Tabarruk 7; Antar Para Sahabat (satu dengan yang lainnya) pun Saling Bertabarruk

Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang saleh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya. Baik tabarruk dari diri orang Saleh dan Takwa tersebut, ataupun doanya, maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak saleh dan takwa, apalagi obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi (karena dinisbahkan kepada manusia saleh dan bertakwa, kekasih Ilahi) maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita. Seperti obyek-obyek yang dianggap sakral oleh orang-orang kejawen yang ‘konon’ beragama Islam (Islam KTP). Dan teks-teks agama Islam pun akan berlepastangan dari obyek-obyek semacam itu.

——————————————————————————

    Mengambil Berkah (Tabarruk) Merupakan Perbuatan Bid’ah atau Syirik? (Bag-7)

    (Antar Para Sahabat (satu dengan yang lainnya) pun Saling Bertabarruk)

Jika pada kajian sebelumnya telah kita pahami bahwa para sahabat telah mengambil berkah dari diri Rasul beserta semua peninggalan beliau dari baju, sandal, piring, gelas, cincin, tongkat hingga mimbar dan kubur Rasul pasca wafat beliau, kini kita akan melihat apakah hanya Nabi saja yang boleh ditabarruki ataukah mencakup para sahabat dan para manusia saleh lain pun boleh diambil berkahnya?

Pertama-tama, kita akan melihat beberapa teks tentang; apakah diperbolehkan mengambil berkah dari selain Nabi, seperti para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in dan para manusia saleh dan bertakwa pasca masa mereka?

Kita di sini akan melihat beberapa teks yang membuktikan bahwa para sahabat satu dengan yang lain dan diantara mereka telah saling mengambil berkah. Sedang kita tahu bahwa, menurut Ahlusunah wal Jamaah, semua sahabat adalah Salaf Saleh yang layak ditiru dan diikuti.

1- Imam an-Nawawi dalam kitab “al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab” (Jilid: 5 Halaman: 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khatab telah meminta doa hujan melalui Abbas (paman Rasul) dengan menyatakan: “Ya Allah, Dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka tutunkan hujan bagi kami. Kemudian turunlah hujan”. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang sahih).

2- Dalam kitab yang sama (seperti pada poin no 1 di atas) disebutkan bahwa Muawiyah telah meminta hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: “Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat, red). Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Lantas ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada disekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing”.

3- Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid:2 halaman: 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunah) untuk meminta hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait Nabi”.

4- Ibnu Atsir dalam kitab “Usud al-Ghabah” (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi (tarjamah) Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: “Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain”. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutamakannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”.

5- Sewaktu Umar bin Khatab melamar Ummu Kultsum (putri Ali bin Abi Thalib), ia mengatakan: “Aku ingin masuk menjadi bagian dari Rasul”.

6- As-Samhudi dalam kitab “Wafa’ al-Wafa’” (Jilid: 2 Halaman: 448) menyatakan bahwa; “”Dahulu, Ali bin Abi Thalib selalu duduk di depan serambi yang berhadapan dengan kubur (Rasul, red). Di situ terdapat pintu Rasul yang didepannya terdapat jalan yang dipakai Nabi keluar dari rumah Aisyah untuk menuju Masjid (Raudhah). Di tempat itulah terdapat tiang (pilar) tempat shalat penguasa (amir) Madinah. Ia (Ali bi Abi Thalib) duduk sambil menyandari tiang itu. Oleh karena itu, Al-Aqsyhary mengatakan: “Tiang tempat shalat Ali itu hingga kini sangat disembunyikan dari para pengunjung tempat suci (Haram) agar para penguasa dapat (leluasa) duduk dan shalat di tempat itu, hingga hari ini”. Disebutkan bahwa tempat itu disebut dengan “Tempat para Pemimpin” (Majlis al-Qodaat) karena kemuliaan orang yang pernah duduk di situ (yaitu Ali bin Abi Thalib, red)”.

7- Dalam kitab yang sama (seperti pada poin 6 di atas), as-Samhudi (pada Jilid: 2 Halaman: 450) menukil dari Muslim bin Abi Maryam dan pribadi-pribadi lain yang menyatakan: “Pintu rumah Fatimah binti Nabi terletak di ruangan segi empat yang berada di sisi kubur. Sulaiman berkata: Muslim telah berkata kepadaku: Jangan engkau lupa untuk mengerjakan shalat di tempat itu. Itu adalah pintu rumah Fatimah dimana Ali bin Abi Thalib selalu melewatinya”.

8- Ibn Sa’ad dalam kitab “at-Thabaqoot al-Kubra” (jilid: 5 Halaman: 107) menukil riwayat yang menyatakan: “Sewaktu Husein bin Ali bin Thalib meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, ia bertemu dengan Ibn Muthi’ yang sedang menggali sumur. Lantas ia berkata kepada Husein: “Aku telah menggali sumur ini tetapi tidak kudapati air dalam ember sedikitpun. Jika engkau berkenan untuk mendoakan kami kepada Allah dengan berkah”. Lantas Husein berkata: “Berikan sedikit air yang kau punya!”. Kemudian diberikan kepadanya air lantas ia meminumnya sebagian dan berkumur-kumur dengan air tadi lantas mengembalikannya ke dalam sumur. Seketika itu sumur menjadi memancarkan air dengan melimpah” .

9- Ibnu Hajar dalam kitab “as-Showa’iq al-Muhriqoh” (Halaman: 310 pasal ke-3 tentang hadis-hadis yang berkaitan dengan ahlul bait) menyebutkan: “Ketika ar-Ridho (salah seorang keturunan Rasul, red) sampai di kota Naisabur, orang-orang berkumpul disekitar kereta tunggangannya. Lantas ia mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta sehingga dapat dilihat oleh khalayak. Kemudian (sambil memandanginya) mereka berteriak-teriak, menangis, menyobek-nyobek baju dan melumuri dengan tanah, juga menciumi tanah bekas jelannya kendaraannya…”. (Hal ini juga dinukil oleh as-Sablanji dalam kitab “Nur al-Abshar” Halaman: 168, pasal Manaqib Sayid Ali ar-Ridho bin Musa al-Kadzim)

Di atas tadi adalah sebagian contoh bahwa para sahabat pun telah bertabarruk dari pribadi-pribadi yang dianggap lebih mumpuni dari sisi kebaikan dan ketaatan dibanding yang lain. Ini sebagai bukti bahwa mengambil berkah dari orang-orang saleh dan dan dianggap lebih bertakwa memiliki legalitas dalam ajaran Islam, karena para Salaf Saleh (sahabat) telah melakukannya.

Dari kisah di atas juga dapat dipahami bahwa, tidak semua sahabat memiliki kemuliaan yang sama, terdapat perbedaan derajat ketakwaan dan keutamaan di antara mereka. Dan dari nukilan riwayat-riwayat tadi dapat diambil kesimpulan bahwa, hanya orang-orang yang Saleh dan bertakwa saja yang dapat diambil berkahnya, baik diri orang Salah dan Takwa, ataupun doanya, maupun peninggalan-peninggalannya. Adapun orang yang tidak saleh dan takwa, apalagi obyek-obyek yang tidak memiliki kesakralan Ilahi (karena dinisbahkan kepada manusia saleh dan bertakwa, kekasih Ilahi) maka jelas sekali bahwa semua itu diluar dari obyek kajian kita. Seperti obyek-obyek yang dianggap sakral oleh orang-orang kejawen yang ‘konon’ beragama Islam (Islam KTP). Dan teks-teks agama Islam pun akan berlepastangan dari obyek-obyek semacam itu.

Dari riwayat-riwayat juga dapat kita ambil pelajaran untuk menjawab anggapan orang-orang seperti al-Jadi’ -dalam kitabnya yang berjudul “At-Tabarruk; ‘Anwa’uhu wa Ahkamuhu” (Halaman: 261)- dan as-Syatibi -dalam karyanya yang berjudul “al-“I’tisham” (Jilid: 2 Halaman: 9)- dimana keduanya sepakat bahwa; “Tabarruk hanya diperbolehkan kepada diri dan peninggalan Rasul saja”. Hal itu karena mereka beralasan bahwa Rasul tidak pernah memerintahkannya. Selain itu, alasan lainnya adalah; “Tidak ada riwayat yang menjelaskan legalitas prilaku semacam ini (tabarruk kepada pribadi selain Nabi)”. Bahkan as-Syatibi menyatakan bahwa; “Barangsiapa yang melakukan hal itu maka tergolong bid’ah, sebagaimana tidak diperbolehkannya mengawini perempuan lebih dari empat”.

Tentu, riwayat-riwayat di atas membuktikan bahwa para Sahabat telah mengambil berkah kepada sesama sahabat yang dianggap lebih utama dari sisi ketakwaan. Entahlah kenapa al-Jadi’ dan as-Syatibi tidak pernah menemukan riwayat-riwayat semacam itu. Lagi pula, jika bertabarruk kepada sahabat adalah bid’ah, lantas kenapa sahabat Umar telah bertabarruk kepada Abbas? Apakah Umar telah melakukan Bid’ah, karena melakukan satu perbuatan yang Rasul tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya? Beranikah orang semacam as-Syatibi dan al-Jadi’ menvonis sahabat seperti Umar bin Khatab (khalifah kedua) sebagai ahli Bid’ah?

Sekarang yang menjadi masalah adalah, jika tadi telah ditetapkan bahwa selain peninggalan Nabi, peninggalan para Sahabat Nabi pun boleh untuk diambil berkahnya sewaktu masa hidup mereka, lantas bagaimana dengan perkara tadi pasca kematian mereka? Dan yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah; bolehkah kita (kaum muslimin) mengambil berkah dari orang biasa (bukan Nabi dan juga bukan Sahabat Nabi) namun dia tergolong orang Saleh dan bertakwa? Apakah pengambilan berkah dari mereka hanya sebatas sewaktu mereka masih hidup ataukah juga diperbolehkan untuk mengambil berkah dari jenazah (jasad orang yang telah mati) dan kuburan mereka? Untuk menjawab syubhat ini –selain telah kita singgung pada artikel kami pada Tabarruk 6 tentang bahwa para sahabat telah mengambil berkah dari kubur Rasul- dalam postingan selanjutnya akan kita jelaskan akan diperbolehkannya tabarruk semacam ini, dan tabarruk tidak hanya dibatasi pada orang Saleh yang masih hidup saja, bahkan pasca kematiannya pun masih bisa (legal) untuk ditabarruki, tidak seperti sangkaan kaum Wahaby yang dengan tegas menyatakannya sebagai syirik.

[Sastro H]

Bersambung…

17 Tanggapan

  1. mas, kapan ni buatkan file chm-nya? semua dikumpulin buat ebook gitu. ditunggu ya.

  2. Pak Sastro tidak ada hadits shahih yang menyebutkan para sahabat bertabaruk ke kuburan Nabi setelah wafatnya beliau.Ente jangan ngarang-ngarang dengan membawa keterangan keterangan lemah dan palsu.Tabaruk pada Nabi hanya dilakukan ketika beliau masih hidup.Kalau Pak Sastro ingin bertabaruk pada Nabi, baiklah hidupkan lagi saja Nabi Muhammad SAW kalau bisa.

    —————————————————

    Sastro Menjawab:

    Bainaka wa bainallah….Apakah anda sudah mengecek satu persatu hadis-hadis itu atau hanya kerena gak sepaham dengan anda jadi anda seenak kehendak anda akhirnya menyatakan semacam itu? Beranikah anda bersumpah dengan nama Allah -yang menjadi saksi prilaku anda- bahwa anda sudah mengeceknya satu persatu? Silahkan buktikan secara ilmiah -dengan membuka lagi buku-buku yang dibutuhkan seperti buku-buku rijal hadis- bahwa hadis-hadis yang saya sebutkan itu palsu dan lemah. Jika anda memang benar dan terpelajar…

  3. Terus maju mas sastro……biarkan anjing menggonggong….abdullah itu tau apa

  4. Mas Sastro…

    Ane mo nanya neh…

    “Ya Allah, Dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka tutunkan hujan bagi kami. Kemudian turunlah hujan”

    Yang jadi pertanyaan…

    1. dahulu melalui Nabi, kini melalui paman Nabi…. Napa gak langsung aja melalui Nabi ya? Mo dulu kek… mo sekarang kek… Iya gak ya?

    2. Mang waktu itu Paman Nabi (Abbas) masih hidup atau sudah meninggal?…

    Segini aja pertanyaan ane…

    —————————————————–

    Sastro Menjawab:

    Partanyaan bagus mas, tapi dalil itu bukan pada tempatnya…ada dalil yang lebih jelas, nanti akan kami sebutkan…ingat, kajian tawassul / istighotsah kita bukan hanya bertujuan untuk mengcounter paham salah kaum Wahhaby saja, tapi kajian dari hal yang paling fondamental sekalipun…makanya kita mulai dari awal.

    Jadi riwayat tadi menjelaskan bahwa, diperbolehkan tawassul melalui manusia yang dianggap wali, karena di situ ia bukan nabi atau rasul. Yang kedua, Allah membolehkan tawassul semacam ini bukan berarti menafikan sifat ke-Maha Mendengar-an Allah atas setiap doa. Ketiga; Kalau tawassul semacam ini dibolehkan maka dapat menyangkal pendapat kaum Wahhaby bahwa tawassul itu tidak sia-sia, karena mustahil Allah membolehkan hal sia-sia.

    Karena riwayat itu “tidak” menunjukkan kepada legalitas tawassul melalui orang yang telah mati maka menggunakan dalil itu untuk sebagai “bukti pelarangan” adalah perbuatan yang kurang tepat.

  5. Saya sepakat dengan Mas Sastro. Dalil tawassul dengan Abbas tersebut merupakan dalil bahwa boleh bertawassul dengan selain Nabi. Lho apakah dengan Nabi yang “sudah wafat” tidak boleh??. Jelas tidak, buktinya ketika terjadi paceklik di masa Umar, ada seorang sahabat yang bernama Bilal bin Harits yang langsung datang ke kuburan Nabi untuk bertawassul dan beritighatsah…. DAN ITU TIDAK DINGKARI oleh Umar, apalagi pelakunya dikatakan syirik. Nah, sejarah itu beda sekali dengan sikap Wahabis yang norak serta buta akan sejarah umat ini.

  6. janganlah kamu katakan yang berjuang dijalan Allah itu adalah mati.
    janganlah kamu kira yang berjuang di jalan Allah itu mati.

    Kita katakan para Pejuang Allah Mati = TIDAK BOLEH,
    bAHKAN kita Mengira Mereka Mati pun TIDAK BOLEH.

    Apalgi Baginda Rasulullah, Imamnya Para Pejuang Allah, kita mengira baginda Rasulullah Mati saja tidak boleh, tetapi sesungguhnya mereka tetap hidup dalam genggaman Allah.

    Coba lebih kuat mana antara Qur’an atau Hadist????
    Sebaiknya kita lebih menerima Alquran dari pada hadist yang tidak sesuai dengan Al-quran. WAHABI Dasar tidak Mau nurut Al-quran, mereka lebih baik mengagungkan Ulamanya (Ulama mereka tidak pernah Salah/kultus buta) dari pada mengagunkan Allah dan Rasul..

    jika kita umat pencinta Rasul yang sebenarnya, bukankan kita senang dan gembira menerima kabar dari Allah melalui Al-quran bahwa Rasulullah masih tetap hidup dalam genggaman Allah.

    dasar wahabi sukanya menfitnah Allah dan Rasul…

    • QS 3 :185 : Setiap jiwa akan merasakan mati
      QS 21 :35 Tiap tiap jiwa akan merasakan mati…..
      QS 39 :42 Allah memegang jiwa ketika matinya …
      QS 29 :57 Tiap tiap jiwa akan merasakan mati.

      Dalil mana yang lebih kuat dari dalil ini mas sostro ……..sudah jelas tho jadi jangan ngaco deh….

      ——————————————————

      Sastro Menjawab:
      Gak nyambung mas…orang ateis juga tahu bahwa manusia pasti akan mati. Ayat2 itu tdk menjawab dan tdk bertentangan dgn artikel kita…sama sekali

  7. Asalamualaikum,

    Saya senang dengan adanya blog ini. Banyak manfaatnya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

  8. Ohhh….Wahaby,
    Ilmu itu penting…… Belajarlah dengan membaca, Mendengar, merasa, mencium dll lalu kita olah dengan “AKAL” (yang gunung pun tak sanggup menerimanya).
    Jangan cuma dengerin kutbah sheihk/Guru antum aja (yang memang hanya bisa ngajarin orang yang males baca, supaya agak gampang mendokrinnya), buka dalilnya cek kebenarannya, kalo kaga ngerti juga nanya Mas sama guru antum setelah jelas baru dateng kesini nanya dengan bahasa yang lugas dengan Mas Sastro, kalo penjelasan Mas Sastro juga nt tidak paham tanya lagi ke Guru nt dan dari pada bolak balik ke Guru nt……. Bawa aja Guru ente kedepan PC nt dan suruh dia jawab sendiri trus belajar deh dari situ…… Insya Allah ada jalan keluarnya Mas, supaya engga dikatai Bodoh terus di sini.

  9. Hadits Shoheh & Hasan tidak ada yang bertentangan dengan Alquran. Kalau memang ada perbedaan itu hanya ilmu kita yang belum sampai kesitu. Hadits shoheh dan Alquran hukumnya sama. Kita sholat 5 waktu, waktu-waktu sholat, caranya wudhu dan sebagainya tidak ada diatur didalam Alquran yang ada didalam “Hadits”. Sehingga kedudukannya sama.

    Ana tunggu hadits tetang tabaruk/tawasul dari Mas Sastro yang membolehkan tabaruk dengan orang mati, mana ya ? sedang dari mas shalafsholeh itu hanya riwayat bukannya hadits, kalau hadits tentu ada sanadnya, perawinya dan siapa yang meriwayatkan ? Sehingga hadits Mazarief itu yang paling tepat sebagai dalil bahwa bertawasul boleh dengan orang soleh yang masih hidup. Wallahu a’lam.

    ———————————————–

    Sastro Menjawab:
    Ada riwayat dari Salaf Saleh yg menunjukkan pemahaman mereka ttg legalitas hal tersebut…baca yg sdh saya up load.

  10. mudahan orang seperti anda diberi kemudahan taubat oleh Allah, saya sangat sedih melihat kedaan anda sekarang ini, hik,,hik,,hik…

    walaupun dianggap spam tapi sudah dibaca toh…

    dasar goblok….spamm…., dasar goblooooook

  11. Nuwun mas,, setelah lama bingung dengan berbagai kelompok yang aneh aneh dan setelah baca tulisan anda maka sekarang saya benar benar faham bahwa salafy atau yang disebut sebut wahabi memang diatasnya kebenaran.

    ———————————————————–

    Sastro Menjawab:
    Diatasnya kebenaran berarti bukan kebenaran itu sendiri donk?

  12. knpa orag yg mgaku faham salafy,slalu mmbid,ahkan sesat orag”islam yang tdak sefaham dganx mas sastro e?

  13. Pemahamannya bukan sepenuhnya salafus-sholeh mas . Seperti pemahaman imam Ahmad ibn hanbal yg memahami kalo tawasul dg Nabi meski tlah wafat boleh,. Pemahaman imam ahmad ini salah,.(mnurut mreka sih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: