!!
    hoaks diobral!!! hoaks diobral!!!! hoaks diobral!!!!
    hoaks diobral!!! hoaks diobral!!!! hoaks diobral!!!!
    hoaks diobral!!! hoaks diobral!!!! hoaks diobral!!!!

    tak perlu bayar cukup masuk ke situs ini dapat hoaks banyak buanget

    pembahasannya hoaks 1, hoaks 2, hoaks 3, dst

    waaaah pengunjung dijamin puas dengan hoaks-hoaks disini

    Ayooo buruan datangi situs hoaks ini!!!!
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks
    hoaks hoaks hoaks hoaks hoaks

    ——————————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Beginilah jurus terakhir jika sudah kepepet dan gak punya dalil lagi…jangan heran!? Bukan satu dua-orang Wahaby yang semacam ini, tapi mayoritas mutlak mereka ya semacam ini. Kayaknya sudah menjadi watak pengikut sekte menyimpang itu kali ya….?!

  12. mas sastro, saya ngga’ tahan buat bikin respon lagi, terutama buat bung hoaks, semoga beliau buakan seorang muslim, sebab jika beliau seorang muslim, apapun “manhaj-nya”, saya ikut merasa prihatin. ……..

  13. kok sepi
    ulama wahabynya kemana?
    lagi mondok lagi kali
    biar bisa ngelawan blog ini….

    Mas bahas dong
    Imam Mahdi itu dari wahaby ato bukan
    keturunan tokoh wahaby???

    ————————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Wah, kalaulah mau dibahas itu masih sangat jauh urutannya mas…kita masih banyak bahan untuk mengkritisi langsung ajaran sekte Wahaby yang sering dibuat senjata pengkafiran umat Islam.

  14. Terima kasih mas Sastro, semoga Allah menambah keberkahan dan membukakan pintu hikmah-Nya melalui tulisan sampean.
    Perkembangan JATAK-acong sekarang ini sudah mulai menyelusup ke kampung-kampung bahkan ke pedalaman sumatra domisili saya.
    Kampungku yang dulu jamaah mushollanya sejuk, dalam waktu singkat berubah menjadi tidak harmonis, saling curiga dan saling menyalahkan setelah kehadiran kelompok pengajian JATAK.
    Jadi merinding saya mendengarnya, orang yang “ra ngerti alip bengkong”, tiba-tiba dengan lantang berani mengatakan zikir jahr ba’da solat, kunut tahlil, maulid itu bidah dan ziarah kubur itu musyrik, dsb.
    Alhamdulillah, saya tahu jawabannya dari blog ini.
    Mohon izin saya copy, dan insya Allah saya kasih tahu address blog ini ke kawan-kawan.

    ———————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Silahkan mas, semoga Allah dan Rasul-Nya meridhoi semua usaha sampean….Amin.

  15. Assalamu’alaikum wr wb. Akhirnya artikelnya muncul juga setelah ditunggu lama, semoga artikel 2 lain segera menyusul…BTW mau tanya sama netters niy, kok websitenya ponpes SIDOGIRI kok rusak kelihatannya, apakah ada yang nge-hack ya???? ada yang punya info ???? thnx Mas satro

  16. Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….
    Sampah semua isinya, istidlalnya (pengambilan hadistnya) gak pas dengan topik, gak ada referensinya dari imam hadist maupun imam tafsir Alquran………………………………………………….

  17. banyak-banyaklah membaca istifar dan shalawat, insyaallah hatimu akan terbuka. hijab di ahimu akan terkuak. bacalah karya-karya sehk Abdullah Alwi Al-hadad

  18. bukan sepi yang membela syekh ibn wahab tapi tiap pembelaan yang dirasa memojokkan para ahli fitnah golongan kuburiyun dan ahli bidah musyrik dengan gampangnya posting dihapus. jadi kalau mau cari jawaban datang aja ke situs2 salafy ahlusunnah waljamaah.
    kalau memang gentle dalam adu argumen jangan dihapus posting yang memojokkan kamu kang…!!!

    —————————————-

    Sastro Menjawab:

    Silahkan buktikan kemampuan argumen mereka dengan menjawab apa yang sudah kita cantumkan…itu kalau mereka mampu lho?! Hingga saat ini kami tidak menemukan tulisan mereka yang menjawab dengan tuntas artikel kami…silahkan buktikan sendiri!
    Bung, ungkapan anda itu sebenarnya harus anda tujukan ke para admin situs/blog Wahaby, yang hobbynya memoderasi komentar yang gak sejalan…malu dong…!?

  19. bismillah, NU kan cuman adanya di indonesia..ap ad di arab? bela4lhaq.wordpress.com

    ————————————————

    Sastro Menjawab:

    Maaf, silahkan teman-teman pengunjung yang mengikuti ORMAS-NU menjawabnya…
    Cuman saya nyumbang dikit bicara aza: “Ini bukti bahwa penulis komentar di atas bukan tergolong orang yang cerdas….gimana dibilang cerdas lha wong gak bisa membedakan antara ORMAS yang skupnya lokal dengan mazhab atau sekte (seperti Wahhaby) yang bisa disebarkan ke seluruh dunia…bisa saja kita bilang: O ya, zaman Salaf Saleh juga gak ada tuch Wahhaby, jadi sekte Wahhaby itu juga “hasil Bid’ah orang Najd” (Muhammad binAbdul Wahab an-Najdi) yang dilaknat sama Rasul dalam hadis Sahihnya”.

  20. sebelumnya maaf saya bukan praktisi NU, tetapi saya setuju dengan Mas Sastro (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada anda). kebanyakan dari mereka(wahabi) cenderung berkomentar tanpa mempersiapkan kematangan berfikir. Bukankah di Arab juga ga ada yang naik GLpro/yamaha mio untuk pergi ke Masjid??????…………
    jangan2 (mudah2 saya salah) mereka ga pernah dapat pendidikan agama yang cukup, sehingga dengan mudahnya menodai dasar2 agama untuk hal2 yang cenderung berorientasi pd kepentingan mereka sendiri. mengeklaim golongan hingga sampai parahnya Baitullah ingin dimiliki sendiri (bukankah itu tempat suci milik Allah). naudzubillaah….. begitu kerasnya hati mereka. Mari kita doakan bersama semoga Alllah membukakan haati mereka, Amien………

  21. Mas Sastro sebaiknya tulisan sampean dibukukan dan di cetak saja, mengingat saat ini banyak buku sekte wahaby yang ada di gerai2 buku. Supaya masyarakat punya second opinion, dan punya wawasan yang memadai sehingga masyarakat punya pilihan.
    Banyak kalangan muda saat ini yang belajar dari buku, sayangnya begitu ketemu sekte yang satu itu langsung “kelihatan” fanatik, seolah benar sendiri. Sebagai contoh tulisan2 abu jibril, dkk,…. weleh-weleh kerase!!!
    Kalau ada penulis yang mencounter insya Allah akan ada wacana diskusi yang berimbang di kalangan masyarakat.
    Kami tunggu terbitan bukunya mas

  22. waduh pada segmen ini rupanya banyak pengikut wahhabi yg keblinger!, setres kali!! kaya’nya mereka sudah kehabisan dalil, moga2 yg keblinger dibuka pintu hidayah dan menyadari kalo wahhabi ajaran basi dan menyesatkan, untuk mas sastro maju terus pantang mundur!, merdekaa!!

  23. bismillah, nuduh org lain ga cerdas lagi, ngaca! koreksi diri! ak kn hany bilang NU kn cuman ad ny di indonesia..ap ad di arab..(ini pun kalimat tanya tw!) ya tinggal dijawab ad pa ga.. NAFSIR ALQURAN DN HADIST PAKE HAWANAFSU/ OTAKMU SNDIRI, MANA PRKATAN PARA IMAM DARI KALANGAN SALAF MANA PKATAAN SHAHABAT RADHIYALLAHU ‘ANHUM? SOK TW! NAFSIR QURAN DN HADIST TANPA BIMBINGAN SALAFUS SHALIH! apa km lbh pinter dr merka apa! sok tw! sok pinter!

    ——————————————————

    Sastro Menjawab:

    Kalau anda benar pinter…silahkan buktikan dengan menjawab artikel2 kami. Itu kalau anda mampu lho…tuh tiru Jakfar Umar Thalib yang tobat dari pengkafiran, biar jadi orang kalian semua!

  24. saya sebagai sebutir debu simpatisan NU merasa perlu menanggapi mas abaabdilah.
    Langsung saja, saya nyatakan bahwa konflik anda adalah dengan pemilik blog dalam hal ini mas sastro. Jadi sesungguhnya, kalau anda menunjuk NU, dalam permasalahan ini. berarti anda siap konfrontasi dengan NU. Maka saya sarankan, kalau anda pingin beradu argumen langsung dengan NU, anda bisa hubungi langsung perwakilan-perwakilan NU di seluruh Indonesia. Kemukakan maksud anda dengan baik-baik, niscaya saudara-saudara saya di NU akan dengan senang hati melayani anda, sesuai kapasitasnya.
    Kalau masalah NU tidak ada di Arab, sederhana saja saya sampaikan, NU memang bukan Arab, tetapi akidah NU dijamin “ahlulsunnah” sejati. Bukan manhaj yang mengklaim ahlulsunnah tetapi sesungguhnya jauh dari referensi sunnah itu sendiri.
    Wahabi memang dari Arab, demikian juga onta juga dari Arab, jadi keduanya sama……..
    buat mas satro, kemarin ada teroris yang nyamar dengan nama “sastro”, jangan-jangan ………

    ————————————————–

    Sastro Menjawab:

    Jangan-jangan Wahaby yang mengatasnamakan nama saya…? Itu sudah kita perkirakan mas….lha wong nama saya sudah dipakai untuk menjelek2an blog2 yang lain koq….Insya-Allah, Allah akan membuka kedok siapa Wahaby sebenarnya, cepat atau lambat…kata orang jawa, becik ketitik olo ketoro….salam buat warga NU yang sejuk dan menyejukkan!

  25. setuju dengan pendapat mas sastro, dimana alamat blog dan web atas bantahan dan penjelasan dari blog ini untuk mencari kebenaran? memang pas browsing ada blog yg menyesatkan hti, jamaah tablig, ikhwanul muslim ada buktinya bisa di download tapi ya percuma buktinya bahasa arab sayanya gak ngerti bahasa arab. sekali lagi dimana alamat blog yg bisa menjawab tulisan abu salafy?

  26. Mas Sastro, kami sangat berharap kiranya ulasan-ulasan Mas Sastro dapat diterbitkan dalam edisi buku sehingga dapat memperluas wawasan generasi muda Islam dan masyarat luas.

    Terima kasih

    ————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Artikel-artikel di sini hanya sebatas tulisan di blog mas, ringkas tapi padat…kalau mau dibukukan ya harus dilengkapi dengan penjabaran dan referensi yang lebih lengkap lagi, dan itupun harus diedit bahasanya….Tapi gak papa dech, untuk sementara kita bisa jadikan tulisan2 itu untuk silabus atau selebaran (Bulletin) yang dapat kita sebarkan ke masyarakat sekitar kita, agar mereka tidak terpolusi dengan ajaran Wahabisme yang rancu.
    Teriamakasih juga…

  27. saya salut dengan kangsastro.terusno kang ale bahas artikel2 .lebih apik eneh kang sastro bahas fiqh ben dulur2 iki paham karo ajarane ahlussunnah waljamaah. alhamdulillah kang saya ngaji sama habib husen di bekasi sama dengn apa yang di sampaikan oleh kang sastro.ana ngaji limu tauhid sulthonul ulum insya alloh ana gak akan tertarik dengan apa yang diajarkan wahaby.

  28. @fikri

    nama sih keren fikri….. yang ada dengkul? gimana ini?

    Kalau anda anggap artikelnya boong ya jawab dengan bijak dan argumentatif…. lha ini….. hik hik hik..nulis kaya gitu…hanya menunjukkan anda sebenarnya….. goblok

  29. Iya mas sastro, coba dibukukan aja. Biar bisa dibaca lebih luas lagi. Para alim ulama pun kemungkinan mbaca ulasan mas sastro. Nanti bisa ketahuan kan mana sebetulnya jalan yang lurus. Toh kita semua kepengin ndapetin jalan yang lurus

  30. SEKALI LAGI MAS SASTRO (WALAUPUN ITU HANYA NAMA SAMARAN) JANGAN MENILAI PRIBADI ORANG NILAI SAJA AJARANNYA SELAMA MEREKA MASIH SHOLAT DAN BACA ALQURAN LAWAN ARGUMEN MEREKA DENGAN BAHASA YANG HANIF KARENA MEREKA JUGA BERDAKWAH DAN MENSYIARKAN DINULLAH DAN MEREKA JUGA INGIN MASUK SURGA JANGAN SALING MENJEGAL DAN JANGAN GUNAKAN KASAR DENGAN KASAR SARU DENGAN SARU SEMBRONO DENGAN SEMBRONO CACIAN DENGAN MAKIAN GANDENGLAH SEMUA UMMAT ISLAM INSYAALLAH KITA SEMUA INGIN MENDAPATKAN RAHMATALLAH DAN RIDLO ALLAH SELAMA KITA TIDAK MENINGGALKAN PATHOAN ALQURAN DAN HADITS YANG BAIK DAN BENAR

    ———————————————–

    Sastro Menjawab:
    Kini mereka sedikit tahu (mendapat pelajaran) bagaimana jika mereka dikritik dengan gaya semacam itu mas…memang mendidik itu kadang harus pakai ‘dijewer telinga’, biar sadar…
    Anda mengatakan; “MEREKA JUGA INGIN MASUK SURGA”, tapi kenyataannya lain mas, justru mereka seakan-akan yang memegang kunci sorga jadi kita kalau mau masuk harus mengikuti kehendak mereka dulu dengan bertaklid kepada Muhammad bin Abdul Wahhab dulu. Kalau gak, maka kita masih syirik….Oh sungguh kasihan para ulama Ahlusunnah dari empat mazhab itu yang mengkritisi Muhammad bin Abdul Wahhab, gak bakal dikasih kunci Sorga oleh kaum Wahhaby…:P

  31. amin rais

    waduh pada segmen ini rupanya banyak pengikut wahhabi yg keblinger!, setres kali!! kaya’nya mereka sudah kehabisan dalil, moga2 yg keblinger dibuka pintu hidayah dan menyadari kalo wahhabi ajaran basi dan menyesatkan, untuk mas sastro maju terus pantang mundur!, merdekaa!!

    tahukah bahwa amien rais telah menjadi antek gusdur dan masuk dalam JIL???

  32. kayaknya ada yang lahanya di ambil para pengikit yang katanya wahabi..hhe…kapan nih nyari berkah ke kuburan wali…

    —————————————————

    Sastro Menjawab:
    Lho gini tock jawaban anda yang katanya ilmiah itu? 😛

  33. mas tlong anda sebut nama asli dan alamat biar tambah ilmiyah…anda kan punya temen dan pasukan banyakk.. trus gempur itu saudi dengan sejata dan pasukan paramiliter kultural..kan anda kebal senjata

    ————————————————————

    Sastro Menjawab:
    Nama asli? Emang itu nama sewaan?:P
    Trus apa hubungannya antara alamat dengan keilmiahan suatu tulisan?
    Saudi gak usah digempur juga bakal ambruk mas…:)

  34. assalamu’alaikum

    Tuu..kan, om sastro bingung kalo ditanya soal jati dirinya
    >>>Sastro Menjawab:
    Nama asli? Emang itu nama sewaan?
    Trus apa hubungannya antara alamat dengan keilmiahan suatu tulisan?
    Bagaimana bisa dipertanggung-jawabkan tuh artikel2nya, lha wong orangnya aja ga jelas gitu. Para salaf sholihin aja dalam menyusun hadits kalo ada salah satu perawinya gak jelas identitas & perilakunya maka status haditsnya cacat.
    Mo tahu makna dari nama “sastro” ? dalam masyarakat jawa, artinya tuh si pembual.
    Sungguh ironi seorang “sastro” mempertanyakan hubungan alamat/identitas penulis dengan keilmiahan karyanya….emangnya apa yang om dapat ketika membaca buku2 karya ilmiah, apakah para penulisnya menyembunyikan identitas, walaupun memakai nama samaran mereka gak ada yang menyembunyikan identitasnya….kecuali seorang pengecut dan penyusup.

    lama2 bosen….berkunjung ke sini,
    maanfaat ?…ada sih walau dikit
    tapi lebih manfaat lagi kalo biaya ngenet kubuat beli kitab2 salaf aja deh….tafsir jalalen, bulughul marom, fathul mu’in, durrotun nasihin, en banyak lagi sih.

    ikhtitam :
    Bey bey om, makasih ilmunya, dari om saya belajar :
    >>> istiqomah (+)
    >>> ngeyel walau salah (-)
    >>> menghina agar tak kehilangan muka (-)
    >>> sembunyikan identitas agar aman (-)
    >>> jadilah pengecut (-)

    wassalamu’alaikum wr.wb.

    ———————————————————————

    Sastro Menjawab:
    Jurus Cah Semarang dikeluarkan lagi…sekedar cari alasan untuk melarikan diri. Malu donk mas…!

  35. Kalo Mas Sastro tuh bertabaruknya kemana Mas? Yang di Indonesia aja ya.

    ————————————————————————-

    Sastro Menjawab:
    Saya sendiri jauh lebih sreg dengan tabarruk yang ada di Madinah itu lho mas…walaupun saya juga gak mau mengingkari yang ada di Indonesia. Makanya saya tahu banyak tentang prilaku mothowek2 Wahaby Saudi pada pencari berkah itu mas…:P

  36. hmmmmmmmmmmmm mungkin komentar dan apa yang ada di artikel pahit untuk mereka saudara kita yang bermahzab wahabi tapi janganlah anda memuntahkannya karena di sana juga terdapat banyak kebenaran. Mas sastro saya tunggu artikelnya saran saya beberapa perkataan atau kalimatnya agak sedikit di perhalus mas, suwun

  37. Kasih referensi dong Mas, bertabaruk kemakam mana aja di Indonesia yang menurut Mas pantas dimintai berkahnya?

    ——————————————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Bisa ke setiap orang yang anda anggap dia sangat mumpuni dari sisi keimanan dan ketakwaannya kepada Allah…Itu tergantung tolok ukur penilaian setiap individu. Kalau ke makam ya makam wali songo juga bisa….

  38. untuk yang tanya soal tabaruk.., dateng aja ke orang tua masing2..baru nanti kunjungi para ulama (yang hidup maupun ke makamnya).

    to : mas Sastro…
    memang pahit melihat dan mendengar ajaran Rosul SAW yang terlalu banyak ditafsirkan tanpa hikmah (dalam hal ini maslahat orang banyak).. yang pada akhirnya orang lain jadi kafir dan dirinya yang benar, tapi itu sudah menjadi bagian dari hidup di dunia.
    Jadi teruskan artikel2 dari mas Sastro dengan “hikmah” tentunya…

    ps: mohon maaf kalo ada kata2 yang dianggap menggurui..

  39. Assalammu’alaikum Wr.Wb.
    Mas Sastro yang kami hormati, kami dari NU Chapter U hanya ingin bertanya mengenai beberapa hal berikut. terutama, makna Ayat Al-Qur’an yang termaktub dalam ayat berikut ini:

    1. Surah Fathir : 13-14

    “Artinya : Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalaupun mereka mendengarnya, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Allah Yang Maha Mengetahui”.

    2. Surah Fathir : 22

    “Artinya : Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar”.

    3 Al-Ahqaf : 5-6
    “Artinya : Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru (menyembah) sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka”. [Al-Ahqaf : 5-)

    Menurut Mas Sastro, apakah ayat-ayat tersebut dapat dijadikan dalil haramnya tradisi ziarah kubur? Soalnya, beberapa kelompok aliran dalam agama islam menggunakan dalil tersebut untuk mengharamkan praktek ziarah kubur. Mohon penjelasannya mas.

    ———————————————–

    Sastro Menjawab:

    1- Anda lihat dan perhatikan redaksi ayat2 itu secara teliti kata perkata, siapa yg menjadi obyek firman Allah itu? Orang muslim pengikut Muhammad Rasulullah ataukan kaum kafir musyrik yg tidak mengimani syariat Muhammad? Kenapa anda dan kelompok anda suka menerapkan ayat2 itu utk kaum muslimin umat Muhammad? Apakah dimata anda tidak beda antara muslim dan musyrik?

    2- Apakah kaum muslim yang berziarah kubur dan menyeru ahli kubur mesti menyembahnya? Apa definisi menyembah menurut anda? Jika memanggil/menyeru ahli kubur samadengan menyembah maka berapa banyak sahabat Nabi yg telah melakukannya. Anda cek lagi di artikel2 kita disini. Berani anda menvonis sahabat musyrik? Kalau anda gk berani berarti anda gak konsist terhadap keyakinan anda sendiri

  40. Begitu juga dengan hadist Baginda Nabi Sayyidina Muhammad SAW yang berbunyi sebagai berikut:

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Jika seorang insan meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya”. [HR Tirmidzi no. 1376 dan Nasa’i no. 3601]

    Hadist ini pun mereka jadikan hujjah haramnya tradisi ziarah kubur. bagaimana menurut pendapat mas Sastro??

    ———————————————————

    Sastro Menjawab:

    Anda lihat dengan teliti kata perkatanya…..sewaktu dikatakan “terputuslah amalannya”, NYA disitu kembali kesiapa? Ke yg mati bukan? Berarti yg terputus adalah amalan orang yg telah mati, bukan yang masih hidup. Kalau yg masih hidup beramal utk yg mati? Dlm hadis itu tidak disinggung sama sekali…

    Kalau yg hidup mustahil dapat menghadiahkan amalan kpd yg mati, atau yg mati mustahil dapat mendengar dan mengambil manfaat dari yg masih hidup lantas;
    1- Buat apa seorang anak diperintahkan berdoa untuk ayahnya?
    2- Buat apa kita diperintahkan utk bersalawat kepada Nabi?
    3- Buat apa kita melakukan shalat jenazah yg disitu juga ada doa utk si mayyit?
    4- Buat apa sewaktu kita masuk pemakman disunahkan mengucapkan salam buat para ahli kubur?
    Kalau itu adalah pengecualian, maka atas dasar apa? Apakah mayit dalam kondisi itu bisa mendengar dan kondisi lain gak bisa mendengar? Tentu anda tidak dapat mengingkari 4 pertanyaan diatas krn itu terdapat dalam kitab2 standart Ahlusunah wal Jamaah.

  41. Sastro al-NU dan NU khawatir berat dengan perkembangan wahabi di Indonesia.Seperti khawatirnya para orang kristen di barat dengan berkembangnya agama Islam

    —————————

    Sastro Menjawab:
    NU khawatir perkembangan Wahaby di Indonesia sebagaimana Rasulullah beserta para sahabat mulia beliau khawatir Khawarij (preman berbaju/berkedok agama) menyebar diantara kaum muslimin, karena Khawarij adalah golongan Setan yang Sesat dan menyesatkan. Ingat hadis Nabi ttg kota Najd tempat lahirnya Golongan Setan dimana disitu awal kemunculan sekte Wahaby kan? Itu yang NU khawatirkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: